Sunday, October 28, 2007

Pamekasan Juara Utama Festival Internasional Nusa Dua

Tari Praban Lanceng Memukau, Souvenir Laris Manis

Pemerintah Kabupaten Pamekasan kembali menorehkan prestasi tingkat nasional. Kali ini di Festival Internasional Nusa Dua III di Bali akhir pekan lalu. Kontingen Pamekasan dinobatkan sebagai juara utama paling kreatif, inovatif, dan produktif.
Tak sia-sia perjuangan kontingen Pemkab Pamekasan dalam Festival Internasional Nusa Dua III di Bali akhir pekan lalu. Rombongan pemkab yang beranggotakan 75 orang dari berbagai sektor itu, ternyata mampu menunjukkan prestasi gemilang. Hal itu tak lepas dari keseriusan kontingen pemkab dalam menyuguhkan penampilan terbaiknya.

Pimpinan rombongan Pemkab Pamekasan, Drs Atok Suharyanto, mengatakan, kontingen yang dipimpinnya berasal dari elemen eksekutif dan legislatif. Dari eksekutif terdiri dari beberapa staf Dinas Perindustrian dan Perdagangan (disperindag) dan Bagian Perekonomian. "Dari legislatif ada komisi B dan komisi D yang juga ikut serta," ujarnya di gedung pemkab kemarin.

Selain dari pemkab dan legislatif, kontingen Pamekasan didukung beberapa pihak. Terutama beberapa sekolah yang memiliki potensi dalam bidang kesenian dan budaya. "Memang, untuk penampilan seni dan budaya kita menggandeng banyak pihak. Terutama, mereka yang memang ahli di bidangnya. Tapi, semuanya berasal dari Pamekasan," katanya.

Atok lalu menceritakan beberapa rangkaian kegiatan yang dilalui kontingen Pamekasan. Selain mengikuti kegiatan pembukaan berupa seremonial, kontingen Pamekasan hampir semua mengikuti rangkaian kegiatan. Seperti pertunjukan budaya lokal, ekspo, dan kirab.

Untuk pertunjukan budaya lokal, kontingen Pamekasan menampilkan kesenian tari. Adapun tari yang dipilih untuk dipentaskan adalah tari Praban Lanceng. Tari yang berkisah mengenai pertemuan seorang gadis dan perjaka itu dibawakan oleh tim kesenian gabungan dari beberapa sanggar seni.

"Penampilan pentas Praban Lanceng saat itu cukup membuat penonton terpukau. Sebab, tim dari Pamekasan ternyata mampu menyuguhkan penampilan terbaiknya," terang Atok.

Selain kepiawaian penari, tari Praban Lanceng juga didukung oleh penampilan musik kolaborasi yang menarik. Yakni, kolaborasi musik Ul-daul dengan musik tradisional gamelan. Musik yang dibawakan dinilai mampu menghasilkan kualitas kesenian khas. "Penampilan budaya lokal dari Pamekasan memiliki poin besar karena mampu membuat penonton dan panitia berdecak kagum," terangnya.

Poin lain yang menjadikan kontingen Pamekasan juara utama lantaran banyaknya kreativitas inovasi. Terutama pada aspek penjualan beberapa souvenir khas Pamekasan yang diletakkan di anjungan/stan. Selama empat hari kegiatan, transaksi yang berlangsung diperkirakan mencapai Rp 100 juta. "Itulah salah satu poin kita, terutama pada sektor anjungan. Panitia memberikan penilaian cukup bagus karena banyaknya peminat terhadap souvenir asal Pamekasan," papar Atok.

Anjungan kontingen Pamekasan menjual sejumlah produk lokal. Seperti batik tulis, souvenir khas, camilan khas, dan aneka macam jamu yang dikemas dalam beberapa kemasan. "Jamu misalnya. Kita menyiapkan bukan hanya sekadar jamu. Tapi dengan berbagai kemasan. Pengunjung bisa langsung menikmati jamu seduh di stan sehingga membuat ketertarikan tersendiri," tandasnya.

Atas dasar itulah, panitia Festival Internasional Nusa Dua III memberikan predikat juara utama paling kreatif, inovatif dan produktif kepada kontingen Pamekasan. "Itu semua tak lepas dari dukungan banyak pihak. Terutama, para anggota kontingen yang tampil maksimal sesuai bidangnya masing-masing," kata Atok merendah. "Kita menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung sehingga bisa mengukir prestasi. Ke depan, kita harus bisa meningkatkan prestasi yang telah diraih itu," pungkasnya. (AKHMADI YASID)

Sumber: Jawa Pos, Jumat, 26 Okt 2007

Wisata Budaya di Liburan Lebaran

Pengunjung Naik 200 Persen, Betah di Taman Sare

Tidak hanya lokasi wisata alam yang ramai dikunjungi masyarakat di liburan pascalebaran. Sejumlah objek wisata budaya, seperti Keraton dan Museum Sumenep, juga ramai dikunjungi. Mengapa?

Masa libur yang cukup panjang pascalebaran tahun ini banyak dimanfaatkan para pemudik maupun masyarakat untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Beberapa lokasi wisata di Kabupaten Sumenep ramai dikunjungi pengunjung.

Ada yang menghabiskan masa libur dengan mendatangi Patai Lombang dan Slopeng. Apa pula yang melakukan wisata religi ke pesarean yang tersebar sejumlah daerah. Tidak kalah ramai dikunjungi adalah tempat wisata budaya keraton, museum, dan Taman Sare.

Sejak H+1 Lebaran sampai kemarin, pengunjung yang datang ke komplek keraton meningkat tajam. Setiap harinya jumlah pengunjung lebih dari 300 orang. Padahal, pada hari biasa pengunjung peninggalan sejarah kerajaan Sumenep ini hanya berkisar 100 orang per hari.

Peningkatan jumlah pengunjung ini selain karena masa liburan, juga lokasi objek wisata budaya ini berada di jantung Kota Sumenep atau sebelah timur Masjid Agung. Sehingga, lokasinya mudah dikunjungi. Lagipula, keraton, museum, dan Taman Sare berada di satu area.

Di museum yang didirikan pada 1965 dan merupakan bekas garasi kereta kerajaan ini, terdapat berbagai peninggalan raja-raja Sumenep. Seperti kursi, tempat tidur, Alquran besar, kereta kerajaan, dan pernak-pernik peninggalan raja yang sudah berumur ratusan tahun. Benda-benda bersejarah itu sampai kini masih terpelihara dengan baik.

Setiap pengunjung yang datang, mendapat penjelasan tentang silsilah raja-raja Sumenep. Juga penjelasan berbagai tempat-tempat bersejarah peninggalan raja. Baik itu keraton, Taman Sare, Labang Mesem, dan makam raja-raja yang berada di Asta Tinggi.

Yang paling banyak menarik perhatian para pengunjung adalah bekas tempat pemandian putri raja, yaitu Taman Sare. Karena selain hawa di sekitar taman sangat sejuk, pemandangan di dalam taman sangat indah. "Kita lebih betah di sini karena udaranya sangat sejuk dan banyak pepohonan," kata Eko, salah satu pengunjung dari Kota Bogor, Jawa Barat.

Selain itu, ada pengunjung yang berharap 'berkah' dari taman tersebut dengan meminta air taman. Sebab, masih ada orang yang percaya bahwa air Taman Sare bisa memberikan berkah.

Pemandu objek wisata buadaya tersebut, Moh. Ramli, yang ditemui koran ini mengatakan, pengunjung lebih banyak dari Madura. Juga tidak sedikit yang dari luar Madura. "Ada yang dari Jakarta, Surabaya, Bandung. Bahkan, kemarin pengunjung dari luar negeri," ujarnya.

Dia memerkirakan, lonjakan pengunjung akan terjadi pada Lebaran Ketupat atau tujuh hari setelah Idul Fitri. Sebab, biasanya pada Lebaran Ketupat banyak yang menyempatkan diri singgah di museum setelah rekreasi di Pantai Lombang dan Slopeng. Selama liburan lebaran ini, pihaknya tidak menambah atau mengurangi jam layanan. Yakni, dari pukul 07.00 hingga pukul 17.00. (A ZAHRIR RIDLO)

Sumber: Jawa Pos, Jumat, 19 Okt 2007

Saturday, October 27, 2007

Kongres Bahasa Terus Menguat

Kongres bahasa (Madura) mendapat sambutan para seniman. Buktinya, kantong-kantong kesenian antusias terkait momentum kongres bahasa pasca kongres kebudayaan awal tahun lalu.
Seperti diberitakan, usai pelaksanaan kongres di Sumenep memutuskan dibuat pojka di Pamekasan. Pokja ini bertugas mendiskusikan kembali urgensi kelanjutan kongres. Sampai akhirnya wacana awal dapat menyepakati kongres bahasa sebagai kongres jilid II pasca Sumenep.
Sastrawan muda Halifaturrahman mengaku seringkali membicarakan kemungkinan kongres. Dia bilang peluang dan tantangan kongres terbagi pada dua aspek. Sebagai peluang, kongres dianggap dapat menjadi tonggak tentang revitalisasi budaya dalam aspek kebahasaan. Penyair ini katakan kongres juga bisa menjadi semangat baru di tengah generasi yang jumud. "Kami sering diskusi-diskusi kecil soal kongres ini," ujarnya.
Sebagai tantangan, mantan pembina seni di depot seni Akura ini menganggap kongres akan mengalami tantangan. Dia yakin tantangan dapat muncul dari adanya perbedaan cara pandang antargenerasi. Tetapi, dia yakin perbedaan lintas generasi ini bisa mengerucut kepada satu kepentingan budaya. Hambatan lain dia menduga akan lahir dari alasan klasik yang terkait dengan pendanaan. "Tetapi saya kira selalu ada jalan keluar dari kebuntuan," terang pria yang akrab disapa Mamang ini.
Seniman lukis Budi Hariyanto imbuhkan, peluang dan tantangan kongres selalu ada. Dia mencontohkan kongres di Sumenep cukup memukau. Terutama ketika Hubb de Jonge hadir dan beberapa pemerhati budaya lainnya. Dia mengaku optimistis kongres dapat digelar oleh setiap kabupaten di Madura. Alasannya, Budi-sapaannya, menilai tiadanya kongres semakin menjelaskan bahwa yang berbau Madura mulau terkikis. "Kongres amat perlu mumpung semangat bermadura belum hilang secara massif," katanya.
Budi merasa iri dengan daerah lain yang telah melestarikan daerahnya masing-masing. Pria lulusan seni rupa IKIP Surabaya ini mencontohkan Banyuwangi, Sunda, Ponorogo, dan berbagai daerah lainnya. Dia katakan aura berbudaya di daerah lain terus menguat hingga mendapat pengakuan dari dunia internasioal. "Lha budaya kita, sepertinya tetap saja," tukasnya.
Dari kalangan generasi tua, Chairil Basyar menilai sebagian generasi muda mulai tidak bergairah untuk bermadura. Indikatornya, Chairil mencontohkan remaja yang tak bisa mewarisi bahasa ibunya. Dia membayangkan 10 atau 20 tahun mendatang dengan tampilan remaja saat ini, rasa bermadura bisa habis. Itu sebabnya, Chairil menganggap rasa bermadura harus digalakkan lewat sekolah atau media apapun. "Termasuk digalakkan melalui kongres," ujarnya. (abe)

Sumber: Jawa Pos, Jumat, 26 Okt 2007

Tempat Wisata Mendadak Ramai

Lebaran Ketupat atau Tellassân Topa’ benar-benar dimanfaatkan warga untuk tamasya. Sejumlah objek wisata di Madura yang selama ini sepi, kemarin mendadak ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun luar Madura.
Di Kabupaten Sumenep misalnya, Pantai Lombang di Kecamatan Batang Batang tetap menjadi lokasi yang banyak dikunjungi oleh warga Sumenep maupun luar Sumenep. Sejak pagi sampai pukul 14.20 diperkirakan jumlah pengunjung yang masuk pada kisaran 7 ribu orang. "Kalau kira-kira 7 ribu itu. Kita belum menghitung angka pastinya," ujar pengelola Pesta Ketupat di Pantai Lombang, H Masdawi.
Untuk menghindari kesemrawutan, pengelola sudah menempatkan sejumlah petugas karcis pada radius 500 meter sebelum pintu masuk pantai. Tujuannya, pengunjung tidak bertumpuk di pintu masuk. "Kita sengaja membuka loket selain di pintu masuk supaya tidak terjadi kemacetan. Sebab, sejak awal kita sudah prediksi hari ini (kemarin, Red) menjadi puncak kunjungan ke Lombang," terang Masdawi.
Petugas juga all out mengamankan Lebaran Ketupat di Pantai Lombang dan Slopeng Dasuk. Pantai Lombang yang memang diprediksi lebih ramai dijaga sedikitnya 170 petugas gabungan dipimpin Kompol Ary Wahjudi. Sedang di Slopeng di Kecamatan Dasuk yang juga ramai dikunjungi disiagakan 70 personel dipimpin Kompol Abd Jamil.
Pantai Camplong, Kecamatan Camplong, Sampang, juga dipadati pengungjung. Diperkirakan mereka yang berwisata di pantai pesisir selatan ini mencapai angka 30 ribu lebih.
"Berdasarkan data sementara, jumlah pengunjung yang datang dan memilih liburan di Pantai Wisata Camplong dalam perayaan lebaran ketupat tahun ini mencapai 30
ribu lebih," ujar Kabag Ops Polres Pamekasan Kompol H Danuri SH yang kemarin mendampingi Kapolres AKBP H Mujiyono SH.
Sedangkan di Kabupaten Bangkalan, beberapa tempat wisata juga ramai. Seperti Mercusuar di Desa Sembilangan, Kecamatan Socah; Pantai Rongkang di Desa Kwanyar Barat, Kecamatan Kwanyar; Lomba di Pantai Kamal; dokar hias di Desa Jaddih, Kecamatan Socah; dan Pantai Siring Kemuning Kecamatan Tanjung Bumi, serta Pesarean Aer Mata di Arosbaya.
Di objek wisata mercusuar, sejak pagi warga mulai berjejal masuk ke area yang merupakan bangunan peninggalan Belanda tersebut. Ketika matahari beranjak naik, warga terus memadati lokasi yang berada di tepi pantai Sembilangan. Kebanyakan pengunjung memilih naik ke lantai tertinggi mercusuar, untuk melihat pemandangan di sekitar lokasi. Namun ada juga yang sekadar duduk-duduk melihat laut.
Di Pantai Kamal, tradisi lomba juga diminati. Perahu dihiasi berbagai bendera warna warni. Tradisi ini menjadi agenda tetap yang disukai warga setempat. Malah ada juga warga dari Surabaya memanfaatkan wisata tahunan ini untuk menikmati naik perahu keliling Pantai Kamal.
Sedangkan di Kwanyar, warga setempat memanfaatkan Lebaran Ketupat untuk berwisata di Pantai Rongkang. Sebagian lagi naik dokar menyusuri jalan sepanjang pantai. Kondisi ini membuat arus jalan lintas Selatan Kwanyar macet.
Di Kabupaten Pamekasan juga begitu. Objek wisata pantai ramai dikunjungi. Seperti Pantai Talang Siring di Kecamatan Larangan dan Patai Jumiang di Kecamatan Pademawu. (yat/fiq/tra/abe)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 21 Okt 2007

Lombangku Sayang, Lombangku Malang

Wajah Molek Itu, Kini Meranggas

Menyusuri pantai Lombang, yang tampak ranum dengan dedaunan cemara udang, kini hanya bersisa sekitar radius sekitar 650 meter, setelah itu hamparan pasir yang meranggas dan ratusan pohon cemara udang dalam posisi jumpalitan, akibat penebangan liar.

Jarang wisatawan memperhatikan hal ini, karena posisi rusaknya hutan cemara, berada di luar radius pusat hutan Lombang, namun bagian penting dari Pantai Lombang.
Dipantai ini pula, ditemui sejumlah belahan kayu cemara udang, untuk dijadikan kayu bakar. Menurut Muri, warga Lombang, tumpukan kayu tersebut, merupakan hasil penebangan yang dilakukan warga atas cemara miliknya. Namun ada juga yang dilakukan oleh warga, yang menebang secara liar.

”Di sini bebas Mas, siapa pun bisa melakukan apa saja, buktinya rakyat bisa punya hak milik atas pantai. Padahal aturannya kan tak boleh,” ujar Mori. Akibatnya ribuan pohon cemara udang, dikuasai pribadi dan diperjual belikan secara membabi buta. Itulah yang menyebabkan ribuan pohon cemara udang lenyap dari Pantai Lombang. Kini yang tersisa hanya bekas cangkokan potongan cemara udang, yang kemudian dijadikan kayu bakar oleh warga, sejak harga minyak tanah membumbung tinggi.

Ia lalu bercerita panjang, disaat lenyapnya hutan cemara udang di Lombang, kini jarang ada pesanan dari kota di Pulau Jawa, karena ternyata eksploitasi besar-besaran yang dilakukan warga sepuluh tahun silam, menyebabkan langkanya cemara udang yang memiliki nilai seni yang tinggi. Kini sebaliknya, beberapa kota, seperti Malang, Bandung, dan Jogjakarta, mampu melakukan budidaya cemara udang, berbekal dari bibit yang dibeli dari Lombang. ”Kami akui, kualitas budidaya yang dilakukan di Bandung, Malang, dan Jogjakarta dari generasi pertama cemara udang Lombang, menghasilkan generasi yang lebih bagus. Sehingga pasar cemara udang kini sudah terpusat di kota besar,” paparnya.

Disamping efisien dari sisi ongkos transportasi, membeli cemara udang di kota terdekat, resikonya sangat kecil, sehingga cemara udang, tak lagi dilirik di tempat asal ditemukan.

Pemerintah Kabupaten Tak Berdaya

Plt Kepala Dinas Pariwisata Daerah Sumenep, Drs H Ach Ingkiad, membenarkan tak seluruh lahan di seputar Pantai Lombang adalah milik Pemkab. Banyak di antaranya dikuasai warga setempat. Akibatnya Pemkab tidak bisa mengatur sistem penebangan dan penjualan cemara udang di lokasi tersebut. Namun untuk di wilayah pantai yang dikuasai Pemkab, maka tidak akan pernah ada yang berani merusaknya, sebab sepanjang hari dijaga.

”Kalau kawasan pantai yang dikuasai pemerintah, saya berani jamin aman dari penjarahan,” tegasnya. Namun diakui, dikuasainya bagian-bagian tertentu disekitar Pantai Lombang oleh pribadi, sangat mengganggu kegiatan wisata. Ia berharap agar ada upaya segera untuk membebaskan lahan yang dikuasai pribadi, sehingga penataan pantai wisata Lombang lebih terarah menjadi kawasan wisata yang profesional. ”Kalau mahu profesional, saya kira segera bebaskan lokasi pantai dari kepemilikan pribadi,” katanya.

Namun Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumenep, Drs H Kusbandi Msi, membantah tanah di bibir Pantai Lombang ada yang memiliki. Sebab tidak dibenarkan kepemilikan tanah di areal 200 meter dari pasang surut air laut. ”Bohong jika ada yang mengaku punya tanah di bibir pantai Lombang, karena kami tidak pernah mengeluarkan sertifikat,” ujarnya. Namun diakui untuk Desa Bilangan dan Nginbungin, ada sejumlah tanah dekat pantai yang dikuasai warga, karena merupakan tanah adat warga setempat, sehingga telah dikeluarkan sertifikatnya.

Untuk kasus kepemilikan tanah di bibir Pantai Lombang, Kusbandi khawatir, hanyalah klaim yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Sebab bisa saja warga mengklaim tanah itu miliknya, hanya berdasarkan fakta bayar pajak atas tanah tersebut. ”Saya rasa Pemkab harus segera mencari tahu atas tanah disekitar pantai Lombang, kalau memang tidak beres, segera di usut,” tegasnya. (Jakfar Faruok Abdillah)

Sumber: Surabaya Post, Jumat 26/10/2007

Thursday, October 18, 2007

PT Santos Panen Tuntutan Ganti Rugi

Nelayan Tanjung Datangi Rumah Anggota CR Support

Puluhan nelayan Desa Tanjung, Kecamatan Camplong, kemarin, pukul 09.30, mendatangi rumah salah satu anggota Community Relation (CR) Support PT Santos Ltd, Ghani, di Dusun Pesisir Laok, Desa Tamba’an, Kecamatan Camplong. Pasalnya, mereka belum ada kejelasan terkait pembayaran dana kompensasi ganti rugi alat penangkap ikan yang hilang.

Setiba di lokasi, rombongan nelayan yang dipimpin Edi Syamsul langsung diterima Ghani. Selain ditemani kerabat dekatnya, Ghani juga ditemani anggota Babinsa Koramil Camplong. Saat dialog, Edi Syamsul mengatakan, selama ini pihaknya sudah cukup sabar dan toleransi terhadap manajemen PT Santos Ltd. Karena desakan warga yang menuntut PT Santos segera memberikan dana kompensasi atas hilangnya alat tangkap ikan semakin mengungat, ia terpaksa mengajak nelayan Tanjung menyampaikan aspirasinya langsung kepada Ghani.

Menurut dia, manajemen PT Santos Ltd harus bertanggung jawab atas anjloknya penghasilan nelayan setelah rumpon dan bubu ikannya rusak akibat terkena imbas kegiatan survei seismik yang dilakukan kapal PT Santos Ltd. "Tujuan kami datang ke sini hanya menanyakan kapan diberi dana kompensasi ganti rugi oleh PT Santos," ujarnya.

Dijelaskan, kegiatan survei seismik yang dilakukan kapal PT Santos Ltd selama ini telah merusak dan melenyapkan 74 alat tangkap ikan nelayan Tanjung. Rinciannya, 71 rumpon dan sisanya bubu ikan. "Ibarat bertani, rumpon dan bubu ikan tersebut adalah ladang kami bercocok tanam. Kalau sudah dirusak, bagaimana kami bisa melaut dan menghidupi istri serta anak-anak kami?" terangnya.

Edi Syamsul juga menanyakan besarnya dana kompensasi ganti rugi yang akan diterima nelayan Desa Tanjung sebagai pengganti rumpon atau bubu yang rusak. "Sesuai permintaan dan kesepakatan nelayan, kami minta PT Santos Ltd memberikan dana kompensasi ganti rugi minimal Rp 3 juta untuk setiap rumpon maupun bubu ikan yang rusak," ujarnya.

"Tapi kalau manajemen PT Santos Ltd menolak membayar dan memberikan dana kompensasi ganti rugi raibnya alat tangkap ikan nelayan, kami masyarakat nelayan Desa Tanjung mendesak PT Santos angkat kaki dari perairan Camplong. Bahkan, kami rela dan ikhlas tidak diberi ganti rugi asal PT Santos tidak melakukan aktifitas migas di perairan Camplong," tambhanya.

Sementara Ghani selaku anggota CR Support PT Santos Ltd meminta maaf belum bisa memberikan jawaban atau keputusan menanggapi tuntutan nelayan Desa Tanjung tersebut. "Mohon maaf, saya tidak mempunyai kewenangan dan tidak berhak memberikan tanggapan mengenai masalah ini. JIka saya yang berkomentar, pasti menyalahi aturan karena bukan representasi dari manajemen PT Santos," ujarnya.

Namun, dia berjanji secepatnya melaporkan aspirasi dan tuntutan nelayan Tanjung itu. Pada prinsipnya, kata dia, PT Santos Ltd akan memberikan dana kompensasi ganti rugi bila laporan warga tersebut cocok dengan data yang dimiliki tim PT Santos yang beranggotakan tokoh masyarakat dan perwakilan nelayan. "Sekali lagi, yang memutuskan nanti adalah manageman PT Santos dan bukan saya," tegasnya.

Selain nelayan Tanjung, Sejati, dan Dharma Camplong, nelayan Mandangin, Kecamatan Kota Sampang, juga menuntut ganti rugi atas raibnya ratusan rumponnya. Seharian kemarin Mapolsekta Sampang menerima dua laporan kehilangan rumpon sekaligus dari nelayan Pulau Mandangin tersebut. Laporan kehilangan rumpon tersebut disampaikan Ketua BPD Mandangin Sunarto kepada Kapolsekta Sampang AKP H Heri Darsono SH. Sebelumnya, Heri Darsono juga menerima laporan yang sama dari Plt Kades Mandangin Moh. Giman.

Saat dialog, Sunarto menuntut manajemen PT Santos Ltd bertanggung jawab atas rusak dan hilangnya alat penangkap ikan milik nelayan Mandangin. Juga mendesak perusahaan minyak itu segera memberikan dana kompensasi ganti rugi. "Sebab, kegiatan survei yang dilakukan oleh kapal PT Santos Ltd telah membuat 467 alat tangkap ikan nelayan Mandangin rusak dan hilang. Rinciannya, 244 buah bubu ikan, 32 rumpon ikan, dan 191 rumpon cumi," ungkapnya.

Dia memerkirakan, rusaknya alat penangkap ikan terjadi Kamis (4/10) lalu. Lokasi hilangnya meliputi Karang Slebar, Karang Pangerapoan, Karang Getah, dan di sekitar pengeboran. "Bubu dan rumpon kami diketahui rusak, setelah kapal survey PT Santos Ltd melintas," ungkapnya.

Sementara Plt Kades Mandangin Moh. Giman dalam laporannya mengatakan, selama kegiatan survei seismik 2D berlangsung, pihaknya menerima laporan bahwa kapal PT Santos Ltd tersebut memotong tanda-tanda onjem (rumpon, Red), bubu, dan jaring ikan milik nelayan. Sekitar 3.619 buah alat penangkap ikan nelayan diketahui hilang karena kain yang dipasang sebagai tanda-tanda dipotong. Pemotongan tanda alat penangkap ikan tersebut dilakukan 4-10 Oktober 2007. "PT Santos harus memberikan ganti rugi. Sebab nelayan sudah tidak melaut," tandasnya.

Kapolsekta Sampang AKP H Hery Darsono SH berjanji segera menindaklanjuti laporan masyarakat nelayan Pulau Mandangin tersebut. Dia akan berkoordinasi dengan manajemen PT Santos Ltd guna memercepat proses penyelesaian kasus rusaknya alat tangkap ikan nelayan Mandangin.

"Yang jelas, kami akan membantu dan memediasi proses penyelesaian masalah ini. Setelah berkoordinasi dengan Koordinator Community Relations (CR) PT Santos Ltd Hamim Tohari, insya Allah pada hari Senin (22/10) mendatang akan mengroscek kebenaran laporan tersebut," kata Hery Darsono. (fiq)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 18 Okt 2007

Wednesday, October 17, 2007

Pak Mien Titip Anas

Prestasi Anas Maulidi Utama di pentas dunia dalam IAO (International Astronomy Olympiad) XII yang berlangsung 29 September-7 Oktober 2007, di Simeiz, Crimea, Ukraina, mendapat sanjungan dan pujian dari berbagai kalangan. Termasuk dari ilmuan Nasional asal kabupaten Sumenep, Prof. Mien Ahmad Rifa’i B.Sc. M.Sc. Ph.D.

Secara khusus, kemarin Peneliti Senior LIPI ini memberikan ucapan selamat kepada Anas yang berhasil membawa pulang medali perunggu dalam event internasional itu. Anas yang didampingi Kepala SMP Negeri 1 Sumenep, Nurul Hamzah, dan Kordinator NSP, Yanuar Herwanto, bertemu Mien di Hotel Utami Sumekar.

Kepada koran ini, Mien mengaku ikut senang dan bangga dengan prestasi putra Madura yang belakangan ini mulai banyak dikenal masyarakat luas. "Saya sangat senang, ini membuktikan bahwa otak orang Indonesia tidak kalah," katanya.

Namun, mantan asisten Menristek RI tahun 1995-2000 ini mengharapkan prestasi Anas ini dapat memacu peningkatan prestasi pendidikan siswa yang lain. Untuk itu, dia menyarankan agar dalam peningkatan pendidikan di kabupaten ini, guru sebagai pendidik dapat memberikan peluang bagi anak untuk berkreatifitas sendiri. "Saya mengharapkan dalam pendidikan, siswa lebih banyak dilatih kreatifitas dan inovasi sendiri," katanya. Sebab, kata dia, dunia yang akan datang, merupakan dunia kreatifitas dan informasi. "Jadi siapa yang kreatifitasnya tinggi, maka mereka yang akan mampu bersaing. Sedangkan pola pendidikan sekarang masih lebih banyak siswa menjawab pertanyaan. Ke depan kita harapkan ada perubahan," tegasnya.

Diakhir pertemuan itu, Mien juga berpesan kepada Kepala SMPN 1 Sumenep untuk dapat mengembangkan kreatifitas dan kepandaian Anas. "Anak seperti Anas ini perlu dipelihara. Orangnya pendiam, tapi dia ilmunya banyak," pesannya. (zr)

Sumber: Jawa Pos, Rabu, 17 Okt 2007

Tuesday, October 16, 2007

Berkunjung ke Buju’ Pongkeng

Ritual Khusus Mencari Jodoh

Datang ke buju’ atau asta, biasanya, untuk tujuan spiritual. Namun, itu relatif tidak berlaku di Buju’ Pongkeng, Desa Pakandangan, Kecamatan Bluto. Masyarakat yang datang ke sana kebanyakan bertujuan mempermudah jodoh dan rezeki.

SAAT itu, sekitar pukul 11.00, tampak ratusan warga berada di sekitar Buju’ Pongkeng. Mereka tidak semuanya mendekat ke lokasi buju’ (makam). Ada yang memilih duduk santai di bawah rimbun pepohonan di sekitar buju’.

Dari arah kejauhan sudah terlihat pemandangan orang yang berkunjung ke Buju’ Pongkeng. Apalagi letak buju’ memang berada di atas perbukitan. Dari bawah bukit terlihat ratusan orang duduk di pinggir jalan, rimbun pohon, maupun di sekitar makam.

Secara geografis, Buju’ Pongkeng berada di Desa Pakandangan Sangrah. Namun, karena dari dulunya lebih dekat dengan Dusun Pongkeng, Desa Aengbaja, akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Buju’ Pongkeng.

Untuk sampai di Buju’ Pongkeng harus melewati jalan setapak berbatu. Setelah melewati jalan beraspal di Desa Aengbaja, warga yang akan datang ke buju’ bisa menggunakan sepeda motor untuk mencapai sekitar bukit. Namun, bagi warga yang membawa kendaraan roda empat disarankan memarkir di kaki bukit tak jauh dari rumah penduduk.

Saat koran ini tiba di kaki bukit, tampak beberapa kendaraan mobil diparkir di dekat rumah penduduk. Di kanan kiri jalan berbatu menuju bukit banyak warga sekitar mengais rezeki dengan berjualan. Mulai dari minuman hingga aneka jenis makanan.

Di kanan kiri jalan itu banyak warga kongkow-kongkow. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Mereka kebanyakan berkelompok. Namun, ada yang hanya terlihat berdua, baik laki-laki dengan perempuan, maupun sesama jenis. Pemandangan itu terlihat di kanan kiri jalan menuju bukit hingga sekitar Buju’ Pongkeng.

Begitu sampai di area buju’, suasana ramai makin terasa. Di bawah cungkup yang baru dibangun di timur buju’, terlihat yang duduk-duduk secara berkelompok. Ada yang terlihat membawa makanan. "Yang datang bukan hanya dari Bluto saja. Ada yang dari Blega, Bangkalan. Mereka rombongan naik mobil," ujar Bu Habib, warga yang saat ini menguasai Buju’ Pongkeng. Bu Habib ini merupakan keturunan Pak Suani alias Mawi yang sebelumnya pernah menjadi juru kunci buju’.

Bagi sebagian besar warga Kecamatan Bluto, tradisi berkunjung ke Buju’ Pongkeng pada H+1 Lebaran bukan hal baru. Tradisi yang satu ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bedanya, jika dulu yang datang hanya untuk keperluan spiritual, kini banyak didorong tujuan lain. Seperti mencari jodoh, memermudah rezeki, dan lainnya.

Ketika koran ini datang ke Buju’ Pongkeng H+1 Lebaran lalu, beberapa warga yang ditemui mengaku datang untuk mencari keberuntungan. Maksudnya? "Saya sih ikut-ikutan saja. Katanya kalau datang ke sini bisa ketemu jodoh kalau bareng dengan takdirnya," ujar Totok, remaja asal Desa Bluto.

Warga yang datang ke Buju’ Pongkeng ada yang sengaja datang berdua bersama pasangannya. Seperti Toni dan Oktavi, yang juga berasal dari Desa Bluto. "Kalau kita tujuannya memang untuk bersantai," katanya. Bagaimana dengan kepercayaan akan ketemu jodoh? "Kalau itu sih tergantung. Kan calon jodohnya sudah dekat," ujar Toni lalu melirik ke Oktavi.

Menurut Bu Habib, kepercayaan ketemu dengan jodoh merupakan kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat. "Sebenarnya, dulu yang datang ke sini untuk berziarah dan mengaji ke makam Syekh Arif Muhammad ini. Tapi, ternyata anak muda sekarang banyak datang untuk keperluan lain," katanya.

Meski begitu, Bu Habib membenarkan ada yang percaya jika warga yang datang dan mengambil kembang di atas makam Syekh Arif Muhammad keinginannya bisa terkabul. "Tapi, ini masalah keyakinan juga," ujarnya.
Sementara menurut Endin, warga Desa Bluto, saat ini warga yang datang ke Buju’ Pongkeng hanya ikut-ikutan. Sebab, pada H+1 Lebaran ramai dikunjungi pengujung yang ingin berziarah. "Mereka, terutama anak muda, datang ke sini justru untuk pacaran. Bagi yang belum punya pacar, ya mencari disini. Makanya, dianggap tradisi ini untuk mencari jodoh," jelasnya.

Berdasarkan cerita yang disampaikan oleh Bu Habib, Buju’ Pongkeng merupakan pesarean Syekh Arif Muhammad, salah satu tokoh asal Mesir yang pernah menyebarkan agama Islam di Sumenep. Dulu, Syekh Arif Muhammad dipercaya datang ke Sumenep hanya dengan menunggang sapu tangan. (AKHMADI YASID)

Sumber: Jawa Pos, Selasa, 16 Okt 2007

Goa Petapan dan Goa Potre di Gunung Geger,

Tempat Tirakat, Ada yang Dapat Keris dan Besi Kuning

Bukit Geger di Kecamatan Geger sampai sekarang ramai dikunjungi. Bukan hanya karena lingkungan alamnya yang asri, bukit ini juga menjadi bagian penting legenda Madura.

Konon, Bukit Geger menjadi tempat manusia pertama yang menginjakkan kaki di bumi Madura. Ceritanya, pada abad ke 7-8 Masehi, Patih Pranggulan dari Kerajaan Medang di Kaki Gunung Semeru disebut-sebut sebagai orang pertama yang mendarat di Planggirân (tumpukan batu karang) di bukit Geger. Saat itu dia membawa Dewi Ratna Rorogung, anak Raja Medang yang sedang hamil.

Keduanya terdampar di Planggiran setelah mengarungi lautan dengan rakit. Di bukit Geger itu, Dewi Ratna Rorogung mendapat julukan Potre Koneng. Putri yang satu ini punya kebiasaan bersemedi di tepi tebing. Rutinitas itu dilakukan setiap hari menjelang matahari terbenam. Kini, batu mirip kursi itu disebut Palènggiyân (Madura, Red). Hingga akhirnya lahirlah Raden Segoro dari rahim Dewi Ratna Rorogung.

Tak hanya batu Palènggiyân, di Bukit Geger terdapat banyak situs bersejarah. Diantaranya Goa Petapan, Goa Potre, Goa Planangan, Goa Pancong Pote, dan Goa Olar. Hingga kini di lokasi tersebut banyak dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Baik masyarakat yang berasal dari Madura maupun dari luar.

Untuk masyarakat luar Jatim, kebanyakan berasal dari Cirebon, Banten, dan Tasikmalaya. Bahkan ada yang datang dari Malaysia dan Brunei. Kebanyakan, masyarakat memilih Goa Petapan dan Goa Potre untuk tempat tirakat.

Menurut kisahnya, Goa Petapan menjadi tempat bertapa Adipodai dan Goa Potre tempat bertapa Potre Koneng. Pada Abad 13, Aryo Kuda Panoleh (Jokotole) yang bergelar Seco Diningrat III hendak berperang dengan Sampotoalang -Dampo Awang (Laksamana dari Cina). Sebelum bertempur, Jokotole menghadap Adipodai di Geger. Sampai akhirnya dia mendapat senjata pamungkas berupa pecut.

Saat bertempur, Jokotole menunggangi kuda terbang. Sedangkan Dampoawang naik perahu terbang. Dalam perang tanding satu lawan satu, Dampoawang beserta perahunya berhasil dihancurkan tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Piring Dampoawang jatuh di Ujung Piring-sekarang nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah.

Nah, berawal dari cerita itu saat ini Goa Petapan dan Goa Potre dijadikan tempat tirakat oleh masyarakat. Di dua tempat yang dianggap keramat tersebut banyak yang mendapatkan benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan mistik.

Banyak orang yang tirakat di lokasi tersebut mengaku mendapat benda gaib. Seperti kisah Sukri, warga asal Kamal, yang mengaku mendapat besi kuning dan keris penangkal hujan saat bertirakat.

Selain itu, goa lain di Bukit Geger juga memiliki keunikan. Seperti Goa Pancong Pote. Goa yang berada di bibir tebing ini di saat hujan ada air yang mengalir di lantai goa yang sangat bening. Malah warnanya seperti pelangi. "Masyarakat biasa menyebutnya air tujuh warna," ujar Sekretaris Klub Pecinta Alam Kipoleng, Drs Mas Imam Lutfi.

Sedangkan di Goa Planangan, jelas Imam, terdapat stalaktit yang menjuntai ke bawah (maaf) mirip kemaluan pria. Uniknya, air yang menetes dari stalaktit diyakini bisa menambah keperkasaan pria. Sedangkan Goa Olar disebut begitu karena di depan mulut goa ada sebongkah batu yang mirip kepala ular. Goa tersebut berada di puncak bukit. (TAUFIQURRAHMAN)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 15 Okt 2007

Buju’ Gorang Garing

Ramai Dikunjungi di Malam Jumat Legi dan Nisfu Sya’ban

Buju’ Gorang Garing di Dusun Barumbung, Desa Lombang, Kecamatan Batang Batang, Sumenep berada di dataran yang agak tinggi. Lokasinya agak masuk sekitar 2 kilometer dari jalan raya yang menghubungkan Desa Lombang dengan Desa Lapa Taman, Kecamatan Dungkek. Namun, itu bukan halangan bagi warga untuk ngalap berkah di buju’ yang dikeramatkan tersebut.

Warga disekitar lokasi buju’ maupun kecamatan lainnya, lazim menyebut salah satu kawasan pemakaman berpasir yang berada di Dusun Barumbung itu sebagai buju’ Gorang Garing. Dari sekian makam lainnya, makam yang salah satu nisannya bertuliskan angka (tahun) 1390 menjadi jujukan ziarah banyak orang. Makam tersebut terlihat paling ’gagah’ daripada makam lainnya.

Suryadi, warga desa setempat yang ditemui koran ini mengaku tidak tahu asal-usul sang empu makam tersebut. Namun, dari cerita para leluhurnya, makam yang paling banyak dikunjungi orang itu adalah Gorang Garing. "Katanya, orang yang dimakamkan di sini adalah orang sakti yang bisa menggoreng kacang sampai garing di atas kain (sarung)," ujarnya.

Sedang makam-makam yang ukurannya lebih kecil dan berada di sekitarnya adalah para murid (santri) dari Gorang Garing. Tapi, memang tidak ada yang menunjukkan kepastian nama pemilik makam tersebut. "Orang sini tahunya ya Gorang Garing itu. Tapi, ada versi lain yang menyatakan kalau itu sebenarnya makam ulama besar dari Maroko," tuturnya.

Di sekitar buju’ Gorang Garing ditemukan sumber air panas. Pada tahun 1999 sampai sekitar 2000, sumber air panas itu juga banyak dikunjungi orang. "Air yang keluar dari sumber itu berbau belerang menyengat. Dulu, sumber air panas katanya bisa menyembuhkan sejumlah penyakit dalam maupun luar," terangnya pada koran ini.

Suryadi menjelaskan, warga setempat boleh dibilang memang tidak tahu secara pasti sejarah dari makam tersebut. Namun, setiap malam Jumat legi dan nisfu Sya’ban, makam itu ramai dikunjungi orang. "Mereka baru pulang dari buju’ Gorang Garing setelah pagi hari. Sebagian besar memang orang sini (Sumenep, Red). Tapi, ada orang Jawa yang juga ke sini," imbuhnya.

Buju’ Gorang Garing juga dipercaya punya kekuatan tersendiri. Sebagian besar dari orang yang mengunjungi buju’ Gorang Garing punya "keinginan". Tapi, jangan berharap sesuatu yang jelek bila mengunjungi buju’ Gorang Garing. "Orang yang bermalam di sini katanya minta keselamatan dan sebagainya. Kalau minta itu, katanya tidak akan diganggu," paparnya.

Suryadi mengungkapkan, buju’ Gorang Garing dipercaya warga setempat, tidak boleh diberi atap (penutup). Konon, warga setempat sempat beberapa kali membuat atap yang menaungi buju’ Gorang Garing. Namun, setiap diberi atap, di kawasan itu dilanda angin kencang yang hanya menyebabkan atap tersebut ambruk. "Itu dimaknai kurang berkenan diberi atap," urainya.

Lokasi buju’ Gorang Garing cukup jauh dari pemukiman penduduk. Sehingga, wajar bila kawasan tersebur kurang terawat. Apalagi, memang tidak orang yang menjadi juru kunci di buju’ tersebut. "Sejak saya kecil, buju’ ini hanya beratap langit dan di sebelahnya ada pohon yang daunnya akan menutupi sebagian makam-makam di sini," katanya. (SLAMET HIDAYAT)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 15 Okt 2007

Thursday, October 11, 2007

Peneliti Bahasa Madura dari The University of Iowa

Sudah Kumpulkan 25 Cerita Rakyat, Siap Cetak

Seperti peneliti dari luar negeri lainnya, Prof William D. Davies tertarik riset di Madura karena tak banyak penelitian tentang Madura. Sesuai bidangnya di linguistik, William meneliti tentang Bahasa Madura.

Director of Graduate Studies dari The University of Iowa, yang mengajar bahasa bangsa-bangsa di universitasnya ini, turun meneliti tentang tatabahasa Madura pada 2004. Selain tentang bahasa, William juga mengumpulkan cerita rakyat Madura (folklore). Untuk kedua riset ini, sedikitnya dia empat kali turun ke Madura. "Penelitian mengenai Bahasa Madura itu, saya lebih fokus pada masalah sintaksis," kata Wiliam saat di kunjungan ke Jawa Pos di Graha Pena Surabaya (9/10).

Saat turun ke Madura, William menemukan beberapa berbedaan kata antara satu daerah dengan daerah lainnya di Madura. Juga adanya tingkatan dalam pemakaian bahasa, seperti kasar dan halus. Dalam penelitian, dia lebih cenderung meneliti bahasa kasar Madura yang dinilai lebih mendekati bahasa asli Madura.

Selama penelitian di Madura, William banyak ditemani Hasan Sasra, budayawan yang tinggal di Bangkalan. "Menurut saya, penelitian William lebih pada bahasa mapas (kasar, Red), karena dianggap itulah Bahasa Madura yang asli," kata Hasan Sasra yang ditemui koran ini di rumahnya kemarin siang.

Ternyata, meski meneliti tentang Bahasa Madura, Wiliam tidak bisa berbicara dengan Bahasa Madura. Ketika diajak berbicara koran ini dalam Bahasa Madura, dia hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Hanya sedikit kosa kata Bahasa Madura yang dia tahu.

Menurut Hasan, di awal datang ke Madura William cukup lumayan jika bicara berbahasa Madura. Dia sering ngobrol dengan pegawai tempat dia menginap selama di Madura dengan Bahasa Madura. "Tapi ketika saya bertemu dia di Surabaya 2006 lalu, William mengaku sudah banyak lupa Bahasa Madura. Itu karena dia jarang menggunakannya, jadinya lupa," kata Hasan.

Selain masalah tatabahasa, William juga riset tentang folklore. Ada cerita menarik kenapa dia tertarik folklore Madura. Justru itu bermula dari ketika dia tidak menemukan buku-buku cerita rakyat Madura di toko-toko buku yang dia datangi. Dia pun heran. Sejak itu dia mengumpulkan cerita-cerita rakyat Madura.

Selama mengumpulkan cerita rakyat pada 2005, William datang ke empat kabupaten di Madura. Dia juga ditemani Hasan Sasra. Bagaimana hasilnya? "Sudah 25 floklore yang saya kumpulkan dan telah ditulis ulang," kata William.

Menurut Hasan, cerita rakyat itu dikumpulkan dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Dari Bangkalan antara lain Raden Sagâra, Rato Islam Onggu’, Bânya’ Dempo Abâng, Pangpang Sè Kamantan, Sunan Cendana, Ke’ Taji, Aer Mata, Geddâng Agung.

Cerita rakyat Sampang seperti Buju’ Keppo dan Bângsacara-Ragapadmi. Dari Pamekasan antara lain Perrèng Sojjin, Ki Moko dan Aryo Menak Semoyo. Sedangkan dari Sumenep seperti Bindhârâ Saod, Sayyid Yusuf, dan Orèng Belândâ Sè Ujub.

Proses pengumpulan floklore ini pun juga menarik. Hasan menceritakan kembali dalam Bahasa Madura. Kemudian cerita itu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan Inggris. Menurut William, 25 folklore tersebut sudah ditulis dalam Bahasa Inggris. Bahkan, siap untuk dicetak. Hanya, sampai sekarang belum menemukan sponsor untuk membukukan folklore Madura itu. (mat)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 11 Okt 2007

Monday, October 08, 2007

Teknologi Komunikasi dalam Pengamanan Lebaran

Dikirimi SMS, Dijawab Sedang Sibuk

Dibanding persiapan pengamanan Lebaran tahun lalu, tahun ini relatif lebih maju. Itu seiring dengan adanya fasilitas berupa teknologi komunikasi yang dimiliki oleh masing-masing polres. Namun, benarkah bisa membantu pengendara?

Sejak beberapa hari lalu, jajaran Polri, terutama di Polda Jawa Timur memperkenalkan nomor khusus. Ada dua nomor khusus yang bisa diakses oleh masyarakat, terutama pengendara. Yakni, nomor 1120 dan 9119. Nomor 1120 lebih banyak digunakan untuk lalu lintas informasi yang disampaikan oleh masyarakat. Sedangkan 9119 lebih banyak digunakan untuk masyarakat yang membutuhkan informasi atau bantuan dari polisi.

Kapolwil Madura Kombes Pol Badrun Arifin menjelaskan, penggunaan kedua nomor tersebut dalam rangka membantu masyarakat. Terutama dalam hal memermudah komunikasi. "Memang ada bedanya. Kalau yang 1120 masyarakat bisa menyampaikan informasi, sekaligus bisa bertanya lewat SMS (layanan pesan singkat, Red) mengenai suatu keperluan. Misalnya, lokasi rawan kecelakaan di daerah terdekat dan sebagainya," terangnya.

Sedangkan untuk 9119 bisa dihubungi oleh masyarakat secara langsung. "Misalnya, pengendara sedang perjalanan di Madura mau bertanya situasi jalan, bisa langsung menghubungi 9119. Nanti akan dijawab oleh kepolisian terdekat. Kalau menghubungi di sekitar Tlanakan, yang jawab Polres Pamekasan," jelas Kapolwil.

"Untuk yang 1120 memang harus melalui server di polda. Makanya, mungkin agak telat memberikan respons. Tapi, pasti direspons," tambahnya.

Menurut dia, ada peran besar pihak kepolisian dalam membantu masyarakat dalam pemanfaatan teknologi komunikasi. Untuk nomor 9119, peran Kasat Lantas relatif besar. Sebab, warga banyak membutuhkan informasi secara langsung oleh polisi selaku pemegang kendali situasi di wilayah tertentu.

Kapolwil mengaku waswas juga dengan penggunaan teknologi komunikasi. Terutama, pada fungsi nomor 1120. Sebab, jika sudah dilaksanakan, diperkirakan akan banyak pihak yang akan mengakses. "Khawatirnya, kalau sedang ramai-ramainya malah server-nya ngadat," kata Badrun lalu tersenyum.

Apa yang dikhawatirkan Kapolwil ternyata benar-benar terjadi. Sejumlah wartawan mencoba mengakses nomor 1120 sesuai dengan petunjuk Kapolwil. Yakni, membuat SMS (pesan singkat) yang diawali dari ketik Jatim spasi Pamekasan lalu spasi isi pesan.

Seorang wartawan mencoba mempraktikannya. Isi pesannya berupa pertanyaan mengenai lokasi rawan kecelakaan di Pamekasan. Dalam hitungan detik, muncul jawaban dari server atau operator yang tak jelas berada di mana. "Terima Kasih Atas Informasi dan Laporan Anda". Semula, wartawan mengira akan langsung menerima informasi dari server sesuai kebutuhan pesan yang dikirim. Tak lama setelah menerima pesan dari server, lalu muncul pesan lanjutan. Isinya, "Untuk Sementara Kami Belum Bisa Melayani, Kami Masih Dalam Acara Launching". "Aneh juga, katanya langsung bisa mendapat akses informasi. Tapi, ternyata sampai 24 jam lebih tidak ada respons lanjutan. Sepertinya operatornya sedang sibuk" ungkap Zaini, salah seorang reporter TV swasta yang mencoba mengakses 1120.

Sementara saat menghubungi 9119, Zaini mengaku langsung tersambung dengan Kasat Lantas Polres Pamekasan AKP Sulardi. "Kalau yang 9119 memang langsung menyambung. Mudah-mudahan yang 1120 dan semua fasilitas itu bisa digunakan dan benar-benar berguna bagi pengendara," harap Zaini. (AKHMADI YASID)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 08 Okt 2007

Pulau Nyamokan Surga Bagi Para Pemancing

Harus Siap Bekal dan Mental

Pulau Nyamokan merupakan pulau kosong yang berada di sisi barat wilayah Kabupaten Bangkalan. Dari segi geografis, Nyamokan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Gresik. Selama ini, Nyamokan dikenal sebagai surga bagi para penghobi mancing. Mengapa?

Meski sudah biasa, namun menyalurkan hobi memancing ke perairan Laut Jawa tepatnya kawasan Pulau Nyamokan, ternyata berbeda dengan memancing di kawasan pesisir lainnya. Apalagi jika sang pemancing selama ini hanya sebatas memancing di sungai atau kolam pancing. Sebab mancing di laut lepas tantangannya jauh berbeda.

Salah satu contoh jika memancing di Nyamokan. Selain terkendala ombak, fisik sang pemancing dan bekal mental juga sangat dibutuhkan. Tak hanya itu, jika memang pengin berlama-lama menghabiskan waktu dengan mengail ikan di perairan, bekal makanan juga sangat diperlukan. "Untuk memancing ke Pulau Nyamokan kita harus membawa bekal panganan yang cukup. Tentunya selain kesiapan fisik dan mental yang prima," ujar Agus, seorang penghobi berat memancing asal Kota Bangkalan.

Bekal panganan menurut Agus sangat dibutuhkan saat memancing di lautan luas. Sebab jika tidak ada makanan dan minuman, tentu bakal berpengaruh pada daya tahan sang pemancing. "Tapi juga harus diingat bahwa bekal yang dibawa secukupnya saja. Sebab niat utama kita kan memancing. Bukan pindah rumah," tegasnya.

Yang sangat perlu diperhatikan saat berniat mancing di Nyamokan adalah faktor fisik. Sebab dengan lokasi yang jarak tempuhnya sekitar 4 - 7 jam perjalanan pulang-pergi dengan perahu, kendala mabuk laut selalu menghantui. Lebih-lebih bagi para pemancing pemula yang belum pernah terombang-ambing di perahu.

Waktu 4 - 7 jam tersebut berlaku bagi pemancing "kelas biasa". Berbeda lagi bagi pemancing yang memang hobi berat. Tak sedikit para penggila pancing yang sampai bermalam di Pulau Nyamokan. Bahkan ada yang bisa lebih dari sehari. "Bahkan pernah ada seorang wisatawan dari Korea, mereka tampaknya penghobi memancing dan ingin tahu di Nyamokan. Ternyata setelah sampai di sana dia menginap 2-3 hari," cerita Agus.

Untuk sampai ke lokasi memancing di pulau Nyamokan bisa dimulai dari beberapa titik lokasi kampung nelayan. Di Bangkalan misalnya, bisa dimulai dari kampung nelayan Bandaran, Lebak, dan Mertajasah. Tentu saja, dengan fasilitas menyewa perahu para nelayan yang harga sewanya Rp 50 - Rp 75 ribu sekali jalan.

Jarak tempuh perahu pun tidak sama, bergantung PK mesin masing-masing perahu. Ada yang 10 PK maupun 20 PK. Untuk 10 PK biasanya lebih lama, sekitar 45 menit sampai 1 jam baru sampai di lokasi dengan jarak sekitar 8 mil laut atau sekitar 7 km. Sedangkan untuk waktu 'melaut' kebiasaan pemancing ulung berangkat malam jam 01.00 WIB pulang pagi atau siang.

Biasanya, penghobi mancing sudah mengenai waktu yang tepat untuk menyalurkan hobinya. Ini berkenaan dengan cuaca dan lokasi yang biasanya banyak dihuni ikan-ikan. "Biasanya kalau arus agak deras disitu banyak ikannya. Tetapi kalau arusnya landai-landai saja biasanya ikan sepi," kata seorang penghobi mancing yang lain.

Sayang, ketika wartawan Koran ini menginjakkan kaki di Nyamokan, hanya segelintir pemancing yang terlihat. Maklum, saat itu masing siang hari dengan suhu terik matahari mencapai 35 derajat celcius. Sekilas mata memandang, hanya 4-5 perahu dengan jumlah pemancing 3 orang ditiap perahu.

Itu bakal berbeda jika sedang liburan. Menurut nelayan yang membawa wartawan Koran ini ke Nyamokan, biasanya mencapai 10-20 perahu nelayan yang disewa pemancing. Mulai dari karang pembatas ke dalaman yang berada sekitar 300 meter dari bibir pantai hingga di kawasan pulau Nyamokan sendiri.

Sesampai di kawasan Pulau Nyamokan, apa yang menjadi dambaan pemancing memang terbukti. Sebab ikan yang bisa didapat cukup banyak dan beragam. Mulai dari ikan kerapu, sembilangan, kakap hingga baronang. (RUSLI DJUNAIDI)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 07 Okt 2007

Sunday, October 07, 2007

Petani Madura Kesulitan Air

Produksi Padi dan Harga Tembakau Merosot
Cuaca tidak berpihak kepada sejumlah petani di Bangkalan dan Sampang. Petani sawah di Bangkalan mengeluhkan hasil panen yang menurun karena terbatasnya pasokan air. Adapun petani tembakau di Sampang mengeluhkan tembakau yang rusak karena kemarau basah. Abusiri (40), salah satu petani di Kecamatan Socah, Bangkalan, Sabtu (8/9), mengatakan bahwa hasil panen pada masa panen kedua tahun ini menurun dibandingkan dengan hasil panen pada masa panen kedua tahun lalu.

Jika tahun lalu dia bisa mendapatkan 3.750 kilogram gabah kering sawah dari areal lahan sawah yang digarapnya seluas tiga hektar, tahun ini dia hanya bisa memperoleh 2.500 kilogram gabah kering sawah. Menurunnya hasil panen ini disebabkan pasokan air dari sumber air di Sumber Pocong, Bangkalan, yang mengairi sawahnya, tidak sebanyak tahun lalu. "Apalagi ditambah pada musim tanam kedua tahun ini musim kemarau lebih cepat datang sehingga air yang masuk ke sawah petani betul- betul terbatas," kata Abusiri. Saat air masih banyak atau saat musim hujan, sawahnya bisa menghasilkan sampai 5.000 kilogram gabah kering sawah.

Sementara itu, di Sampang, sejumlah petani tembakau di Kecamatan Torjun mengeluhkan turunnya harga tembakau dari Rp 20.000 per kilogram menjadi Rp 10.000 per kilogram. Turunnya harga tembakau ini disebabkan kualitas tembakau yang diproduksi oleh petani tidak baik. "Kualitas tembakau buatan petani buruk karena musim kemarau basah yang melanda daerah kami atau hujan masih sesekali turun saat musim kemarau. Hujan itu sesekali turun Juli dan Agustus lalu. Padahal, kalau mau tembakaunya baik, tanaman tidak boleh terkena air," ujar Abdul Malik, salah satu petani tembakau di Torjun.
Meskipun harga tembakau setiap kilogram sudah diturunkan separuhnya, tetap saja Abdul dan sejumlah petani lain kesulitan menjualnya. "Tidak ada yang mau membeli karena kualitasnya buruk," ujarnya sambil menunjukkan tiga ton tembakau hasil panen yang belum terjual di gudangnya.

Imbas dari hal ini sebanyak 15 penggarap lahan tembakau yang disewa Abdul untuk mengerjakan tiga hektar lahan miliknya belum bisa diberi upah. Setiap penggarap lahan ini sedianya dibayar Rp 5.000 untuk setiap kilogram tembakau yang dihasilkan dari lahan milik Abdul. Namun, Abdul belum bisa membayarnya karena hasil panen tembakau belum laku dibeli. (APA)

Sumber: Kompas, 10/09/07

Kepala Desa Perempuan Terakhir

Pelantikan kepala desa gelombang terakhir di Pendapa Ronggosukowati kemarin terasa sedikit istimewa. Sebab, satu diantara tiga kepala desa yang dilantik berjenis kelamin perempuan. Dia adalah Indriyani, 43, Kepala Desa Batu Kerbuy, Kecamatan Pasean.

Keistimewaan dimaksud bukan hanya terletak pada dilantiknya kaum perempuan sebagai pemimpin. Melainkan, pelantikan tersebut sekaligus menutup seluruh rangkaian pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) di Pamekasan 2007.

Selain Indriyani yang dilantik sebagai kepala Desa Batu Kerbuy, ada dua kepala desa lain juga dilantik. Diantaranya, Kepala Desa Larangan Dalam, Kecamatan Larangan, Saliman dan Kepala Desa Bulangan Timur, Kecamatan Pegantenan, M. Wardi.

Pelantikan dipimpin langsung oleh Bupati Pamekasan Drs Ach. Syafii sekitar pukul 09.00. Diawali dengan pengambilan sumpah, acara pelantikan dilanjutkan acara ramah tamah dan pemberian ucapan selamat kepada kepala desa terpilih dan keluarga.

Bupati Syafii dalam sambutannya meminta kepada kepala desa yang dilantik agar menjalankan amanah dengan baik. Menurut dia, kepala desa merupakan salah satu pihak yang bertanggung jawab untuk memajukan desa dalam pembangunan. "Tentunya dengan bantuan dan kerja sama dengan semua pihak, kepala desa harus bertanggung jawab dalam memajukan desa. Di pundak saudara kepala desa terpilihlah kemajuan desanya masing-masing," ujar Syafii.

Sementara itu, Kepala Bagian Tata Pemerintahan Setkab Pamekasan M. Syakir mengatakan, pelantikan kepala desa tersebut merupakan pelantikan terakhir bagi kepala desa pada 2007. "Selanjutnya, bagi desa yang habis masa jabatannya setelah ini akan digelar pilkades dan pelantikan setelah pilkada 2008," katanya. Syakir juga mengatakan, pada 2007 dari sekitar 96 kepala desa yang sudah dilantik, beberapa diantaranya dijabat kaum perempuan. "Kalau tidak salah jumlah kepala desa perempuan mencapai 13 kepala desa yang tersebar di beberapa kecamatan," ungkapnya.

Sementara itu, Indriyani kepada wartawan mengatakan, pihaknya siap melaksanakan pembangunan di desanya. "Kita berharap pelantikan ini menjadi awal kehidupan baru bidang tata pemerintahan di desa, utamanya di Batu Kerbuy. Mudah-mudahan semua pihak bersatu untuk membangun desa ke depan," katanya. (zid)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 02 Sept 2007

Bunga Bank Diminta Dikembalikan ke Kas Negara

Kesaksian Mantan Bapimpro Dinsos Jatim

Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi penyalahgunaan bantuan dana pengungsi Sampit, Kalimantan Tengah (Kalteng), di Pengadilan Negeri (PN) Sampang kemarin menghadirkan saksi mantan Bapimpro Dinsos Jatim Mas’udi. Dalam sidang terungkap, DPRD Sampang pernah meminta data penerima bantuan pengungsi Sampit kepada Dinas Sosial (Dinsos) Jatim. "Karena yang meminta adalah wakil rakyat, kami tidak bisa menolak. Apalagi tujuannya baik, yaitu mengroscek data penerima dana bantuan pengungsi yang ada di Dinsos Jatim dengan data penerima bantuan yang dikeluarkan Depsos Pusat yang dipegang DPRD Sampang," ujarnya.

Kepada majelis hakim yang diketuai Agus Jumardo SH, Mas’udi menjelaskan, tugas pimbapro hanya memonitor dan mengawasi pelaksanaan pendistribusian dana pemulangan pengungsi. Ditanya soal kwitansi laporan penerimaan dan bantuan, dia mengaku menandatangani empat tahap penyaluran dan satu kali dana terminasi. Mas’udi juga mengaku telah menerima laporan pelaksanaan kegiatan pendistribusian dana pemulangan pengungsi tersebut. "Tapi, kami tidak menerima laporan bunga dari Kantor Kesos Sampang. Sebab, untuk bunga laporannya tersendiri," terangnya.

Begitu mengetahui adanya bunga bank, pihak Dinsos Jatim memerintahkan agar dikembalikan ke kas negara. Alasannya, bunga tersebut tidak bisa digunakan dengan alasan apa pun. Meski sudah ada laporan dan rincian biaya penggunaan operasional. "Laporan bunga bank itu, kami ketahui setelah pendistribusian dan penyaluran dana pengungsi rampung," aku Mas’udi.

Dia juga menjelaskan tentang memorandum of understanding (MoU) antara Dinsos Jatim dengan Kantor Kesos Sampang. Dalam nota kesepahaman itu disebutkan, Kantor Kesos Sampang siap mendistribusikan dana bantuan pemulangan kepada pengungsi Sampit. Mengenai mekanisme pencairannya dan kebijakan melibatkan pihak ketiga Forum Komunikasi Korban Kerusuhan Kalteng (FK-4), hal tersebut adalah kewenangan Pemkab Sampang.

Sebelum dicairkan, Dinsos Jatim telah meminta agar Kantor Kesos Sampang menyeleksi penerima dana bantuan tersebut. "Sebab data awal pengungsi itu muncul dari FK-4. Karena itu, kami minta data awal tersebut tidak ditelan mentah-mentah dan harus diseleksi ulang," ujarnya.

Dalam laporan bunga bank, Kantor Kesos Sampang memang telah melampirkan rincian penggunaan biaya operasional dan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi. Tapi, Dinsos Jatim tetap meminta agar bunga bank tersebut dikembalikan kepada kas negara.

Sedangkan dalam MoU yang ditandatangani terdakwa satu Kepala Kantor Kesos sampang Drs H Moh. Ruslan MM, Kepala Dinsos Pemrov Jatim, pimbapro, dan bupati Sampang terungkap bahwa dana bantuan tersebut telah dikirim ke Pemkab Sampang dan harus disampaikan kepada pengungsi yang berhak. Yang menarik, dalam MoU tersebut tidak menjelaskan keterlibatan langsung maupun tidak langsung terdakwa tiga Drs Zainal Arifin.

Sementara dalam kesaksiannya, mantan Kepala Kantor Kesos Drs H Saryono MM yang menjabat mulai Desember 2005 sampai Mei 2006 mengakui adanya dana bantuan sebesar Rp 16 miliar. Termasuk, daftar nama penerima berdasarkan by name by addres. "Itu berdasarkan laporan terdakwa dua Drs Eddy Catur dan terdakwa tiga Drs Zainal Arifin," ujarnya.

Selama menjabat kepala Kantor Kesos Sampang, Saryono mengaku telah mencairkan dana pemulangan sebesar Rp 8 miliar lebih. Setelah diperiksa tim Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada Januari 2006, diketahui masih ada bunga bank yang harus dikembalikan. Tapi, dia mengaku tidak mengetahui berapa jumlahnya. "Saat itu, saya langsung memerintahkan tersangka dua Drs Eddy Catur segera mengembalikan bunga tersebut ke kas negara," terang Saryono.

Dia juga mengungkapkan, bantuan dana pemulangan tersebut diberikan kepada FK-4 melalui terdakwa dua Drs Eddy Catur. Sedangkan pendistribusian di lapangan diserahkan sepenuhnya kepada FK-4. "Saat menyerahkan laporan, FK-4 hanya memberikan laporan pelaksanaan kegiatan tanpa melampirkan laporan keuangan," ungkapnya.

Untuk mengingatkan, sidang kasus dugaan korupsi dana pemulangan pengungsi Sampit ini dengan tiga terdakwa, yakni mantan Kepala Kessos Drs Moh. Ruslan, Bendahara Kessos Eddy Catur SE, dan mantan Kasi Pesos Drs Zainal Arifin. Jaksa penuntut umum (JPU) menyatakan ketiga terdakwa menikmati bunga bank dana pemulangan pengungsi Sampit. Jumlah total bunga dana pemulangan yang dinikmati ketiga terdakwa, mencapai Rp 297 juta. Rinciannya, terdakwa Moh. Ruslan kebagian Rp 237 juta, Eddy Catur Rp 40 juta, dan Zainal Arifin Rp 20 juta.

Sementara itu, ditemui usai sidang, Ketua PN Sampang Agus Jumardo SH mengatakan, jumlah saksi yang rencananya akan dipanggil tinggal lima orang. Tapi tidak menutup kemungkinan akan memangil saksi dari Bank Jatim. Dia menjelaskan, berkas perkara yang melibatkan tiga terdakwa pengurus FK-4 sudah diterima PN Sampang Selasa (2/10) kemarin. "Setelah Lebaran, sidang terhadap ketiga terdakwa penyalahgunaan dana pengungsi ini akan digelar bersamaaan dengan sidang terdakwa bunga bank," terangnya. (fiq)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 04 Okt 2007

Biasa Terima Pemberian Bersifat Pribadi

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal (Purn) R Hartono mengatakan, pemberian rumah di Jalan Suwiryo Nomor 7, Menteng, Jakarta Pusat, oleh tersangka perkara dugaan korupsi dana PT Asabri, Henry Leo, hanyalah pemberian yang bersifat pribadi dan pertemanan. Menurut Hartono, Jumat (5/10), pemberian bersifat pribadi seperti itu sudah biasa dan banyak ia terima. Pemberian seperti itu, menurut dia, sama sekali tak ada kaitan dengan posisinya sebagai KSAD, apalagi dikait-kaitkan dengan dana PT Asabri. Hal itu disampaikan Hartono seusai menghadiri upacara peringatan HUT Ke-62 TNI di Markas Besar TNI Jakarta.

"Pemberian itu kan dari pribadi ke pribadi. Kan banyak pemberian seperti itu. Pertemanan biasa saja. Saya tak ada hubungan dengan PT Asabri, jadi saya tidak tahu-menahu. Saat itu PT Asabri kan di bawah Hankam (Departemen Hankam), sementara saya ini KSAD. Jadi, itu hanya setitik kecil saja," ujar Hartono. Hartono juga mengakui dirinya dengan Henry Leo berteman baik dan sama sekali tidak melihat ada motif lain dari pemberian rumah tersebut.

Ia mempersilakan pihak Kejaksaan Agung jika akan terus menyidik kemungkinan motif pemberian rumah yang dibeli dari dana yang diselewengkan dari PT Asabri. Yang penting, menurut Hartono, dia sudah mengembalikan rumah itu ke Kejagung. (DWA)
Sumber: Kompas

Saturday, October 06, 2007

Saatnya Seniman Duduk se Meja

Memasuki akhir tahun 2007 ini, para seniman Bangkalan hendaknya menyatukan visi dan pandangannya. Itu, dalam rangka membangun dunia kesenian di Bangkalan yang selama ini tidak aktif. Demikian dikatakan pengasuh Sanggar Tari Tarara Sudarsono saat ditemui Koran ini seiring dengan habisnya masa kepengurusan Dewan Kesenian Bangkalan (DKB) 2003-2007. Menurut pria yang akrab disapa Mas So ini, selama ini dirinya merasa malu karena selalu disindir oleh pengurus DKB Jawa Timur. Dimana dunia seni Bangkalan terbaca tidak aktif.

"Padahal, saya selaku pelaku seni di Bangkalan merasa tidak seperti itu. Bahkan sanggar tari saya selalu mendapat undangan dari mana-mana untuk tampil. Tetapi di tengah kehadiran saya memenuhi undangan itu mereka selalu menilai bila dunia kesenian di Bangkalan tetap saja tidak aktif," keluhnya.

Karena itu, kata Mas So seiring dengan habisnya kepenguruan DKB periode 2003-2007 ini dirinya berharap agar semua pelaku seni duduk satu meja. Atau, imbuhnya, kalau perlu menggelar musyawarah besar kabupaten para seniman untuk membicarakan persoalan seni. Ini tak lain untuk kebaikan dan kemajuan seni di Bangkalan di masa mendatang.

Benarkah ada kabar bahwa DKB Bangkalan ada dua versi? Dengan tersenyum seniman tari yang beberapa bulan mencari musik tok-tok dalam berbagai versi ini mengatakan bahwa itu tidak perlu diungkapkan lagi. "Bagi saya itu jangan menjadi persoalan. Sebaliknya yang harus kita bangun mulai saat ini adalah bagaimana kita, seniman bicara satu meja. Baik seni musik, tari, lukis, teater, dan sebagainya. Tema bahasannya yang terpenting adalah membicarakan bagaimana seni di Bangkalan ini bisa lebih baik dari sebelumnya. Dan kalau bisa menjadi salah satu ikon seni di Jawa Timur," ujarnya. (rd)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 06 Okt 2007

Thursday, October 04, 2007

Pemuda Pelopor Jawa Timur asal Pamekasan

Lulusan STM yang Sukses Memodifikasi Kincir Angin

Prestasi yang diraih Hendry Darmawan, 28, asal Desa Buddih, Kecamatan Pademawu, patut dibanggakan. Atas keberhasilannya memodifikasi kincir angin, dia terpilih sebagai pemuda pelopor yang akan mewakili Jawa Timur ke tingkat nasional.

Latar belakang pendidikan terkadang tidak memengaruhi kemampuan seseorang. Begitulah yang dialami oleh Hendry Darmawan. Meski hanya berlatar belakang lulusan STM (sekolah teknik menengah), dia mampu menunjukkan karya besar. Yakni, memodifikasi kincir angin yang konvensional menjadi fleksibel.

Prestasi itu mendapat apresiasi dari banyak pihak. Termasuk dari tim dewan juri pemuda pelopor tingkat Jawa Timur. Prestasi Hendry mencuri perhatian dewan juri yang kemudian memberinya tiket menuju tingkat nasional.

Untuk menuju tingkat nasional, pria yang kini telah berputra itu harus berjuang keras mengikuti berbagai ujian. Termasuk, ujian lapangan yang dilakukan tim dewan juri pemuda pelopor tingkat nasional dari Jakarta. Kemarin tim dewan juri dari Jakarta mendatangi Hendry untuk "menginterogasi" seputar karya besarnya.

Bertempat di Balai Desa Buddih, Kecamatan Pademawu (8 km arah tenggara Kota Pamekasan), Hendry secara lugas memresentasikan hasil karyanya. Menurut dia, karya yang dihasilkannya itu diperoleh dari inspirasi saat mengunjungi lahan pegaraman. "Saya melihat kincir angin yang ada selama ini hanya mengandalkan angin satu arah. Makanya, saya berpikir untuk memodifikasi agar arah kincir angin bisa dari berbagai arah," katanya meyakinkan.

Untuk memodifikasi kincir angin agar bisa menerima angin dari berbagai arah itu, Hendry memodifikasi bagian mekanik kincir. Jika sebelumnya tak menggunakan kemudi, dengan hasil karyanya Hendry membuatkan kemudi. "Kemudi itu akan bisa diterpa angin dari segala arah. Untuk memudahkannya, di dalam kincir angin kita pasangkan as atau sejenis roda agar bisa leluasa berputar," terangnya.

Alhasil, Hendry pun menjadi orang pertama yang mampu memodifikasi kincir angin agar lebih fleksibel. "Saya tidak pernah berpikir untuk mematenkan temuan ini. Sebab, saya semata-mata ingin membantu warga saja," terangnya polos. "Kincir angin fleksibel ini bisa bermanfaat untuk bidang industri, seperti garam dan home industry, pertanian, perkebunan untuk menyiram tembakau, maupun untuk memelihara ikan di tambak," sambungnya.

Kini kincir angin hasil karya Hendry telah dipasang di delapan desa di Pamekasan. Terutama, di desa-desa yang kebanyakan penduduknya mengandalkan produksi garam sebagai mata pencaharian utamanya. "Yang pasti, dengan kincir angin, ini akan menghemat energi, efisien dan terjangkau," terangnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Kesra Setkab A. Razak Bahman melalui Kasubag Pemuda dan Olahraga M. Yasin menjelaskan, sosok Hendry memang termasuk pemuda yang ulet. Hendry memiliki banyak aktivitas dalam kesehariannya. "Banyak organisasi yang diikutinya. Mulai dari remaja masjid, ketua klub voli, termasuk memelopori pemuda setempat dalam hal keterampilan cat air brush," jelas Yasin.

Atas dasar itulah, banyak yang mendasari kepeloporan Hendry. Terutama bidang kewirausahaan dan teknologi tepat guna. "Untuk kewirausahaan sudah jelas, dia memelopori pemuda desanya untuk berusaha bidang pengecatan. Untuk teknologi tepat guna, ya modifikasi kincir angin itu," paparnya.

Yasin berharap Hendry bisa mengharumkan nama Pamekasan dan Jawa Timur di pentas nasional. Dengan kemampuan dan kepeloporannya di bidang kewirausahaan dan pemanfaatan teknologi tepat guna, Hendry diyakini bisa meraih prestasi gemilang tingkat nasional. (AKHMADI YASID)

Sumber: Jawa Pos, Senin, 01 Okt 2007

Pemerintah Kabupaten Bangkalan Bangun Pasar Induk

Diproyeksikan Jadi Pusat Kulakan di Madura

Tahun ini Pemkab Bangkalan bakal menyelesaikan salah satu obsesi terbesarnya. Yakni, pembangunan Pasar Induk yang kelak bakal menjadi pasar kulakan di Madura seiring selesainya jembatan Suramadu dan pengembangan kota.

Tidak lama lagi kawasan Jalan Halim Perdanakusumah atau dikenal dengan Jalan Lingkar Luar (ring road), bakal menjadi basis pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Bangkalan. Setidaknya, itu mulai terlihat dari aktivitas pembangunan Pasar Induk yang kini tengah dilaksanakan oleh Pemkab Bangkalan.

Seiring dengan dibangunnya Pasar Induk, kini kawasan ring road sudah banyak berdiri perumahan-perumahan yang dibangun pengembang yang kelak bakal menopang keramaian pasar. Tidak hanya itu. Dikawasan ring road pula, juga terdapat kompleks gelanggang olahraga (GOR) yang konon bakal terbesar di Madura, yakni GOR SAKA.

Belum lagi berdirinya gudang-gudang serta tempat usaha di sepanjang jalan yang mengitari Kota Bangkalan bagian timur itu. Pengembangan pembangunan kearah selatan kota memang menjadi program Pemkab Bangkalan. Itu menyusul perkembangan kota yang dinilai sudah mengalami kejenuhan, khususnya di pusat Kota Bangkalan.

Apalagi, menjelang jembatan Suramadu, penataan kota pun harus disesuaikan dengan tata ruang yang ada. Sehingga perkembangan Kota Bangkalan yang berjarak sekitar 5 km dari pintu masuk tol jembatan Suramadu di Kecamatan Burneh itu tetap akan bisa berkembang.

Khusus pembangunan Pasar Induk yang dianggarkan senilai Rp 50 miliar lebih, pemkab berobsesi menjadikanya sebagai pusat grosir di Madura. Sebab, letaknya menguntungkan, yakni berdekatan dengan Surabaya. "Kedepan, memang diusahakan pasar ini bakal menjadi pusat grosir menggantikan posisi Pasar Turi (pusat grosir kulakan, Red.) di Surabaya. Paling tidak masyarakat Madura yang akan kulakan nantinya bisa hanya sampai di Bangkalan saja tidak perlu ke Surabaya untuk kulakan," kata Kadis Kimpraswil Bangkalan, Ir H Tamar Djaja MM, kemarin.

Untuk bisa menggapai obsesi itu, Pemkab harus merogoh kocek senilai Rp 50 miliar. Selain itu, menyediakan lahan yang akan digunakan seluas 6,8 hektar dengan komposisi pasar tradisional dan semi modern.

Untuk pasar semi modern akan dibangun 2 lantai dan sebagian 3 lantai yang berada disisi timur. Sedangkan khusus pasar tradisionalnya yang berada di sisi barat pasar semi modern, dibangun 1 lantai yang terdiri dari beberapa blok.

Pembangunan Pasar Induk ini, kata Tamar, juga merupakan pengganti pasar baru Kota Bangkaklan yang saat ini berada di tengah-tengah kota atau disebelah utara alun-alun. Kondisi pasar pasar yang sudah jenuh, baik dari sisi situasi lalu lintas, keindahan dan kepadatan pusat kota, menjadi dasar perpindahan pasar tersebut ke kawasan ring road. "Selain harapan Bapak Bupati untuk mengembangkan kawasan segitiga emas di kawasan ring road, dibangunnya pasar induk ini juga untuk menampung para eks pedagang pasar kota yang ada saat ini," tukas Tamar.

Dijelaskan, pembangunan pasar induk dilakukan bukan tanpa perhitungan. Sebaliknya, ditata dengan konsep untuk memudahkan konsumen maupun penjual yang bakal berada di Pasar Induk. Dan, tata letak pedagang di pasar induk ini juga diatur berdasarkan jenis jualan dalam blok-blok tersendiri.

Misalnya, untuk pedagang sayur mayur ada di blok tersendiri, dan pedagang makanan ringan dan daging, tidak akan disatukan dengan pedagang pakaian dan sebagainya. "Yang jelas Pasar Induk ini nantinya akan mengedepankan keindahan, kenyamanan, dan keamanan juga dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas umum seperti toilet yang memadai, kemudian lahan parkir yang luas, taman, bak sampah, menara air dan masjid," terangnya. "Kita yakin untuk pasar tradisional bakal rampung akhir tahun ini," pungkasnya. (RUSLI DJUNAIDI)

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 12 Agt 2007

MUSAFIR DI BATU AMPAR

Seorang musafir mengurai waktu di perbukitan tandus Batu Ampar, Pamekasan. Di antara nisan makam dan sunyi, Huda (49), sang musafir itu, membenamkan diri dalam doa.

Pria berperawakan kurus asal Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, itu genap sebulan tinggal di Pesarean Batu Ampar Barat. Pesarean Batu Ampar Barat adalah kompleks pemakaman keluarga kiai-kiai keturunan Syech Abdul Manan, yang sering disebut sebagai Buyut Kesambi.

Kompleks seluas sekitar 0,5 hektar itu menjadi obyek ziarah umat Islam, terutama setiap Jumat Legi. Lokasinya di Desa Pang Bathok, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Madura. Dari Kota Pamekasan jaraknya sekitar 15 kilometer ke arah barat.

Sabtu (08/09) siang itu, seperti hari-hari sebelumnya, Huda (40) duduk di belakang meja kecil dalam ruang mungil yang disebutnya sebagai kantor di Pesarean Batu Ampar, Pamekasan. Berjam-jam pria kurus setinggi 170 sentimeter itu duduk. Di atas meja terdapat buku tamu dan buku silsilah kiai di Batu Ampar yang dijual Rp. 10.000-an.

Berkemeja batik dipadu celana panjang hitam tidak membuat Huda menonjol dibanding meja di depannya. Bahkan kopiah putih di kepalanya pun tetap tidak menolong. Justru papan kayu berukuran 40 sentimeter x 80 sentimeter yang menggantung pada tembok, tepat di belakang punggung Huda, lebih mencuri fokus. Di situ tertulis beberapa nama kiai yang disemayamkan di Batu Ampar.

Saat datang rombongan 30-an peziarah yang mayoritas ibu-ibu, Huda pun bertanya, "Dari mana, Pak?". Mustaqin (27), pemimpin rombongan yang masuk ke kantor, membalas, "Dari Tuban, mas".

Huda lalu meminta Mustaqin mengisi buku tamu dan membaayar retribusi yang tarifnya Rp. 20.000,- per bus. Kemudian Mustaqin menyusul rombongan yang sedang mencari tempat longgar di sekitar nisan.

Di Batu Ampar, Huda menjadi semacam penjaga. Ia mengenalkan diri sebagai musafir dan menolak untuk disebut juru kunci. Tugas sehari-hari melakukan pemnbukuan harian dan melayani sekaligus menata para peziarah kala jumlahnya membludak.

"Saya di sini untuk mencari ketentraman batin. Ini hanya laku prihatin kok, mas, bukan pilihan hidup," tutur Huda menjelaskan posisinya. Laku prihatin itu diwujudkannya dengan berkelana dari satu tempat ziarah ke tempat lainnya. Sepanjang lakunaya itu ia berucap doa kepada sang Khalik, siang dan malam.

Berkah

Suasana tempat ziarah seperti di Batu Ampar yang tenang dirasa Huda pas untuk berucap doa. Ia percaya, ada berkah di tempat-tempat peziarahan itu. Harapannya, laku prihatin yang dijalaninya akan menjadi berkah yang tercurah ke anak dan istrinya di Blitar. "Semuanya ini saya lakukan terutama demi anak saya agar semakin soleh dan hidupnya baik kelak," tutur Huda.

Saat berkelana, ekonomi keluarga Huda digantungkan pada warung kelontong. Warung itu disebutkan Huda tidak besar, tetapi bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, termasuk uang jajan Fahma (9), puterinya yang duduk di bangku kelas 4 SD.

Berawal dari rasa jenuh di rumah, pria yang sempat menjadi pegawai honorer di kantor kelurahan itu memulai perjalanannya sebagai musafir di makam Kiai Ageng Aliman di gunung Wilis, Nganjuk. Di sana Huda tinggal selama sebulan. Sejumlah tempat ziarah dirambahnya, termasuk Jogjakarta.(FX LAKSANA AGUNG SAPUTRA)

Sumber: Kompas

Monday, October 01, 2007

Prosesi Pemakaman KH M. Tidjani Djauhari

Didoakan Ribuan Umat, Diwarnai Isak Tangis Pelayat

Sore hari kemarin di Ponpes Al Amien Prenduan ribuan orang datang melayat. Pengasuh pondok KH Tidjani Djauhari MA berpulang ke rahmatullah. Berdasar hasil diagnosa, almarhum menderita penyakit jantung. Meski sempat dirawat di RS Jantung Harapan Kita Jakarta, Allah SWT mengehendaki lain.

Usai subuh kemarin, hampir setiap masjid/musala di kecamatan Pragaan Sumenep menyiarkan berita duka. Kabar itu tak saja mengejutkan warga di sekitar lokasi pondok pesantren. Kabar duka lainnya yang terkirim antarponsel melaui pesan pendek terus bertiup ke se antero Madura, regional Jatim, nasional, bahkan ke manca negara. Terutama kepada semua orang yang pernah mengenal sosok Tidjani.

Sejak pagi orang-orang berdatangan ke Ponpes Al Amien. Mereka para pejabat di lingkungan Pemrov Jatim, bakorwil IV, dan petinggi empat kabupaten di Madura. Ada juga anggota DPRD Jatim Achmad Rubai dan Darwiz Maszar. Kandepag Jatim Roziqi yang didampingi Kakandepag se Madura juga datang.

Jajaran muspida se Madura dan alumni pondok di berbagai nusantara tampak di kerumunan para pe-taksiah. Begitu juga para ulama se Madura juga turut hadir dan mendoakan almarhum. Sebagian besar pelayat, menitikan air mata terutama ketika jenazah diangkat menuju pemakaman keluarga Ponpes Al Amien.

Menjelang detik-detik pemakaman yang dijadwalkan pukul 16.00 WIB, orang-orang semakin ramai berdatangan. Untuk pelayat laki-laki, bergantian masuk ke masjid dan melaksanakan salat jenazah. Masjid Jamik Al Amien ini selain penuh sesak para pelayat, suara tahlil dan doa membahana di masjid terbesar se Kecamatan Pragaan ini.

Posisi jenazah di dekat mimbar masjid, dekat tempat imam memimpin salat. Di kiri kanan jenazah yang berada dalam keranda bertabir kain hijau bertuliskan kalimat syahadat, para ulama membaca doa dan tahlil. Di antara ratusan ulama di dekat jenazah Kiai Tidjani itu, terdapat dua adik almarhum, KH Idris Djauhari dan KH Maktum Djauhari.

Di dekat keduanya duduk pengasuh ponpes se Madura. Diantaranya KH Ishomuddin AS (Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep), KH Ali Karrar (Proppo, Pamekasan), dan koordinator pusat IKBAL (Ikatan Keluarga Besar al Amien) KH Taufiqurrahman FM. Selain itu, pengasuh ponpes Nurul Huda (Pakandangan) KH Aniul Haq MA, pengasuh ponpes al Hikmah KH Fauzi Rasul (Kapedi), dan puluhan pengasuh ponpes lainnya.

Ketika jam tembok di dinding masjid menunjuk pukul 15.30, Koordinator IKBAL KH Taufiqurrahman FM berdiri di hadapan ribuan pelayat. Atas nama koordinator IKBAL, mantan anggota DPRD Jatim ini mengaku sangat kehilangan. "Kami dan semua anggota IKBAL sangat-sangat kehilangan," kata Taufiq terbata-bata.

Dia yakin tak saja IKBAL yang kehilangan sosok Tidjani. Pria berbadan subur itu percaya berbagai pihak yang pernah mengenal Kiai Tidjani akan merasa kehilangan. "Kami kira, semua tahu sosok KH Tidjani yang tak hanya menasional tetapi dikenal di internasional," katanya.

Taufiq menambahkan, Kiai Tidjani sangat peduli terhadap pendidikan. Buktinya, pengasuh pesantren Jambu Lenteng Sumenep itu selalu menemukan pesan-pesan terkait urgensi pendidikan di setiap pidato almarhum.

Dia mengumumkan kepada ribuan pelayat bahwa majelis kiai telah bermusyawarah siapa pengganti Tidjani sebagai pengsuh pondok. Berdasarkan hasil musyawarah majelis kiai, penerus perjuangan pendidikan dan bertindak sebagai pengasuh adalah KH Idris Djauhari.

Idris Djauhari berpidato atas nama keluarga setelah Taufiqurrahman. Adik kandung almarhum itu tak kuasa menahan isak. Dari auranya, jelas sekali terbaca tangisnya belum selesai. Dia mengaku tak menduga kakaknya begitu cepat pergi ke alam baka.

Saat di rawat di Surabaya, Kiai Tidjani minta pulang ke pondok. Begitu tiba di pondok dan mendekati sakaratul maut, Idris mengakui bahwa kakaknya memberi isyarat untuk pergi selama-lamanya. "Mohon almarhum dimaafkan bila ada salah dengan atau tanpa disengaja," kata Idris terbata-bata.

Di ujung sambutannya, Idris memanggil dan memerkenalkan adiknya, KH Maktum Djauhari MA, di hadapan ribuan umat dan para pelayat. Dia katakan, Maktum Djauhari menjadi wakil pengasuh. Dalam kedukaannya, Idris sempat bercanda bahwa baik Maktum maupun dirinya sama-sama bergelar MA. Maktum meraih gelar MA dari Timur Tengah yang tak lain kependekan dari master of art. Sedangkan MA saya diraihnya di sekitar sini saja. "Bukan master of art tapi Madura asli," kata Idris.

Kemudian, sesaat sebelum keranda digotong ke makam keluarga yang hanya berjarak kurang dari 20 meter di selatan masjid, teriakan Allahu Akbar dan tahlil membahana. Tahlil terus tak terputus sampai jenazah almarhum menuju peristirahatan terakhir.

Dalam riwayat hidup, Tidjani Djauhari meninggalkan seorang istri (Ny. Hj. Dra Anisah Fathimah Zarkasyi). Dia juga meninggalkan 8 orang anak (Ahmad Fauzi, Shafiyah, Aisyah, Afifah, Imam Zarkasyi, Amnah, Abdullah Muhammadi, dan Syifa’). Juga meninggalkan dua cucu (Syafiqoh Mardiana dan Ayman Fajri).

Pada saat berdomisili di Timur Tengah, Tidjani pernah aktif dan dipercaya menjadi Sekjed Rabithah ’Alam Islami. Tidjani ditunjuk rabitah menjadi nara sumber maupun peserta dalam diskusi internasional. Diantaranya, ke Maroko, Dakkar, Karibia, Amerika, Jepang, Karachi, Malaysia Cyprus, dan Pasific.

Di dalam negeri, almarhum pernah menjabat dewan pakar ICMI Jatim, aktif di Ma’had Aly Indonesia, pengurus Bassra (badan silaturahim ulama pesantren se Madura). Tidjani juga aktif dalam berbagam dialog pendidikan, keagamaan, keindonesiaan, dan kemaduraan di dalam maupun luar negeri. (ABRARI)

Sumber: Jawa Pos, Jumat, 28 Sept 2007

Kyiai Penggagas Propinsi Madura Itu Wafat

KH Mohammad Tidjani Djauhari MA, pengasuh Ponpes Al Amien Prenduan Sumenep, meninggal dunia, Kamis ( 27/9) pukul 02.00 WIB di rumah kediaman almarhum di kompleks Ponpes Al Amien dalam usia 63 tahun.

Kyiai dengan 8 putra/putri itu, meninggal akibat menderita penyakit jantung selama belasan tahun. Enam bulan silam kyiai yang juga mantan direktur Riset dan Studi Rabithah Alam Islami yang berkedudukan di Mekkah itu, menderita sakit dan sempat dirawat di RS Jantung Harapan Kita, Jakarta. Selang dua bulan penyakitnya kambuh dan dirawat di RS Budi Mulia, Surabaya. Namun, Senin (24/9) malam, almarhum meminta pulang kepada Nyai Annisah Imam Syarkasi, istrinya. Keluarga almarhum pun mengabulkan permohonannya.

Almarhum yang dikenal sebagai penggagas Propinsi Madura dan terkenal sebagai tokoh yang disegani di dunia internasional, dalam beberapa kesempatan seminar ulama, selalu mengingatkan pemerintah, agar mempersiapkan skill masyarakat Madura, sehingga nantinya tidak menjadi penonton pembangunan di Madura.

Ia kerap mencontohkan nasib masyarakat Batam dan Pulau Seribu yang kini hanya menjadi penonton dari derap pembangunan kawasan tersebut. Salah satu titik berat yang diminta kyiai peraih nilai mumtaz di Universitas Islam King Abdul Aziz, Universitas Mekah itu, agar Madura segera menjadi propinsi khusus. Karena, menurutnya, masyarakat Madura punya ciri khas sosial budaya dan keagamaannya, sehingga selayaknya punya perlakuan khusus. “Saya minta agar Madura diberi kedudukan khusus,” ujar KH Moh Tidjani dalam sebuah seminar yang diadakan Universitas Trunojoyo, beberapa waktu silam.

Sementara itu, dalam kata sambutan pelepasan almarhum, Ketua Ikatan Keluarga Besar Al-Amien Prenduan KH Taufikurrahman, memuji semangat Kyiai Tidjani. Kendati kurang sehat, ujarnya, ia selalu mendatangi berbagai kegiatan yang diadakan lembaga internasional yang membahas untuk kemajuan dunia Islam. “Bangsa ini kehilangan putra terbaiknya. Karena kita ketahui bersama, wajah cemerlang dunia Islam internasional, sebagian karena andil pemikiran beliau, “ ujar KH Taufikkurahman FM. Menurut pengasuh Ponpes Mambaul Ulum Jambu Lenteng itu, gagasan penyatuan gerakan Islam internasional dan berikut pengaturan pendanaannya, digagas oleh putra daerah dari Prenduan ini. Hingga kini gagasan Kyiai Tidjani tetap menjadi konsep gerakan dunia Islam internasional. “Sekali lagi, kita patut merasa kehilangan beliau,“ ujar kiai Taufik, dengan suara parau.

Sementara itu, adik kandung Kyiai Tidjani, KH Idris Jauhari, mengaku sangat kehilangan, karena selama ini kakaknyalah sebagai penyambung dunia Islam antara Timur Tengah dan Asia. Ia sangat berharap, segera lahir ulama yang mampu menjadi penyambung tali rentang Islam Barat dan Timur. “Siapapun merasa kehilangan, kami mendapatkan ucapan duka cita hampir dari seluruh belahan dunia,“ ujar Kyiai Idris.

Puluhan ribu hadir dalam acara tersebut dan sejumlah pejabat Pemkab di Madura, Bupati Sumenep KH Ramdlan Siraj, Ketua DPRD Sumenep KH Busro Kariem, Bupati Pamekasan, Syafi’ie, Kakanwil Depag Jatim Drs H Roziqy, pimpinan ponpes se-Jatim dan sejumlah pejabat Pemprop Jatim. (far)

Sumber: Surabaya Post, Jumat 28/09/2007

KH Tidjani Tokoh Ulama Madura Berpulang

Masyarakat Madura kehilangan putra terbaiknya. KH Achmad Tijani Djauhari MA, pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Amien, Prenduan, berpulang ke Pangkuan Ilahi di kediamannya areal komplek Ponpes Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Kamis (27/9) pukul 02.00 WIB.

KH Tidjani Djauhari sejak 1993 lalu dikenal sebagai salah satu tokoh yang gigih untuk membentuk Provinsi Madura, meninggal dalam usia 62 tahun. Ia meninggalkan satu istri, Nyai Anisah Fatimah Zarkasy, serta 8 anak, terdiri 3 putra dan 5 putri serta 2 cucu.

Almarhum KH Tidjani, lahir di Prenduan, Oktober 1945 merupakan anak kedua dari lima saudara  pasangan KH Achmad Djauhari Chotib dan Nyai Maryam Abdullah. KH Tidjani dikenal ulama intelektual dan sosok sangat peduli terhadap agama dan pendidikan. Saat meninggal, almarhum didampingi empat saudaranya, berikut istri dan 7 anaknya.

Sedangkan Achmad Fauzi Tijani,25, putra pertama almarhum saat ini sedang menempuh pendidikan di Maroko. Setelah diberitahu kepergian ayahnya, Achmad Fauzi Tijani sedih dan berencana pulang ke Madura.

Berita meninggalnya KH Tidjani, menyentakkan semua pihak. Bupati Sumenep, KH Ramdlan Siraj datang takziah bersama sejumlah tokoh ulama Jawa Timur, pengurus Ponpes Modern Darusalam Gontor, Ponorogo, sejumlah ulama Jawa Barat, Banten dan Jakarta datang melayat. Almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga di selatan Masjid Al-Amien Prenduan, Kamis (27/9) pukul 16.00 WIB diantar ribuan pelayat.

“Saya turut berduka cita atas meninggalnya KH Tidjani Djauhari. Sekarang saya belum bisa takziah, kaena saya sedang di Batam,” kata KH Khalillurrahman, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan, kepada Surya, yang selama ini sering satu forum dengan almarhum.
Humas Ponpes Al-Amien, Ustad Jakfar Sodiq MM, mengatakan, tanda-tanda KH Tijani akan berpulang sudah dirasakan sejak pukul 22.00 WIB. Saat itu, seluruh keluarga berkumpul mengelilingi almarhum.  “Sebelumnya almarhum pernah di rawat di RS Budi Mulya, Surabaya, namun beliun waktu itu minta pulang dan dirawat di rumah,” ujarnya.

Berdasarkan cacatan Surya, KH Tidjani lulusan Fakultas Study Syariah Jamiah Islaminyah Madinah dan lulusan Magister di Jamiah Malik Abdul Azis Cabang Makkah 1969. Almarhum telah banyak memberikan sumbangsih besar terhadap pengembangan pendidikan dan dakwah. Ponpes Al-Amien yang dikelola bersama KH Idris Djauhari, adiknya, memiliki sekitar 5.000 santri dari seluruh provinsi di Indonesia juga Malaysia, Singapura dan Thailand.

Semasa hidupnya, almarhum aktif dalam berbagai lembaga dakwah, pendidikan dan sosial kemasyarakatan yang namanya tak hanya dikenal di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Malahan tahun 1974 - 1987 lalu, KH Tidjani dipercaya  sebagai anggota Sekjen Rabithah 'Alam Islami (RAI) yang berkedudukan di Arab Saudi.  Mewakili RAI almarhum hadir di berbagai forum internasional.

Selain pengasuh Ponpes Al Amien, almarhum menjadi salah seorang ketua MUI Jatim. Alumni Pondok Modern Gontor itu juga mempelopori berdirinya BASSRA (Badan Silaturrahmi Ulama Pesantren Madura) Korda Sumenep. Almarhum juga aktif mengisi seminar pendidikan dan sosial-keagamaan di dalam maupun luar negeri.

Sejumlah Ikatan Keluarga Besar Al-Amien Prenduan (IKBAL) Korda Jakarta dan Kairo Mesir menyatakan berduka atas wafatnya almarhum. Sementara IKBAL Korda Jakarta juga menggelar doa bersama di secretariat. Sementara Ketua IKBAL Korda Kairo Mesir, Falahudin Qudsi menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya guru, kiai dan pembimbing mereka hingga dia bersama kawan-kawannya dapat sekolah di Mesir. "Semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang sempurna dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," ujarnya. (Achmad Rivai/Muchsin)

Sumber: Surya,

Anggota DPRD Diperiksa

Jadi Saksi Dugaan Korupsi Proyek Operasional Pertanahan

Tim penyidik Kejari Pamekasan yang menangani kasus dugaan korupsi Proyek Operasional Pertanahan (Prona) 2004 di Badan Pertanahan (BPN) kerja cepat. Setelah memeriksa 15 saksi yang sebagian besar staf BPN, kemarin giliran anggota DPRD Pamekasan, Khairudin, diperiksa tim penyidik.

Apa kaitannya dengan anggota DPRD? Sekadar mengingatkan, anggota DPRD asal Partai Demokrat ini pernah tersangkat kasus prona. Namun, kasus yang melilitnya terjadi saat masih menjabat sebagai jepala Desa Jarin, Kecamatan Pademawu. Pada kasus tersebut Khairudin berstatus sebagai tersangka. Namun, kasusnya sampai sekarang masih belum ada kejelasan dan belum disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan.

Kajari Pamekasan Yusran Lubis SH melalui Kasi Pidsus M. Djasuli SH mengatakan, Khairudin dipanggil dalam kapasitasnya sebagai saksi. Yakni, saksi pada kasus dugaan korupsi anggaran prona 2004 yang saat ini ditangani tim penyidik kejari. "Statusnya saksi saja. Sebab, yang bersangkutan dulunya pernah menjadi kepala desa ketika prona dilaksanakan," jelas Djasuli. Sayangnya, jaksa asli Pamekasan itu tak menyinggung soal status Khairudin pada kasus prona di Desa Jarin.

Pemeriksaan Sekretaris DPC Partai Demokrat itu dilakukan di ruang Kasi Datun (Perdata dan Tata Usaha Negara) Suwarsono SH. Khairudin berhadapan dengan dua penyidik, yakni Suwarsono SH dan Nurkhalifah SH. Seperti halnya penyidikan pada umumnya, pemeriksaan Khairudin berlangsung tertutup.

Usai pemeriksaan, Khairudin yang didampingi kuasa hukumnya, M. Rifai SH, enggan berbicara panjang mengenai pemeriksaan dirinya. "Yang pasti hanya berstatus saksi saja," kata Khairudin yang juga dibenarkan oleh M. Rifai.

Selain memeriksa Khairudin, tim penyidik juga memeriksa pejabat BPN. Yakni, Kasi Konflik dan Sengkata Tanah BPN M. Musleh. Dia diperiksa Kasi Intel Badruttamam SH. Sama halnya dengan pemeriksaan Khairudin, Musleh diperiksa di ruangan tertutup. Namun begitu, wartawan sempat mengambil gambar jalannya pemeriksaan Musleh. Pemeriksaan Khairudin dan Musleh berlangsung hingga menjelang pukul 11.30. Setelah diperiksa, keduanya langsung meninggalkan gedung kejari menggunakan kendaraan pribadi.

Seperti diberitakan, kejari tengah menyidik dugaan korupsi prona 2004. Sebab, ada dugaan penyimpangan pada proyek yang mendapat suntikan dana dari pemerintah tersebut. Ada beberapa indikasi penyimpangan pada prona 2004. Diantaranya, kegiatan sosialisasi prona yang diduga fiktif, adanya pungutan dari pejabat BPN kepada beberapa kepala desa lokasi prona, dan tidak adanya laporan mengenai sisa anggaran prona. Akibatnya, negara diduga telah dirugikan hingga mendekati Rp 50 juta.

Dalam perkembangannya, penanganan kasus dugaan korupsi prona mulai makan "korban". Pimpinan proyek (pimpro) yang saat itu dijabat oleh Eman K. ditetapkan sebagai tersangka. (zid)

Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 22 Sept 2007