Wednesday, August 15, 2007

Kiai sekaligus Priyayi

Buku perjalanan hidup KH Cholil AG boleh dibilang buku otobiografi yang saat ini laris di Bangkalan. Betapa tidak, dua pekan setelah di-launching, sebanyak 800 buku sudah dipesan.

Sekelumit dari isi buku Perjalanan Hidup K .H. M. Cholil AG yang belum banyak diketahui oleh publik, adalah sebuah fakta bahwa Cholil mempunyai garis keturunan kiai. Sekaligus mempunyai garis keturunan priyayi.

Dari jalur ibu, dia adalah putra Ny. Romlah, cucu dari ulama besar yang amat mashur kealiman dan kewaliannya Syaichona Muhammad Cholil dari Bangkalan. Sedangkan dari jalur ayah, Cholil adalah putra RKH Zahrawi yang merupakan keturunan dari RK Ahmad (Kiai Sumber Jranguan, Omben, Sampang).

RK Akmad sendiri merupakan salah satu keturunan dari Kanjeng Tumenggung Wiro Menggolo alias Pangeran Purwonegoro yang pada saat itu merupakan bupati Sumenep.

Kepriyayian Cholil tidak ditonjolkan karena keluarga besarnya tumbuh di lingkungan dan tradisi pesantren. Sehingga yang menonjol dalam dirinya adalah kekiaiannya. Hal itu juga tidak terlepas dari nilai-nilai keislaman yang sangat menekankan sikap kesahajaan, keterbukaan, dan kesetaraan yang tertanam kuat dalam Cholil.

Menurut salah satu tim penulis, KH Achmad Ali Ridho, kondisi itu diperkuat oleh struktur masyarakat Madura dalam ungkapan buppa’, babhu’, guru, rato yang menempatkan kiai dalam peran yang amat luas. Tidak hanya dalam urusan keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Peran strategis ini juga tidak terlepas dari tanggung jawab sosial yang tinggi yang dimiliki oleh Cholil dalam setiap langkahnya sebagai pemimpin yang selalu memihak kepentingan masyarakat bawah. "Posisi penting ini sering dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk kepentingan pragmatis dan sesaat dengan tanpa menyadari tanggung jawab sosial yang juga besar," kata Ra Achmad-sapannya.

Sehingga, lanjut dia, peran penting ini kemudian menjadi alat untuk kepentingan ekonomi dan politik pribadi. Namun, itu tidak berlaku bagi Kiai Cholil dalam setiap kiprah dan perjuangannya untuk membela masyarakat. Bahkan, peran strategis ini mampu dia jadikan sebagai alat perekat dan pemersatu bagi para kiai untuk melakukan perjuangan bersama yang direalisasikan dalam Bassra.

Hal lain yang terungkap dalam buku itu adalah keterbukaan Cholil dalam melihat kemodernan. Dia sadar bahwa perubahan, baik di dunia pesantren dan masyarakat, penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat itu sendiri. "Hal ini ditunjukkan dalam pandangan beliau terhadap perkembangan dunia pesantren, yang menurut beliau ke depan idealnya pesantren dipimpin oleh orang berpendidikan tinggi," tuturnya.

Harapannya, orang berpendidikan tinggi dapat membawa pesantren lebih maju. Juga memungkinkan pesntren berkiprah lebih luas di masyarakat dalam merespons perubahan yang ada di sekitarnya.

Sekadar diketahui, Kiai Cholil dilahirkan pada tanggal 1 Desember 1940 dan meninggal pada Sabtu, 5 November 1994 dalam usia 54 tahun. Hasil riset dan penelitian serta kumpulan wawancara selama setengah tahun terakhir tersebut dibukukan dalam buku setebal 184 halaman. Tim penulisnya adalah Abdul Mukhlis, Achmad Ali Ridho, Agus Budi H., Dairobi, Mashuri Arow, Muhammad Fauzi, dan Saiful Haris. (ris)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 13 Agt 2007