Monday, July 28, 2008

Golput Diprediksi 35 Persen

Putaran Kedua Tim Sukses Lebih Berperan

Di Bangkalan, diprediksi golongan putih (golput) alias tidak mencoblos hanya sekitar 35 persen. perkiraan ini didasarkan atas data rekapitulasi sementara yang dilakukan KPUD Bangkalan dari PPK kecamatan.

Demikian diungkapkan Ketua Pokja Pendataan, Pemungutan dan Penghitungan Suara Pilkada KPUD Bangkalan Ir Taufikurrahman, saat ditanya besarnya golput pada Pilgub Jatim, kemarin. "Prediksi kami, kemungkinan untuk golput sekitar 35 persen atau paling tinggi 40 persen," kata pria yang akrab disapa Taufik ini.

Menurut Taufik, angka golput yang cukup lumayan ini bukan berarti ketidaksuksesan KPUD sebagai pelaksana pilgub. Sebaliknya, menjadi tanggungjawab bersama dari semua elemen masyarakat untuk menyukseskannya. "Kami hanya pelaksana saja," tandasnya.

Dijelaskan, ada beberapa analisa atau dugaan dari tingginya angka golput tersebut, salahsatunya yakni sikap pragmatis masyarakat yang lebih memilih untuk melakukan aktifitas mencari penghidupan daripada datang ke TPS hanya untuk mencoblos.

"Dugaan kedua, mungkin masyarakat tidak begitu mengenal figur yang dicalonkan. Dan kemungkinan lain, bisa saja dari kedekatan emosional. Artinya, dibanding pesta demokrasi pemilihan legislatif dan pemilihan kepala daerah dan wakilnya, mungkin pemilihan gubernur dianggap masyarakat tidak menyentuh langsung pada kepentingan mereka. Tapi ini dugaan saya saja. makanya, kita nanti mempelajari berdasarkan data apa penyebab dari golput ini," paparnya.

Apakah golput pada putaran kedua akan lebih tinggi? "Saya belum bisa memprediksi. Kesuksesan itu tanggungjawab kita bersama. Termasuk para tim sukses pasangan calon. Bagaimana mereka bisa lebih mengenalkan dan mensosialisasikan calon yang diusungnya," kata Taufik.

Sementara itu, hingga pukul 18.00, data perolehan suara pilgub yang di setorkan PPK ke KPUD masih 17 PPK kecamatan. "Tinggal PPK Labang yang masih belum masuk," tandasnya. (rd)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 27 Juli 2008

Saturday, July 19, 2008

Achsan Safari ke Pesantren

Yenny Jadi Jurkam di Pamekasan

Pasangan Achsan (Achmady-Suhartono) memulai kampanye di zona D Madura dari timur. Cagub-cawagub yang diusung PKB ini kemarin safari ke pesantren di Sumenep. Lalu ke Pamekasan menggelar rapat umum yang dihadiri Sekjen DPP PKB Parung Yenny Wahid di Desa Trasak, Kecamatan Larangan.

Dari pagi hingga siang, cagub Achmady silaturahim dengan sejumlah ulama di tiga pesantren di Sumenep. Yakni, Ponpes Aqidah Usymuni Tarate, Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk, dan ponpes Al Uhsan Jaddung, Pragaan.

Di Ponpes Aqidah Usymuni, Ahmady tampil di atas panggung ditemani istrinya, Laliek Mafthuchah. Hadir mendampingi Achmady antara lain Ketua Tim Pemenangan Achsan Jatim H M. Syafik Rofii. Selain itu Ketua Tim Pemenangan Achsan Sumenep KH Unais Ali Hisyam, anggota dewan PKB di DPR RI KH Masduki, anggota DPR Jatim KH Darwies Mazhar, Ketua DPRD Sumenep KH Abuya Busyro Karim, dan mantan anggota DPR RI KH Tsabit Khazin.

Di depan ratusan warga, Achmady meminta dukungan masyarakat agar memilih pasangan Achsan dengan nomor urut 4. Dikatakan, dirinya bersanding dengan Soehartono karena didukung Gus Dur (KH Abdurahman Wahid) dan ulama. Dia mengaku telah berulang kali bertemu dengan Gus Dur dan kalangan nahdliyyin.

Berdasarkan istikharah ulama, katanya, pasangan Achsan merupakan pasangan yang bagus untuk menduduki jabatan gubernur dan wakil gubernur Jatim 2008-20013. "Setelah dikaji, Achsan memang yang terbaik," kata Achmady mengutip pernyataan Gus Dur.

Usai bertatap muka dengan warga di Ponpes Aqidah Usymuni, mantan Bupati Mojokerto bersama rombongan bergerak ke Ponpes Annuqayah Guluk-Guluk. Di sana Achmady bersilaturahim dengan pengasuh ponpes salaf-modern terbesar di Sumenep ini. Seperti, KH Achmad Basyir AS, KH Abd. Basith Bahar, KH A. Mutam Mukhtar, KH Hazmi Basyir, KH Syamli Muqsith, dan beberapa kiai lainnya. Di Annuqayah, Achmady menyempatkan diri salat Jumat di Masjid Jami' Annuqayah.

Selanjutnya, Achmady bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Ponpes Al Ihsan Jaddung, Pragaan. Di pondok ini Achmadi diterima kiai karismatik sekaligus Pengasuh Al Ihsan KH Fauzi Sirran. Kepada Achmady, KH Fauzi Sirran bilang Achsan sebagai pasangan cagub-cawagub yang terbaik. Dalam bahasa Arab, katanya, kata ahsan berarti yang terbaik. Fauzi Sirran bersedia memimpin dan mendoakan pasangan Achsan di hadapan Achmady.

Usai dari Sumenep, Achmady langsung menuju Pamekasan. Pada pukul 15.00 dia bersama Yenny Wahid mengisi rapat umum. Sedangkan cawagub Suhartono tidak tampak.

Saat kampanye, Yenny mengatakan pasangan Achsan satu-satunya cagub-cawagub yang direstui Gus Dur. Dia juga menegaskan Achmady merupakan satu-satunya kader NU tulen.

Menurut dia, Achsan merupakan pasangan yang diyakini mampu membawa Jawa Timur ke depan jauh lebih baik. "PKB Merupakan partai terbesar di Jawa Timur. Jadi, waktunya NU memimpin Jawa Timur," tandasnya. (nam)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 19 Juli 2008

Friday, July 18, 2008

Janji Angkat Potensi Migas di Sumenep

Hari terakhir kampanye cagub-cawagub Khofifah Indar Parawansa dan Mudjiono di Madura kemarin (17/7) dilakukan di Sumenep. Tepatnya di GOR A. Yani. Hadir ribuan warga yang memadati acara kampanye terbuka itu.

Kepada ribuan pendukungnya, Khofifah menyatakan, potensi sumber daya alam (SDA), terutama migas, di Kabupaten Sumenep sangat besar. Namun, SDA tersebut masih perlu pengelolaan yang baik. Jika dipercaya sebagai pemimpin di Jatim dalam pilgub 23 Juli mendatang, dia akan berupaya memaksimalkan potensi migas itu. ''Untuk mengelola migas tersebut, perlu pemimpin yang bersih dan berpihak kepada masyarakat,'' ujarnya.

Dengan demikian, kata dia, hasil yang didapatkan dari migas itu bisa dimanfaatkan untuk masyarakat.

Untuk pembangunan ekonomi Madura pasca-Jembatan Suramadu, menurut dia, Madura akan berhadapan dengan industrialisasi. Karena itu, perlu ada peningkatan sumber daya manusia (SDM) masyarakat Madura, sehingga masyarakat Madura tidak ditinggalkan.

Selain itu, dia mengharapkan orang Madura yang sukses di luar Madura tidak tinggal diam atas pembangunan di daerahnya. ''Minimal ada network (hubungan) untuk ikut membantu masyarakat Madura,'' tegasnya.

Sementara itu, Mudjiono menyempatkan diri mengunjungi Pasar Anom, Kota Sumenep, di Jalan Trunojoyo. Mudjiono yang didampingi istrinya, Nuroniyah, blusukan masuk ke dalam pasar. (zr/jpnn/kum)

Sumber: Jawa Pos, Jum'at, 18 Juli 2008

Tuesday, July 15, 2008

SALAM Bertemu Kiai Lilur

Cagub Soenarjo-cawagub Ali Maschan Musa (SALAM) mengisi agenda kampanye dengan menggelar kampanye di GOR Sultan Abdul Kadirun (SAKA) kemarin. Usai kampanye, SALAM bersilaturrahmi ke beberapa kiai khos di Bangkalan.

Yang spesial, duet SALAM bertemu langsung dengan KH Kholilurrahman, kiai khos yang dikenal dengan sebutan Ra Lilur. Sebelum ke kediaman Ra Lilur, SALAM mengunjungi dan makan siang di kediaman KH Abdullah Schal, pimpinan Ponpes Syachona Kholil Demangan.

Dari Kota Bangkalan, rombongan meluncur ke Desa Banjar, Kecamatan Galis, kediaman Kiai Lilur. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 km ke arah timur pusat kota, rombongan berpisah di pasar Tanah Merah. Hanya sebuah mobil yang membawa pasangan SALAM yang diperbolehkan melanjutkan perjalanan sekitar 2 km ke pelosok desa, ke rumah Kiai Lilur.

Selama sekitar 20 menit Soenarjo dan Ali Maschan melakukan pertemuan tertutup dengan Kiai Lilur. Dikonfirmasi setelah keluar dari kediaman kiai khos itu, Soenarjo mengaku hanya memohon doa terkait majunya dirinya dan Ali Maschan pada pilgub Jatim mendatang. "Alhamdulillah beliau berkenan dan ada waktu menerima kita," katanya.

Soenarjo mengaku dirinya bersama Ali Maschan dibekali sebuah kertas bertuliskan, "Kalau menang jangan sombong, kalu kalah jangan ngresulo, masih banyak karya lain yang menunggu," ujar Soenarjo membacakan pesan dari Kiai Lilur.

Usai dari Kediaman Kiai Lilur, rombongan SALAM balik lagi ke Kota Bangkalan. Pasangan yang diusung Partai Golkar ini melanjutkan safari saliaturrahmi ke KH Zubair Muntashor, pengasuh Ponpes Nurul Kholil Bangkalan.

Sementara saat kampanye di GOR SAKA, Soenarjo memuji karakteristik masyarakat Madura yang berani, ulet, dan tahan banting. Itu, katanya, sebagai modal besar mencapai kesejahteraan. Untuk itu, diperlukan pendidikan disertai ketrampilan untuk lebih mengasah masyarakat Madura.

Sementara cawagub Ali Maschan mengulas tujuh poin yang akan dilakukan SALAM bila terpilih pada pilgub 23 Juli mendatang. Antara lain, masalah penyerapan tenaga kerja, pendidikan, kesejahtreraan petani dan nelayan, dan kesehatan.

Kampanye SALAM menghadirkan Ketua DPR RI yang juga Ketua DPP Partai Golkar Agung Laksono. KH Abdullah Schal juga hadir membacakan doa untuk pasangan SALAM. (ale/mat)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 14 Juli 2008

Tuesday, July 08, 2008

Khofifah, Perempuan Lembut Setangguh Lelaki

Laporan Wartawan Kompas Nina Susilo

KHOFIFAH Indar Parawansa adalah satu-satunya perempuan calon gubernur Jatim. Nomor urutnya juga nomor 1. Dia didampingi Brigjen TNI (Purn) Mudjiono. Kendati lahir dan besar di Surabaya, Khofifah yang meraih sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga pada 1991 ini malah banyak berkiprah di Jakarta.

Pada 1999-2001, Khofifah menjabat Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan/Kepala BKKBN pada kabinet KH Abdurrahman Wahid. Dia juga menjadi anggota DPR sejak tahun 1992.

Suatu hari pada awal Mei lalu, Kompas bersamanya seharian, mengikuti perjalanan calon yang diusung 12 partai politik dalam Koalisi Jatim Bangkit ini. Sebagai perempuan, dia terlihat lembut saat menyapa banyak orang. Tetapi tenaganya bak lelaki, tanpa henti sejak subuh hingga dini hari.

Setelah shalat subuh, aktivitas pagi Khofifah dimulai sekitar jam 06.00. Sepagi itu dia melakukan olahraga. Tangan diayunkan, pinggang diputar ke kanan dan ke kiri. Semua dilakukan masih dengan menggunakan daster batik yang longgar dan menutup tubuh sampai tumit. Penat setelah perjalanan sosialisasi yang sangat padat sehari sebelumnya mulai menghilang.

Pada Senin pagi itu, Khofifah bersama para asistennya merencanakaan perjalanan sosialisasi sebagai calon gubernur Jawa Timur di Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Pembicaraan telepon untuk memastikan kunjungan Khofifah dilakukan baik oleh Khofifah maupun oleh sekretarisnya, Zulfa Nahdiana.

Sebelum memasukkan makanan ke perutnya, Khofifah meminum air kelapa muda yang disiapkan dalam mangkuk. Air kelapa diharapkan membantu mengembalikan kekuatan Khofifah yang mulai turun setelah melakukan perjalanan tanpa henti dari satu pondok pesantren (ponpes) ke ponpes lainnya di Madura.

Hotel bintang sembilan

Sekitar jam 07.00, tuan rumah telah menyiapkan makanan untuk sarapan. Malam itu, Khofifah dan rombongan menginap di rumah salah seorang kiai di Sampang. Sambil bercanda, perempuan kelahiran Surabaya, 19 Mei, 43 tahun lalu ini mengatakan, "Kami selalu menginap di pondok, jadi kami menyebutnya hotel bintang sembilan."

Khofifah dan rombongan yang sudah bersiap pun menyantap nasi dengan lauk tempe goreng, ayam, dan sambal tomat khas Madura. Makan pakai tangan, siapa takut. Khofifah pun menyantap makanan yang disediakan sambil mengobrol santai.

Pukul 08.00, rombongan berangkat ke Asrama Putri Attanwir di Sampang. Sekitar 200 santriwati duduk diam di kursi yang sudah dijajarkan menghadap kursi tempat Khofifah, Nyai Makkiyah As'ad, dan pengasuh pondok.

Untuk mencairkan suasana, Khofifah menceritakan berkah kecerdasan yang diperoleh kedua putranya dari KH Fanan Hasib, pengasuh Ponpes Attanwir. "Kedua anak saya waktu kecil pernah digendong oleh Kiai Fanan," tuturnya.

Dari Ponpes Attanwir, Khofifah dan rombongan sempat mengunjungi KH Fanan Hasib di kediamannya sebelum melanjutkan perjalanan ke Kantor Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Sampang. Nyai Hasyim Muzadi, Nyai Farida Salahuddin Wahid, Nyai Makkiyah, serta Nyai Fawaid As'ad mengawal ke mana pun Khofifah beranjak. Bahkan Nyai Zuairiyah Imam Buchori dari Bangkalan juga menyertai.

Dari Kantor DPW PPP Sampang, rombongan mengunjungi Nyai Karimah di Ponpes Al Furjaniyah, Kecamatan Camplong, Sampang. Sebelum tengah hari, Khofifah dan rombongan tiba di Pondok Pesantren Nazhatut Thulab di Kecamatan Camplong, Sampang.

Telepon diblokir

Rupanya kekacauan kecil terjadi hari itu. Sebab, telepon genggam Khofifah diblokir sehingga tidak bisa melakukan panggilan keluar karena tagihan bulan itu belum dibayar. Para asistennya mengakui lalai. Untung, masih ada satu telepon genggam lain yang masih bisa digunakan Khofifah. Tetapi Khofifah tidak marah. Dia hanya mengatakan, "Waduh, iki lupa dibayar, enggak bisa nelepon rek."

Zulfa menceritakan, gaji Khofifah memang dikelola para asisten dan sebagian besar tidak digunakan untuk kepentingan pribadi. Karenanya, pembayaran tagihan telepon juga tidak ditangani sendiri oleh Khofifah.

Sore sampai malam, kunjungan demi kunjungan terus dilakukan. Tidak ada jeda sedikit pun. Hari biasanya baru berakhir sekitar tengah malam atau bahkan dini hari. Kesempatan merebahkan lelah hanya ada ketika berada dalam perjalanan di mobil KIA Travelo sewaan.

Karenanya sebuah bantal besar untuk memberi sedikit rasa nyaman disiapkan di mobil. Apalagi waktu istirahat Khofifah baru akan dimulai selepas pukul 24.00, ketika hari mulai beranjak esok. Karena itu, jelas saja tim suksesnya terkagum-kagum dan mengatakan, "Kegiatannya luar biasa, enggak ada hentinya. Lelaki juga kalah." Lisa yang juga pernah menjadi sekretaris Khofifah mengatakan hal serupa. "Ibu memang selalu seperti ini. Waktu jadi menteri dan kunjungan ke daerah tidak mungkin hanya satu kegiatan. Pasti sekaligus banyak, ibu tidak mau tanggung-tanggung," katanya.

Kendati demikian, istirahat di mobil jarang dimanfaatkan Khofifah. Ada saja tim sukses atau pendukung yang menelepon atau ditelepon. Koordinasi dilakukan sepanjang perjalanan. Komunikasi dengan suaminya, Indar Parawansa, juga terus dilakukan melalui hubungan telepon. Saat petang menjelang, dia menyapa putra-putrinya, masih melalui hubungan telepon.

Khofifah sangat terbuka dalam bergaul dengan siapa pun. Tiada kepura-puraan membuat sosok perempuan tangguh dan cerdas ini mendapat hati di masyarakat Jatim maupun kader Muslimat Nahdlatul Ulama yang dipimpinnya sejak tahun 2000.


KOMPAS Jawa Timur, Selasa, 17-06-2008. Halaman D