Wednesday, April 01, 2009

Gelar Baksos, Mega Puji Said

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri memuji kadernya, MH Said Abdullah. Rupanya, Mega tidak hanya mendengar Said aktif di kegiatan sosial, tapi kemarin dia merasa menyaksikannya sendiri.

Mega menyampaikan hal itu saat menghadiri bakti sosial (baksos) yang digelar SAI (Said Abdullah Institute), SAY (Said Abdullah Yes), PDIP bersama PMI di markas Pontrend SAY Jl Halim Perdana Kusuma Sumenep.

Selan itu, Mega datang ke Sumenep untuk memberikan dukungan kepada kader PDIP maupun warga secara umum. Dia mengatakan, SAI, SAY, dan PDIP telah memberi ruang kebersamaan dalam bentuk bakti sosial. Dia berharap warga bisa berinteraksi untuk kepentingan bersama pula.

Mega juga menyinggung soal Jembatan Suramadu. Dia yakin Suramadu akan memberi manfaat kepada masyarakat Madura. Saat menjadi presiden, dia ikut andil dan turut serta dalam pemancangan tiang Jembatan Suramadu.

Hanya, menurut dia, belakangan proses penyelesaian jembatan agak lamban. Seharusnya, Suramadu bisa lebih cepat selesai dan dioperasikan. "Betapapun, Madura masih terus memerlukan percepatan pembangunan," ujarnya.

Sebelumnya, MH Said Abdullah menyampaikan laporan. Caleg DPR RI nomor urut 1 dapil XI Madura ini mewajibkan caleg PDIP mendonorkan darahnya. Alasannya, warga Madura masih kekurangan darah untuk warga lainnya yang memerlukan.

Menurut dia, nasionalis sejati harus bisa memberi manfaat kepada sesamanya. Karena itu, dia menilai donor dan sunatan masal terlalu kecil dibanding kegiatan lain yang lebih besar. "Dengan bakti sosial ini, mudah-mudahan di antara kita semakin bermakna," harapnya.

Said memaparkan, berdasarkan data, jumlah anak yang disunat gratis 600-an anak. Sebagian besar dari Kabupaten Sumenep dan lainnya berasal dari ujung timur Pamekasan yang berbatasan dengan Sumenep.

Sedangkan pendonor darah dari kader PDIP dan masyarakat umum. "Selain bakti sosial, kami juga mengawal padi MSP (Mari Sejahterakan Petani)," katanya.

Said berterima kasih kepada Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarno Putri yang meluangkan waktu hadir di baksos. Meski sibuk dengan berbagai acara menjelang pemilu, tetapi mega hadir di tengah bakti sosial. "Terima kasih Ibu (Megawati), terima kasih Mbak Rini (Rini Suwandi, mantan Menperindag)," ujarnya.

Acara Baksos juga dimeriahkan kelompok musik pecah-belah (Lentera STKIP) dan Ul-Daul. Tampak hadir Ketua DPC PDIP Sumenep Hunain Santoso, caleg PDIP untuk DPRD Jatim Moh. Imam, dan caleg lainnya dari PDIP di seluruh Madura. (abe/advertorial)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 01 April 2009

Labels: , , ,

Friday, February 13, 2009

Said: Petani Butuh Bibit MSP

MH Said Abdullah menilai sejumlah petani Madura memerlukan bibit padi alternatif. Alasannya, selama ini petani menanam bibit yang kurang efektif. Bibit padi itu menghasilkan kurang dari 1 ton per hektare. Sedangkan bibit MSP (Mari Sejahterakan Petani) bisa menghasilkan 12 hingga 14 ton per hektare.

Berdasar data di pusat data SAI (Said Abdullah Institute), bibit padi lain memerlukan waktu 120 hari, dari menyemai hingga panen. Sedangkan bibit MSP hanya butuh waktu 100 hingga 105 hari. Keunggulan bibit padi MSP juga terletak pada pembibitan selama 14 hari.

Bibit MSP ditanam di empat kabupaten di Madura. Di Bangkalan mencapai 10 hektare, Sampang 25 hektare, Pamekasan 50 hektare, dan Sumenep 315 hektare. Di Madura, sebagian petani menyebut MSP sebagai bibit lokal unggul Mega.

Tokoh di balik penyebaran bibit padi MSP di Madura, MH Said Abdullah mengatakan, MSP jenis varietas alternatif. Selain inovasi baru, MSP merupakan bibit lokal yang pada tahun - tahun sebelumnya belum dicoba petani.

Dalam musim padi akhir tahun lalu, menurut anggota DPR RI asal PDI Perjuangan ini, petani di empat kabupaten tersebut menggunakan bibit MSP. Dalam usia 90 hari, petani bisa menyaksikan hasilnya yang lebih efektif, efisien, dan kaya beras.

Sebagai tanaman, bibit MSP memerlukan pemupukan, air, dan perawatan lainnya. Selama pembibitan 14 hari, petani harus benar - benar mengikuti anjuran. Sebab, tim MSP tidak hanya memberikan bibit kepada petani, juga menyerahkan modul pemeliharaan dan perawatan MSP.

Petani yang mengikuti tatacara penanaman padi sesuai petunjuk MSP akan menuai hasil banyak sekitar 14 ton per hektare. "Kalau hasilnya kurang dari 14 ton, bisa saja tatacara menanamnya menggunakan pola lama," kata Said yang juga caleg DPR RI dari dapil XI (Madura) ini.

Untuk kawasan Sumenep, padi MSP tersebar di Kecamatan Ganding, Lenteng, Dasuk, Manding, Batu Putih, Rubaru, Pasongsongan, dan Kota Sumenep. Total produksi mencapai 315 hektare dengan hasil panen rata - rata 14 ton per hektare.

Di Pamekasan, hasil panen rata - rata 12 ton per hekatre. Sampang dan Bangkalan berada di kisaran 10 hingga 12 ton per hektare.

Setiap hektare petani memerlukan 5 kg hingga 6 kg bibit. Karena yang memopulerkan bibit MSP ini PDI Perjuangan, sebagian petani menyebut MSP dengan Mega Sejahterakan Petani. "Setuju - setuju saja (dengan sebutan Mega Sejahterakan Petani)," kata Said.

Saat berdialog dengan KTNA (kontak tani nelayan andalan), Ketua KTNA Sampang Abd. Muhyi mengajak Said Abdullah terjun langsung ke areal padi berbibit MSP di Desa Beruh, Kecamatan Kota Sampang. Saat itu Muhyi memerlihatkan hasil bibit padi MSP. Menurut dia, bibit padi MSP tidak rewel dan mudah dipelihara.

Selain itu, dia mengakui hasil panen lebih banyak dibanding menggunakan bibit padi lain. Dia bangga karena sosialisasi MSP disertai pemberian bibit, modul cara menanam padi, pelatihan, dan pemberdayaan petani. "Ini hasilnya, jauh lebih unggul kan?" kata Muhyi. (abe/mat/adv)

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 13 Februari 2009

Labels: , , , , ,