Tuesday, March 27, 2007

Penduduk Miskin Bangkalan Capai 365.951 Jiwa

Jumlahnya 39 Persen Penduduk, Terapkan 5 Strategi


Kemiskinan di Bangkalan salah satu masalah pokok dalam pembangunan daerah yang harus ditangani. Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS), penduduk miskin di Bangkalan tahun 2006 sebanyak 93.356 KK atau 365.951 jiwa. Jumlah tersebut diperkirakan 39 persen dari jumlah penduduk keseluruhan.


KABID Sosbud Bappeda Bangkalan H Harsono mengatakan, tingginya angka penduduk miskin menjadi cambuk pemkab untuk menyelesaikannya secara komprehensif. Tentu dengan melibatkan seluruh stakeholder untuk mencari solusi bagaimana upaya menanggulanginya.


Menurut dia, berbagai upaya pemkab telah dilakukan untuk menanggulangi kemiskinan. Sesuai sasaran pokok pembangunan Indonesia periode 2004-2009 adalah menurunkan angka penduduk miskin. "Angka 16,7 persen pada tahun 2004 diupayakan turun menjadi 8,2 persen pada tahun 2009," ujar Harsono.


Untuk mengatasi problem kemiskinan, dirumuskan 5 strategi utama. Yakni, strategi perluasan kesempatan, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas, perlindungan sosial, dan kemitraan.


Dalam mencapai tujuan tersebut, pemkab menempuh beberapa langkah penting dalam penanggulangan kemiskinan. Seperti bantuan padat karya. Pada tahun 2006, pemkab mengalokasikan dana sebesar Rp 5 miliar untuk program padat karya. Sedangkan lokasi ditetapkan sebanyak 100 desa di 18 kecamatan.


Di bidang usaha kecil menengah, perkembangan menunjukkan peningkatan cukup berarti. Jumlah UKM meningkat sebesar 60 persen dari tahun 2005 (739 UKM) naik menjadi 1183 UKM di tahun 2006.


"Pada tahun 2006 pemkab memberikan dukungan dalam rangka penguatan dan pengembangan UKM dengan mengalokasikan dana sebesar Rp 1,586 miliar," kata Harsono saat pertemuan multistakeholder yang digelar LSM Madura Mandiri bekerjasama dengan pemkab di aula kantor bappeda, kemarin.


Hadir sebagai pembicara Ketua LSM Madura Mandiri, Ir Mondir Rofii, akademisi Ir Azis Jakfar M.Tmi, perwakilan ponpes Drs Muad Makki. Kegiatan itu diikuti perwakilan stakeholder se Bangkalan.


Harsono menjelaskan, di sisi peningkatan pendapatan, pemkab melakukan penguatan pasar untuk membangkitkan minat investor dalam menanamkan modalnya. Harapannya langkah tersebut mampu menggiatkan perekonomian daerah.


Untuk strategi daerah pembangunan daerah tertinggal (STRADA-PDT) yang dilakukan pemerintah kabupaten secara umum bertujuan memberdayakan masyarakat terbelakang agar terpenuhi hak dasarnya. Sehingga mampu menjalankan aktivitas untuk berperan aktif dalam pembangunan. Hingga ditetapkan 6 kecamatan, yaitu Blega, Kokop, Konang, Gegger, Tragah, dan Modung sebagai lokasi sasaran yang secara umum kondisi masyarakatnya belum tersentuh program-program pembangunan.


Realitas kondisi di 6 kecamatan tersebut, rata-rata menunjukkan jumlah keluarga miskin mencapai 42 persen dari jumlah total KK yang ada. Mayoritas mata pencarian mereka adalah pertanian tanaman pangan, mayoritas tingkat pendidikan belum tamat SD, mayoritas pelayanan kesehatan posyandu, dan mayoritas prasarana jalan dalam tanah.


Upaya pemkab melalui STRADA PDT lebih diarahkan pada penyediaan pelayanan dasar dan infrastruktur. Sehingga diharapkan akan dapat menyelesaikan persoalan yang berkembang.


Nah, untuk mengurangi beban hidup penduduk miskin, langkah konkretnya dengan memberikan dana kompensasi BBM secara langsung. Dalam hal ini, peran pemkab adalah memfasilitasi pelaksanaan pemberian bantuan langsung tunai (BLT) kepada 93.294 keluarga miskin.


Penguatan kelembagaan dengan pembentukan tim koordinasi dan penanggulangan kemiskinan daerah (TKPKD). Pembentukan TKPKD didasarkan PP Nomor 54 tahun 2005 dan ditindaklanjuti SE Mendagri Nomor 412.6/3189/SJ dan Surat Menteri Koordinasi Bidang Kesejahteraan Rakyat yang akhirnya dituangkan dalam Keputusan Bupati Bangkalan Nomor : 188.45/Kpts/433.013/2007 tanggal Maret 2007 tentang TKPKD.


"Kesimpulan yang bisa kita tarik adalah, penanggulangan kemiskinan di Bangkalan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemkab semata. Namun keterlibatan masyarakat, LSM, dan komponen pembangunan lainnya," pungkas Harsono. (TAUFIQURRAHMAN)


Sumber: Jawa Pos, Rabu, 21 Mar 2007

Tahun 2013 Pertumbuhan Ekonomi 16,27 Persen

Prediksi Pekembangan Ekonomi Madura Pasca Suramadu


Prospek Madura ke depan diproyeksikan sebagai pusat industri dan pelabuhan yang akan menopang Surabaya. Hal tersebut akan berakibat pada perubahan struktur ekonomi Madura dari agraris menjadi industri.


"Jika Suramadu selesai 2008, diprediksi perkembangan ekonomi Madura pada puncaknya terjadi pada tahun 2013 dengan angka 16,27 persen," kata Ir Aziz Jakfar M.Tmi, dosen Fakultas Teknik Universitas Trunojoyo ketika menjadi narasumber seminar sehari dengan tema Peran Pemuda di Era Industrialisasi Madura, Senin kemarin yang digelar pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Inonesia Sekolah Tinggi Islam Al-Ibrohimy (PK PMII STITAL), Kecamatan Galis.


Selain Azis, juga hadir 2 narasumber lain. Yakni, Moh. Tojjib (Pemred Radar Madura) dan Badrus Syamsi (direktur Leksdam). Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan pelantikan pengurus komisariat PMII STITAL periode 2007-2008.


Azis menjelaskan, ekonomi Madura jika ditinjau dari PDRB pada, tahun 2008 telah meningkat 3,4 kali lipat dari tahun 2000 dengan rata-rata pertumbuhan hampir 7,5 persen. Yang tak kalah pentingnya, dari format percepatan pembangunan Madura dalam konteks industrialisasi adalah aspek tenaga kerja.


Menurut Azis, jika diasumsikan setiap kenaikan pertumbuhan 1 persen akan terjadi penyerapan tenaga kerja sebesar 0,05 persen dari total angka tenaga kerja yang tersedia. Persoalannya, banyak hasil kajian menunjukkan bahwa tenaga kerja lokal tidak banyak terserap di dalam industri. "Inilah yang menjadi tantangan yang harus dihadapi semua stakeholder Madura," ingatnya.


Ditinjau dari pengelolaan kawasan industri, setiap 100 hektare lahan yang dipakai untuk kawasan industri, akan terjadi penyerapan tenaga kerja 10 ribu orang. Nah, jika Suramadu selesai, diperkirakan akan terjadi penyerapan tenaga kerja 120-150 ribu orang. Sehingga, harus disiapkan 1200-1500 hektare lahan yang dibutuhkan.


Karena itu, jembatan Suramadu yang dibangun, diharapkan tidak hanya untuk lalulintas penyeberangan saja. Tapi diharapkan dapat membuat Madura bisa berkembang di sektor pembangunan maupun perekonomian. Dan, infrastruktur di Madura harus dilengkapi dan pembenahan harus dilakukan.


Sementara itu, Moh. Tojjib mengatakan, peran pemuda dan mahassiswa di era industrialisasi sangat penting. "Sejak bergulir rencana pembangunan Suramadu dengan Kepres Nomor 50 Tahun 1990, mahasiswa (Imaba) dan pemuda telah mengawalnya. Peran ini maish sangat urgent untuk mengantarkan industrialisasi Madura seperti yang diinginkan," terangnya.


Sedangkan Badrus Syamsi memaparkan, industri yang dikembangkan di Madura harus sesuai dengan kultur masyarakat Madura yang religius. Sebab, etika religius memungkinkan untuk menjadi sumber nilai bagi suatu masyarakat industri.


Sekadar diketahui, acara ini dihadir siswa SLTA, OKP, dan organisasi kemahasiswaan se Bangkalan. Diantaranya Badan Eksekutif Mahasiswa, pengurus cabang-komisariat pergerakan PMII se Bangkalan serta IPNU dengan jumlah peserta yang hadir sekitar 150 orang. "Pengurus Komisariat PMII STITAL sebagai elemen kepemudaan, selalu berkomitmen mengawal pembangunan (industrialisasi, Red) Madura pasca jembatan Suramadu. Dan mengantarkanya sampai pintu kesejahteraan bagi masyarakat Madura dengan tetap berprinsip pada peran pemuda yang proporsional," kata Masykur Hasyim, ketua Umum PK PMII STITAL. (tra)


Sumber: Jawa Pos, Rabu, 21 Mar 2007

Awasi Pertumbuhan Ekonomi

Duduk di komisi yang memiliki tugas "memelototi" dunia ekonomi riil di Kabupaten Bangkalan, bagi Ketua Komisi B DPRD Bangkalan H Abdul Kadir Rofi’i SH merupakan tugas dan amanah yang cukup berat. Sebab, komisinya harus konsisten mengawasi pertumbuhan ekonomi di masyarakat. Baik kinerja pelaku ekonomi maupun perputaran kegiatan perekonomian masyarakat untuk dievaluasi di akhir tahun, apakah ada peningkatan ataukah penurunan. Sementara APBD sendiri memiliki keterbatasan.


Dia pun mengaku bersyukur. Sejak 5 tahun terakhir ini, terjadi kenaikan atau pertumbuhan pendapatan asli daerah sendiri (PADS). Sejak otonomi daerah mulai digerakkan, kala itu Bangkalan hanya memiliki PADS sebesar Rp 2 miliar. Tapi kini menjadi hampir Rp 25 miliar. Sungguh kenaikan PADS yang sangat besar dan cepat untuk wilayah setingkat Kabupaten Bangkalan.


"Ini suatu prestasi yang cukup besar bagi daerah kita. Sebab, dengan peningkatan PADS yang besar ini, kita akhirnya mampu untuk melakukan pembangunan di semua sector. Meski tidak semuanya terkaver, tetapi bisa dilaksanakan secara bertahap," terang pria yang akrab disapa Ra Kadir ini.


Bukti dari hasil pembangunan peningkatan perekonomian ini, lanjut adik kandung Ketua DPRD Bangkalan H M. Syafik A. Rofii ini, terbangunnya berbagai fasilitas penunjang kegiatan perekonomian masyarakat atau dunia usaha. Diantaranya adalah pembangunan Pasar Bancaran, pembangunan pasar induk, pembangunan jalan-jalan akses perekonomian masyarakat terakit angkutan hasil bumi, maupun usaha produksi yang dihasilkan oleh masyarakat desa ke pusat-pusat penjualan.


"Aktifitas lain yang juga mendukung peningkatan kegiatan perekonomian masyarakat, diantaranya adalah adanya program-program pemberdayaan perekonomian. Kemudian penataan pedagang di pasar-pasar, dan sebagainya," terang suami Wardah ini.


Soal kinerja pemerintah daerah (eksekutif), menurut dia, sejauh ini cukup bagus dan terukur pemrogramannya. Sehingga tidak terlalu memberatkan bagi penganggaran sektor yang lain. "Ketika saya melakukan cek ke lapangan untuk mengetahui apakah program yang dibuat eksekutif itu berjalan sesuai yang kita harapkan, ternyata nyata hasilnya. Artinya, aktifitas itu benar dilakukan di tingkat pelaksanaannya, sehingga betul-betul membantu masyarakat," kata ayah 3 orang anak ini.


Untuk masa yang akan datang, komisi B, kata pria yang juga anggota panitia anggaran dewan ini, konsentrasi pada penyiapan lahan untuk industri. Sekaligus membuat program perlindungan pada lahan-lahan produktif di sektor pertanian dan perkebunan milik masyarakat, agar tidak tergerus dengan masuknya industrialisasi dengan selesainya jembatan Suramadu.


Ini penting. Mengingat, bila industri masuk, maka bukan tidak mungkin akan berkembang pesat, sehingga lahan pertanian dan perkebunan yang ada bisa hilang.


"Kita sarankan kepada eksekutif menyiapkan lahan industri tersendiri. Juga perlindungan lahan pertanian dan perkebunan, sehingga perekonomian masyarakat berjalan seimbang antara industri dan nonindustri," terang mantan aktifis IPNU dan Ansor yang juga pernah mengenyam pendidikan di Ponpes Sidogiri Situbondo ini. (rusli djunaidi)


Sumber: Jawa Pos, Minggu, 18 Mar 2007

Membangun Sukma Madura

Catatan dari Kongres Kebudayaan Madura

Upaya orang-orang Madura menghapus stereotipe negatif yang sudah terlanjur melekat di benak banyak orang, seperti berjuang dalam sepi karena rendahnya dukungan masyarakat pendukungnya.

Suatu senja jelang pertengahan Maret 2007 di kota Sumenep, Madura. Tanah lapang berlapis rumput nan hijau yang cukup terrawat di halaman Hotel Utami basah kuyup. Genangan air hujan masih membekas. Sepasang penari berparas cantik berarak menuju panggung dengan kaki berjinjit. Tungkal mulus para penari kecipratan lumpur. Namun, mereka harus melupakannya karena hentakan musik sronen dari grup Kabut Hitam asal Pamekasan langsung mengajak mereka membawakan Ul Daul.

Oleh ALEX MARTEN

Tarian tersebut sekaligus menjadi pembuka Kongres Kebudayaan Madura (KKM) pertama yang berlangsung di kota Sumenep, 09-11 Maret 2007 lalu.

Kebudayaan Madura, sebagaimana kebudayaan masyarakat lainnya di Indonesia, unik. Kongres ini menampilkan beragam kekayaan kultural masyarakat Madura dari empat kabupaten, yaitu Sampang, Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep. Mien A. Rifai mencatat beragam kekhasan kultural mau pun karakteristik manusia Madura. Etnis Madura, kata ilmuwan LIPI ini, termasuk suku bangsa yang tahan banting.

Mereka mampu beradaptasi dan memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan. Orang-orang Madura dikenal ulet. Riset majalah Tempo pada tahun 1980-an pernah menempatkan suku Madura dalam lima besar suku yang paling sukses di Indonesia.

Orang-orang Madura di tanah rantau adalah saksi hidup dari semangat itu. Mereka berani melakukan pekerjaan apa saja demi hidup. Namun, dibalik kegigihan itu, masyarakat dari pulau garam ini memiliki rasa humor yang khas.

Karakter lain yang lekat dalam diri orang-orang Madura adalah perilaku yang selalu apa adanya dalam bertindak. Suara yang tegas dan ucapan yang jujur kiranya merupakan salah satu bentuk keseharian yang bisa kita rasakan jika berkumpul dengan orang Madura.

Sosok yang berpendirian teguh merupakan bentuk lain dari kepribadian umum yang dimiliki suku Madura. Mereka sangat berpegang pada falsafah yang diyakininya. Apa pun mereka lakukan untuk mempertahankan harga diri.

Masyarakat Madura sangat taat beragama. Selain ikatan kekerabatan, agama menjadi unsur penting sebagai penanda identitas etnik suku ini. Bagi orang Madura, agama Islam seakan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari jati dirinya. Akibatnya, jika ada warga Madura yang memeluk agama lain selain Islam, identitas kemaduraannya bisa hilang sama sekali. Lingkungan sosialnya 'akan menolak', dan orang yang bersangkutan bisa terasing dari akar Maduranya.

Hebatnya, meminjam ungkapan MH Said Abdullah, pendiri Said Abdullah Institute (SAI) yang juga menjadi sponsor acara Kongres Kebudayaan Madura ini, di luar urusan perkawinan, masyarakat Madura sangat terbuka dan menghargai perbedaan identitas keagamaan. Perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk menjalin kerja sama dengan orang lain.

"Tidak pernah ada pembakaran tempat ibadah di Madura hanya karena perbedaan keyakinan agama, kecuali karena konflik politik," ujar tokoh Madura asal Sumenep ini.

Korban Stigmatisasi

Namun di luar nilai-nilai positif yang konstruktif tersebut – mengutip pidato kebudayaan Said Abdullah - terdapat sebuah stigma yang mendera suku Madura sejak lama.

"Terdapat sebuah stigma sosial yang sudah lama dipergunakan 'orang luar' untuk mengidentifikasi masyarakat Madura hingga kini, yaitu keterbelakangan dan kekerasan. Dua label yang belum tentu benar itu selalu muncul ketika orang-orang berbicara tentang Madura dan masyarakatnya," kata Said yang juga penulis buku 'Membangun Masyarakat Multikultural' ini.

Kekasaran seakan-akan menjadi atribut yang melekat dalam jati diri masyarakat Madura. Banyak orang mencitrakan masyarakat dan kebudayaan Madura dengan sikap serba sangar, mudah menggunakan senjata dalam penyelesaian masalah, pendendam dan tidak mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Masyarakat Madura pada dasarnya adalah orang berwatak keras dan bertemperamen tinggi.

Tanpa bermaksud membenar pencitraan itu, sejarawan Kuntowijoyo coba mengaitkannya dengan kondisi alam. Alam Madura memang kurang subur, relatif kering dan gersang. Kondisi ini memaksa masyarakatnya bekerja keras.

Para petani harus berjuang keras untuk mempertahankan hidup. Bahkan demi sejengkal tanah, mereka rela meregang nyawa. Maklum, tanah adalah darah dagingnya petani.

Para nelayan juga harus berani melawan derasnya ombak di lautan. Kondisi tersebut menjadi faktor penyebab mengapa laju pembangunan di sini relatif tertinggal dibandingkan daerah lain, khususnya di wilayah Jawa Timur, dan mendorong sebagian besar warga Madura bermigrasi ke daerah lain sejak puluhan tahun silam.

Ada yang mengaitkan citra kekasaran masyarakat Madura dengan pengalaman masa lalu. Di masa kapitalisme kolonial, masyarakat Madura mengalami proses eksploatasi dan dan dehumanisasi. Perlakuan itu melahirkan perilaku kriminal di tengah masyarakat.

"Ketika itu kewibawaan penguasa menurun, kepercayaan kepada pemegang hukum adat hilang, sehingga muncul berbagai ketidakpastian yang selanjutnya menyebabkan maraknya tindakan sewenang-wenang di masyarakat," tulis sosiolog asal Universita Nijmegen (Belanda) Dr Huub de Jonge yang juga menjadi salah satu pembicara dalam acara kongres ini.

Menurut Huub, kekerasan itu mulai tumbuh sekitar awal abad 19 ketika kaum nningrat dan penguasa dalam kehidupan konsumerisme yang segala pembiayaannya ditanggung rakyat.

Mengutip laporan Brest van Kempen, seorang pejabat pemerintahan kolonial di Bangkalan, Huub menyebut antara tahun 1847-1849 setiap hari terjadi pembunuhan dan mayat-mayat korban selalu dibuang di alun-alun kota. Angka kejahatan terus meningkat dibanding masa-masa sebelumnya.

Kondisi tersebut memicu pengungsian ribuan warga Madura atau menyeberang ke Jawa pada pertengahan abad 19. Mereka ingin menghindari segala bentuk penekanan, penindasan, dan pemerasan. Untuk berjaga-jaga, mereka selalu membawa pisau – satu kebiasaan yang masih bisa ditemukan hingga saat ini.

Sejak itu, orang Madura dan pisau adalah satu, mengutip sebuah artikel di Java Post terbitan Belanda 1922. Jika orang Madura dipermmalukan, dia akan menghunus pisaunya dan seketika itu pula akan menuntut balas atau menunggu kesempatan lain untuk melakukannya.

Meskipun sulit dibantah bahwa kekerasan telah menjadi bagian dari kehidupan orang Madura masa lalu, Edhi Setiawan – salah seorang pemakalah dalam kongres kebudayaan yang disponsori Said Abdullah Institute ini – menampik jika masyarakat Madura diidentikkan dengan kekerasan. Sepanjang perjalanan sejarah suku Madura, kata dia, amat sulit ditemui data-data mengenai tindakan-tidakan seperti perkelahian antar desa/kampung, kekerasan berbau SARA, dan sebagainya terjadi di Madura.

Jenis pekerjaan seperti mengkondisikan mereka mengkondisikan mereka bersikap tegas, berani, dan terkadang berlaku kasar agar tetap eksis. Dalam kasus-kasus tertentu, temperamen orang-orang Madura yang 'serba keras' itu dimanfatkan segelintir orang untuk menekan lawan (premanisme) dalam menyelesaikan masalah.

Kajian yang Jarang

Sayangnya, lanjut Edhi Setiawan, amat jarang kajian akademis mengenai masyarakat Madura di tempat leluhurnya dibandingkan penelitian tentang orang Madura di seberang lautan. Persoalan serupa diakui Dr Huub de Jonge, seorang peneliti Madura dari Universitas Nijmegen (Belanda). Kajian tentang orang-orang Madura di perantauan lebih banyak terkait dengan kekerasan. Padahal di pulau Madura sendiri terdapat hal positif, baik tata nilai, agama, maupun karya-karya seni seperti seni tari, ukiran, musik dan sebagainya. Bahkan, mengutip seorang peneliti luar, Mien A. Rifai mengatakan Madura bukan pulau melainkan benua. Madura memang kecil, tetapi unsur-unsur kebudayaannya sangat kaya.

Mungkin karena kuatnya pencitraan negatif tersebut, sebagian orang-orang Madura di perantauan, terutama kaum terpelajar, merasa malu menunjukkan jati dirinya sebagai orang Madura.

Kebudayaan Madura menghadapi tantangan dahsyat dewasa ini. Tantangan paling utama adalah bagaimana menghapus stereotipe negatif yang sudah terlanjur lengket di benak banyak orang tentang masyarakat Madura yang keras.

Huub de Jonge menyarankan anak-anak kandung Madura sendiri yang memprakarsainya. "Masyarakat Madura seharusnya jangan menanamkan pada diri sendiri sebagai orang keras. Kalau mereka menganggap dirinya keras, orang-orang lain akan melihatnya dan mempercayainya. Sama seperti orang yang setiap hari merasa dirinya bodoh, orang lain pun akan menilainya bodoh. Orang Madura harus berhenti menganggap dirinya orang keras."

Tentu ada orang Madura yang kasar dan keras. Orang seperti itu ada di mana-mana. Mereka tidak mengenal suku, etnis, dan agama. Di sisi lain, penyair Zawawi Imron dan Said Abdullah mengingatkan bahaya dari derasnya arus globalisasi terhadap eksistensi kebudayaan Madura. Bayangkan, dari sekitar 13,5 juta warga Madura saat ini, hanya 3 juta yang tinggal di pulau garam ini, selebihnya mengadu nasib ditanah rantau. (*)

Sumber: Surabaya Post, 18/03/07

Labels: , , ,

Monday, March 19, 2007

Sastra Madura dan Kekerasan

Sastra Madura yang penuh dengan pesan, kesan, kritik dan ajaran-ajaran sempat lenyap dari permukaan , di masa lampau sastra lisan madura sangat diminati oleh masyarakat dari kalangan grass root (rakyat jelata) sampai kalangan elit (kraton), karena dengan sastra tersebut rakyat madura dapat mengeskpresiankan diri, menyampaikan pesan moral, gejolak hati, ajaran agama.

Orang Madura yang terkenal keras menghadapi hidup, maju menentang arus, masih sempat untuk mendendangkan sastra–sastra, dengan kondisi geokrafis yang panas, ombak lautan yang garang, maka sastra-satranya penuh dengan motifasi, pesan ajaran yang ketat.

Oleh Halimi Zuhdy LS

Di antara sastra Madura yang sangat di gemari antara lain, dongeng, lok-olok, syi’ir, tembang, puisi mainan anak-anak. Dungngeng Madura adalah cerita atau kisah yang di ambil dari cerita-cerita rakyat madura, yang mengandung beberapa pesan, dan harapan. Dongeng ini sering di dendangkan dalam pengajian, perkumpulan-perkumpulan. Sehingga hal tersebut di anggap primer dalam menumbuhkan kembangkan tradisi-tradisi yang ada dipulau madura. Dan dongeng tersebut merupakan cermin kehidupan pada masa lampau.

Sedangkan Syi’ir merupakan untaian kata-kata indah, dengan susunan kalimat-kalimat yang terpadu. Biasanya syi’ir ini di baca di pesantren-pesanten, majlis ta’lim, dan walimatul urs. Tembeng tidak jauh berbeda dengan syi’ir, biasanya tembang di baca ketika punya hajat atau akan mengawinkan anaknya, yang di baca oleh dua orang atau lebih sepanjang malam.

Sastra Madura yang akhir-akhir ini, disinyalir semakin melemah karena publik kurang memperhatikan sebagai mana diungkapkan oleh Prof Dr Suripan sadi Hotomo 'Sastra Madura' (modern) telah mati, sebab sastra ini tak lagi mempunyai majalah BM (Berbahasa Madura-Red). Buku-buku BM pun tak laku jual.

Dan, sastra Madura tak lagi mempunyai kader-kader penulis muda, sebab yang muda-muda umumnya menulis dalam bahasa Indonesia. Meskipun demikian dewasa ini sedikit, bahkan dapat dikatakan tidak ada, yang berminat menulis sastra dalam bahasa Madura. Bahkan tokoh-tokoh sastrawan Madura, seperti Abdul Hadi WM, Moh. Fudoli, dan lain-lain lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia.

Sedangkan nama-nama penerjemah sastra Madura yang terkenal seperti SP Sastramihardja, R. Sosrodanoekoesoemo, R. Wongsosewojo kini telah tiada dan belum ada penggantinya. Mungkin hal ini merupakan sebuah proses sastra Madura sedang mengindonesiakan diri. Namun, meskipun demikian sastra Madura tidaklah lenyap dari peredaran tampa menyisakan bekas sedikitpun.

Meskipun ada pendapat modern yang menyatakan bahwa sastra tidak harus menjadi cermin masyarakat, tidak dapat di buat rujukan terhadap fenomena yang berkembang dalam masyarkat tersebut, dan juga sastra bukanlah merupakan gambaran dari kehidupan yang ada pada masyarkat tersebut, namun berbeda dengan sastra Madura yang justru menjadi cermin dari kesanggupan menghadapi kehidupan; alam yang keras, panas yang menyengat, lautan yang garang, dan berbatu cadas, disinilah sastra Madura menjadi cermin kehidupan di samping sikap terhadap Tuhan yang menciptakan alam semesta.

Selama ini orang Madura yang terkenal dengan kekerasaanya, baik watak, sikap, kemauan, berpendapat, dan segala bentuk kekerasan ditujukan pada orang Madura. Sehingga image tentang Madura dihadapan publik buruk dan jauh dari sikap santun dan damai. Sastra Madura dalam hal ini sangat memberikan kesan dan peran , bahwa anggapan publik selama ini tentang kekerasan yang sering diidentikkan dengan jahat, marah, amoral, kasar, tidak bersahabat tidaklah benar.

Kekerasan berbeda dengan keras, keras memang merupakan watak kebanyakan orang Madura, yang memang kondisi kultural dan geografisnya panas, ombak lautan yang garang, gunung-gunung yang terjal, bebatuan yang kokoh, menjadikan watak orang medura keras. Keras dalam hal ini, dalam kemauan, memegang prinsip, aqidah, dan keras terhadap ajaran-ajaran agama. maka sastra-satranya penuh dengan motifasi, pesan ajaran yang ketat, menentang kema’siatan, keras terhadap musuh-musuh yang mencoba menghancurkan aqidahnya. Sastra Madura (syair) , yang kebanyakan lewat pesatren dapat membuktikan bahwa isi dan kandunganya mengadung ajaran yang ketat.

Sosok Zawawi dengan celurit emasnya, mampu mengubah persepsi di hadapan publik bahwa celurit sebagai alat pembunuh menjadi alat yang bermamfaat bagi kehidupan orang Madura, yang memang menjadi ciri khas orang Madura. Yang jelas Sastra Madura mampu meluluhkan hati dan gejolak masyarakat Madura, dan menghilangkan kesan terhadap anggapan-anggapan bahwa orang Madura kasar, jahat dan amoral. Sastra yang selalu diindentikan dengan halus, indah maka demikian juga sastra Madura yang penuh dengan mutiara-mutiara kata, rangkain kalimat yang indah dan penuh dengan nuansa regilius.

Potena mata tak bisa ngoba karep
Biruna ombha’ abarnai kasab
Pangeran mareksane ngolapah ateh
Galinah batoh, tebbellah bhumi tak kobasa
Ngoba ngagalinah Pangeran


Halimi Zuhdi LS, Peneliti sastra, cerpenis dan Mahasiswa Pasca Sarjana PBA UIN Malang, Alumni Fakultas Humaniora Budaya, Jurusan sastra Arab UIN Malang, dan kini Ketua Linguistic and Literature Malang


Sumber: Penulis Lepas, 22/12/2005

Labels: , , , ,

Wednesday, March 14, 2007

Pekerjaan Rumah Pasca Kongres
Kebudayaan Madura

Bawa Amanah 39 Rekomedasi, Gagas Kongres Bahasa Madura


TUNTAS sudah Kongres Kebudayaan Madura. Tapi, bukan berarti perkerjaan sudah tuntas juga. Justru, pasca kongres banyak pekerjaan dan amanah yang mesti dilakukan. Ada 39 rekomendasi yang perlu dintindaklanjuti dari hasil-hasil pembahasan di 4 komisi dalam kongres.


Secara umum, kongres yang berlangsung selama 3 hari ini (9-11 Maret) ini bisa dibilang sukses. Baik gelaran seni dari 4 kabupaten di Madura, juga kongres itu sendiri. Cuaca pun bersahabat. Selama pelaksaan kongres, hujan yang sebelumnya turun di Kota Sumenep, pada saat kongres hujan enggan turun. Jadi, tidak mengganggu jalannya pertemuan para budayawan, seniman, pelaku dan pemerhati budaya, dan eleman lainnya yang hadir dalam kongres.


Beberapa pakar tentang kebudayaan Madura didatangkan untuk berbicara di kongres. Seperti Huub de Jonge, antropolog asal Belanda. Dia sangat respons dengan pelaksanaan kongres dan berada di arena hingga akhir. "Sebagai seorang antropolog, saya tentunya tertarik pada semua kebudayaan tanpa kecuali. Jadi, saya merasa wajar bila tertarik pada budaya Madura," katanya kepada koran ini.


Suku Madura di Indonesia, kata dia, adalah suku ketiga terbesar di Indonesia. Tapi, sayangnya, tulisan atau literatur tentang orang dan budaya Madura itu sangat sedikit. "Saya merasa bisa sangat menikmati berada di tengah-tengah orang Madura (Prenduan, Red) tanpa ada kekhawatiran, kok. Begitu juga dengan istri saya yang ikut selama melakukan penelitian. Jadi, kita akrab dan merasa enjoy berada di Prenduan (1969-1972)," ujarnya.


Ada juga Prof Dr Ir Mien A. Rifai. Peneliti senior LIPI asal Sumenep yang saat kongres me-launching bukunya Manusia Madura ini membeberkan tentang hasil penelitian terhadap orang Madura. Dalam makalahnya dia menyebutkan; sejarah memang membuktikan bahwa kelompok etnis Madura termasuk salah satu suku bangsa Indonesia yang tahan bantingan zaman. Mereka memunyai kemampuan adaptasi dan toleransi yang tinggi terhadap perubahan, keuletan kerja tak tertandingi, dan keteguhan berpegang pada asas falsafah hidup yang diyakininya. Walaupun diberikan dengan nada sinis, selanjutnya diakui juga bahwa orang Madura memiliki keberanian, kepetualangan, kelurusan, kesetiaan, kerajinan, kehematan (yang terkadang mengarah ke kepelitan), keceriaan, dan rasa humor yang khas.


Akan tetapi ditambahkan pula bahwa sekalipun memiliki jiwa wirausaha, mereka jarang mau mengambil risiko yang tidak diperlukan, sehingga sedikit sekali pengusaha Madura yang terdengar jatuh pailit namun kecil pula kemungkinan bagi mereka untuk tumbuh besar sampai menjadi konglomerat. Rata-rata orang Madura lalu dianggap tidak berjiwa pioner yang mau maju di garis terdepan yang belum dirambah orang, sebab mereka sangat percaya pada kemapanan tatanan yang tertib dan teratur rapi.


Sebagai akibat stereotipe yang serba bertentangan tersebut, lalu timbul anggapan bahwa orang Madura tidak mau berprakarsa, berjiwa statis, dan menolak dibawa maju, apalagi berindustri yang sarat pengetahuan, ilmu, dan teknologi, serta rekayasa. Sebagai bukti ditunjukkan bahwa dari dulu penampilan wanda atau fisiognomi Pulau Madura tetap saja seperti sekarang-sangat terbelakang bila dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Timur yang tampak semakin berkembang sesuai dengan kemajuan zaman.


Sementara Dr A. Latief Wiyata mengupas tentang karakter orang Madura yang dibilang keras. Antropolog Madura ini mengawali dengan pertanyaan; Benarkah Orang Madura Keras? Menurut Latief, itu tidak semuanya benar. "Mungkin, perlu diubah bahwa orang Madura yang disebut keras itu menjadi tegas," katanya.


Selain pakar, kongres juga menghadirkan para pelaku dan pemerhati kesenian Madura. Seperti M. Hasan Sastra dengan makalahnya Pesona Kesenian Etnik Madura Di antara Etnik Lainnya. Menurut dia, tak dapat dipungkiri lagi dan mungkin bisa dirasakan bahwa ragam budaya, bahasa serta kesenian yang lapernah lahir di Bumi Madura ini juga mempunyai nilai yang tinggi, spesifik, dan syarat dengan pesona. Seni batik Madura, ragam ukiran-ukiran Madura, serta kesenian rakyat Madura yang bernama kerraban sape bukan lagi dikenal di tanah kelahirannya saja. Tetapi sampai orang mancanegara datang untuk melihat, meneliti, mengoleksi, memakai, atau hanya sekedar memajang di rumah-rumah mereka. Itu bagian karya adiluhung yang syarat dengan pesona yang ada di Madura.


Selain tentang seni-budaya, juga dibahas soal pendidikan dan pesantren. Kongres menghadirkan Prof Syukur Ghazali dan Prof Aminuddin Kasdi. Kedua pakar pendidikan yang memang asli Madura ini mengaku ikut peduli dengan perkembangan pendidikan Madura.


Tak kalah pentingnya adalah masalah pesantren. Sebab, Madura dikenal dengan pesantrenya yang tersebra hampir di seluruh pulau. Mau tidak mau, maka tradisi pesantren banyak mempengaruhi budaya dan prilaku orang Madura. Dalam masalah pesantren ini, kongres menghadirkan KH Muhammad Idris Jauhari. Pengasuh Ponpes Al Amien, Prenduan, Sumenep, ini menyampaikan makalah tentang Pesantren, antara Tadisional dan Modern (Format Pendidikan yang Ideal untuk Masyarakat Madura).


Masalah yang paling menyedot perhatian peserta kongres adalah tetang Bahasa Madura. Karena dianggap sangat penting, maka dalam rekomendasi hasil konres disepakati untuk segera digelar Kongres Bahasa Madura. Kemungkinan, kongres ini akan digelar di Pamekasan.


Setelah berseminar ria, dilanjutkan dengan pembahasan di komisi-komisi. Dari sidang komisi ini, diharapkan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi cerdas untuk ditindaklanjuti pasca kongres. Komisi-komisi yang dibentuk adalah Komisi Manusia dan Budaya Madura; Komisi Pendidikan dan Pesantren; Komisi Kesenian Daerah, dan Komisi Bahasa Madura. Hingga kemudian keluar 39 rekomendasi dari keempat komisi tersebut.


Selain seminar dan diskusi, arena kongres dimeriahkan dengan gelaran seni dari 4 kebupaten di Madura. Juga ada pameran makanan tradisonal, pameran foto, dan pameran keris. Kongres Kebudayaan yang digelar oleh Said Abdullah Institute, Radar Madura, dan Ngadek Sodek Parjuge (NSP) Sumenep yang berakhir kemarin bisa dintindaklanjuti demi kemajuan kebudayaan Madura. (tim)


Sumber: Jawa Pos, Senin, 12 Mar 2007