Thursday, September 06, 2007

Membumikan Religiusitas Pendidikan di Madura

Entitas religius dalam memaknai perjalanan waktu kerap menghadirkan sesuatu yang hampir tak terbaca dalam narasi keislaman kontemporer. Pada bulan Ruwah (Sya’ban), komunitas muslim Madura pasti merayakan Sya’banan, dua pekan sebelum ramadan. Pada malam itu, kaum muslim Madura saling bertamu untuk meminta maaf (asapora) setelah sebelumnya melaksanakan yasinan di langgar-langgar. Sore sebelumnya dilakukan salametan (asya’banan) sebagai kontinuitas salametan suro pada bulan Muharram, arasol bulan Rabiul Akhir dan arejeb pada bulan Rajab.

Oleh: Syarif Hidayat Santoso

Saat ramadhan pun, diselenggarakan pula salametan amal iman dan salametan malem lekoran. Puncaknya, pada salametan tellasan agung (Idul Fitri) dan salametan tellasan ajji (Idul Adha). Tradisi periodik ini unik karena mengintegrasikan aspek kultural, ritual, social, dan pendidikan religiusitas.

Kini, tradisi sya’banan ini menghadapi dua tantangan sekaligus. Pertama, puritanisme Islam yang menghantam langsung sendi tradisi dengan tudingan bid’ah. Kedua, arus modernisasi perkotaaan yang disimbolkan pola pikir individualistis plus pola pemukiman perumahan.

Hadirnya kompleks perumahan modern berefek pada lunturnya keberagamaan agraris khas Madura yang berbasis pada pola pemukiman taneyan lanjang dan kampong meji. Sudah pasti, para penghuni perumahan bukanlah mereka yang tergabung dalam satu kesatuan kerabat sebagaimana terjadi pada taneyan lanjang dan kampong meji yang menghimpun deretan famili satoronan (satu dinasti).

Kaum urban yang beragam latar belakang dan kompleksitas kehidupan kota, ikut meminimalisasi kehidupan kekerabatan yang selama ini berkontribusi menghidupkan tradisi Islam Madura. Masyarakat urban Madura merasa tidak perlu lagi menggelar tradisi asapora apalagi slametan, karena minimnya intensitas kekerabatan antara mereka.

Sejatinya, sya’banan merupakan interpretasi Islam universal dalam bahasa domestik. Sya’banan seakan mengajarkan bahwa narasi langit harus berkompromi dengan narasi biosfer bumi. Tradisi asapora merupakan tubrukan terhadap kesepakatan publik, bahwa meminta maaf hanyalah saat lebaran saja. Tradisi asapora dan salametan pun mengajarkan bahwa kompleksitas ritual hablumminallah tidak akan tergapai tanpa sebuah afirmasi equilibrium kosmologis dengan manusia lainnya. Malam nisyfu sya’ban yang biasanya diamati dari perilaku alam yang hening dan syahdu harus dipadukan dengan stabilitas religiositas sosial.

Berkah sya’ban yang sepenuhnya gaib, disini diinterpretasikan secara manual rasional pada sebuah kesadaran praksis ekologis. Berkah yang bersifat neutral consciousness dibumikan menjadi kebersamaan. Mengikuti Hasan Hanafi (1997), inilah yang disebut kesadaran eidetis. Kesadaran yang dapat menangkap makna teks besar agama yang abstrak menjadi lebih rasional-praksis. Sya’banan secara langsung telah menghantam "literalisme yang tidak dikaryakan" kaum puritan Islam, yang hanya memaknai sya’ban sebatas ritual individualistik.

Memaknai salametan periodik khas Madura pun haruslah dalam kacamata komprehensif. Salametan bagi orang Madura bukan saja peneguhan terhadap tradisi Islamnya, tapi juga terhadap ekosistem lingkungannya. Selama ini, parameter ekonomi sering digunakan dalam melihat tradisi sya’banan sehingga salametan periodik tradisi Madura yang berlangsung minimal delapan kali setahun tersebut dituding sebagai pemborosan semata. Padahal, masyarakat modern pun, memboroskan finansial tanpa sadar justru pada lokasi-lokasi yang tidak "ramah lingkungan" seperti swalayan, plaza, dan pentas glamour "kebajikan sesaat" saat ramadan.

Karenanya diperlukan retransformasi sya’banan bagi masyarakat urban yang banyak meninggalkannya. Tentunya, glamoritas sya’banan bagi masyarakat kota haruslah diseiramakan dengan alam kontekstual mereka yang memandang agama bukan sebagai entitas yang "membebani". Salametan yang "berbelit-belit" sebagaimana tradisi Madura pada umumnya dapat saja dihilangkan dengan pendayagunaan finansial secara gotong-royong.

Substansi sya’banan berpeluang menjadi metanarasi bagi pribumisasi Islam di masa depan yang diyakini bakal berhadapan dengan trend Islam global termasuk Islam puritan. Sya’banan harus capable dalam melahirkan karya-karya pribumi lanjutan yang dapat mengangkat khazanah dan kearifan lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Penulis adalah peneliti muda NU, tinggal di Sumenep.

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 02 Sept 2007