Thursday, April 05, 2007

Kebudayaan Madura dan Globalisasi

oleh: MH SAID ABDULLAH


Kegelisahaan utama berbagai kelompok masyarakat di belahan dunia mana pun adalah bagaimana mempertahankan identitas jati dirinya. Bagaiaamana suatu suku bangsa memelihara dan menjaga kelestarian nilai-nilai adiluhung yang diwariskan sehingga identitas tetap eksis di antara suku bangsa lain.


Persoalan-persoalan seperti itulah yang menantang saya ketika merenungkan kebudayaan Madura. Masyarakat Madura ada di mana-mana di negara ini. Bahkan di manca negara dengan tampilan dan gaya yang khas. Tapi satu hal yang mencemaskan adalah label kekerasan yang melekat dalam diri orang Madura.


Kegelisahan tersebut mendorong penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Madura (KKM) yang digelar di kota Sumenep, 09-11 Maret 2007 lalu. Ini merupakan diskusi yang secara spesifik menyoroti kebudayaan Madura. Selain menggelar berbagai kesenian khas Madura, kongres juga para budayawan dan pengamat Madura dalam dan luar negeri. Selama berlangsungnya kongres, problem yang menjadi sorotan utama adalah bagaimana merevitalisasi nilai-nilai adiluhung kebudayaan Madura, supaya menghapus citra negatif masyarakat Madura yang terbangun selama ini.


Tantangan kultural tersebut semakin krusial seiring dengan menguatkan arus globalisasi. Globalisasi merupakan suatu proses mempersatukan manusia sejagat. Kini dunia menjadi semacam global village, desa dunia. Jarak antara satu tempat dengan tempat lain diperpendek dengan teknologi informasi. Dunia terasa semaakin sempit. Hampir tidak ada lagi bagian dunia yang hidup terpencil.


Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat dunia seakan tanpa batas. Pesatnya penggunaan internet memungkinkan kita berkomunikasi dengan siapa saja tanpa batasan tempat dan waktu. Infrastruktur komunikasi yang semakin modern memungkinkan kita berhalo-halo secara leluasa. Aneka kegiatan manusia di berbagai pelosok dunia sudah bisa diketahui terang benderang hanya dengan duduk manis dengan duduk di depan TV, membuka internet, mendengar radio, dan berhalo-halo lewat telepon.


Arus globalisasi mebuat pintu rumah dan jendela hati kita terbuka lebar-lebar bagi orang lain, terlepas dari Anda menghendakinya atau tidak. Proses saling mempengaruhi antar budaya tidak terelakkan lagi. Dalam kondisi ini tidak relevan lagi klain eksklusivitas kultural. Semua kebudayaan dunia menjadi milik bersama. Terjadi proses seleksi alamiah terhadap unsur-unsur kebudayaan yang ada.


Barometer kebudayaan adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi serta kemakmuran sosial dan ekonomi. Yang tidak sepadan dengan tren kebudayaan global akan ditinggalkan masyarakat pendukungnya. Konsekuensinya, banyak nilai tradisional yang tergusur.


Dampak yang paling mengkhawatirkan dari arus globalisasi adalah terhadap agama dan tatanan nilai lainnya dalam masyarakat Madura. Kehidupan agama pada zaman ini mau tidak mau memang akan terus ditantang. Dunia di luar dia adalah dunia persaingan. Karena itu, orang mencari perlindungan pada agama dan kedamaian pada agama.


Tetapi ironisnya, orang sering menjauhkan diri dari upacara-upacara yang dirasakan membosankan dan terlalu lama. Dalam sikap beragama orang ingin cenderung serba cepat, efisien, dan efektif, tetapi menyentuh pribadi.


Di tengah kencangnya arus globalisasi terdapat juga upaya untuk membentuk kelompok kecil dengan basis identitas primordial. Orang merasa lebih dekat pada rasa kesukuan, keagamaan, atau kebudayaan tertentu. Orang mengelompokkan diri berdasarkan kesamaan darah (kesukuan) dan sejarah. Semangat membesar-besarkan kebudayaan sendiri menguat dalam kelompok ini. Mereka merasa kebudayaannya superior, lebih baik dan lebih unggul, sementara kebudayaan bangsa lain diabaikan dan diremehkan. Tidak ada lagi penghargaan terhadap kelompok lain. Tidak ada solidaritas antar kelompok yang berbeda. Semangat tersebut, gilirannya, menyulut orang-orang melakukan kekerasan, berperang atas nama suku maupun agama.


Beragam Kultur
Negera Kesatuan Republik Indonesia dibangun di ata keserbaragaman kultural. Sebagai suatu negara bangsa, kita sepakat membangun suatu identitas sosial bersama, yang ditetapkan oleh para pendiri bangsa yaitu Pancasila. Namun, Pancasila tidak menegasi eksistensi kebudayaan-kebudayaan lokal. Mereka justru menjadi pilar-pilar utama yang menopang Pancasila. Sebab, Pancasila menjadi tidak lengkap tanpa kebudayaan suku Madura, Jawa, Sunda, Dayak, Irian, Flores, Ambon, dan sebagainya. Sebaliknya, tanpa Pancasila keberadaan kebudayaan-kebudayaan lokal tidak mempunyai arti apa-apa. Jadi, keduanya saling mendukung dan menyempurnakan.


Semangat yang dibangun lewat Kongres Kebudayaan Madura ini adalah Madura untuk Indonesia. Sebab, tidak mungkin ada Madura tanpa Indonesia. Tanpa kebudayaan Madura kebudayaan Indonesia tidak lengkap.


Saya selalu menyebut Madura sebagai taman sarinya Indonesia. Kalau banyak daerah di Indonesia terkoyak-koyak oleh konflik berbau suku, agama, ras, maupun antar golongan, di tanah Madura kehidupan warganya aman-aman saja. Padahal, masyarakat yang tinggal di Madura berasal dari berbagai suku, agama, dan ras. Anehnya, masyarakat Madura yang sangat mencekam, yakni kekerasan. Mungkin hanya karena keterlibatan segelintir warga keturunan Madura di perantauan. Tantangan kultural yang mengemuka dalam Kongres Kebudayaan Madura kali ini adalah merevitalisasikan nilai-nilai kebudayaan Madura yang adiluhung dengan memperbaiki masyarakat Madura.


Di bawah tekanan kekuatan kebudayaan global yang sudah menjalar ke dalam kehidupan sosial sebagian besar masyarakat Indonesia, kita perlu membangun idealisme baru. Tata kehidupan masyarakat yang terlalu dikuasai oleh ekonomi, yang lebih pragmatis dan mementingkan keuntungan, perlu diimbangi dengan upaya membangun semangat dan rasa solider antar warga masyarakat sebangsa dan setanah air maupun sedunia.


Dalam rasa solider itu, perbedaan kultural itu tetap dipertahankan. Namun kita tidak boleh terikat rasa kesukuan, keagamaan atau kebudayaan tertentu. Marilah kita menyerap kebudayaan global tanpa meninggalkan nilai-nilai adiluhung yang diwariskan leluhur kita. Tugas kita adalah memberikan perspektif baru pada nilai-nilai tradisional agar tetap relevan dengan dinamika hidup manusia masa depan.


Penulis adalah Wakil Ketua Komisi VIII DPR, anggota DPR Dapil X Madura


Sumber: Surabaya Post