Saturday, May 26, 2007

Nelayan Tamba’an Saat Gelombang Pasang

Tak Melaut, Tangkap Ikan dengan Jaring Krakat di Pantai

Para nelayan Desa Tamba’an Pesisir, Kecamatan Camplong, dikenal sebagai masyarakat pelaut pantang menyerah, juga kreatif. Saat gelombang pasang dan membuat puluhan nelayan tak bekerja, mereka tetap membanting tulang untuk mencari demi menafkahi keluarganya. Apa yang dilakukan?

Suasana di bibir pantai Desa Tamba’an kemarin pagi sepi tidak seramai hari-hari biasanya. Rombongan nelayan yang biasanya hilir mudik melaut, kini tidak dijumpai. Kalau pun ada, bukanlah nelayan yang hendak melaut. Tapi, mereka nelayan pencari ikan yang terjerat jaring krakat.

Pemandangan ini sudah berlangsung sejak 4 hari lalu. Nelayan setempat memilih tak melaut, bukannya karena malas. Tapi semata-mata karena khawatir perahunya menjadi sasaran amukan gelombang pasang. Juga khawatir ganasnya gelombang tersebut mengancam keselamatan jiwanya saat melaut.

Ketika gelisah tidak bisa menafkahi istri dan anak-anak karena tidak bisa melaut, para nelayan Tamba’an pun memutar otak untuk bisa menangkap ikan. Caranya, dengan menebar jaring krakat penangkap ikan mulai dari bibir Pantai Camplong hingga ke tengah laut.

Usai menebar jaring krakat sepanjang 60 meter tersebut, nelayan yang lain kemudian membantu menancapkan kayu runcing di pinggir pantai. Begitu juga nelayan yang ada di tengah laut, ikut menancapkan kayu runcing. Setelah itu, mereka merapat ke bibir pantai menuju ke gasebo guna berteduh.

"Dibandingkan dengan aktifitas kami sebelumnya, hasil tangkapan ikan dengan jaring ini memang tidak seberapa, Pak. Tapi, paling tidak, kami masih mempunyai harapan bisa menafkahi istri dan anak-anak," ujar salah seorang nelayan setempat, Supriyadi, sambil mengusap keringat yang mengucur di keningnya.

Akibat gelombang pasang tersebut, menurut Supriyadi, puluhan nelayan Camplong memilih tidak melaut dan memarkir perahunya. Sebab, mereka khawatir pasangnya air laut tersebut mengancam keselamatan jiwa mereka saat melaut. "Kami juga tidak ingin mengalami nasib seperti yang dialami nelayan Pacitan dan Bantul, Jogjakarta," ungkapnya mencoba menjelaskan alasan para nelayan tidak melaut.

Saat ini nelayan hanya bisa pasrah. Tapi, mau tidak mau, mereka harus tetap bekerja agar dapur bisa tetap negbul. "Karena tidak melaut, kami terpaksa menjaring ikan di tepi pantai," katanya.

Dari hasil menangkap ikan dengan jaring krakat tersebut, Supriyadi yang kemarin dibantu bapak mertua dan saudara iparnya itu, sehari bisa mendapatkan ikan minimal 60 ekor. Ikan-ikan tersebut diduga berasal dari ikan tambak petani yang terbawa arus setelah tanggul tambaknya jebol diterjang gelombang air laut.

"Sebagian besar, ikan-ikan yang terjebak dalam jaring kami adalah ikan bandeng dan mujair. Ukurannya lumayan besar lho Pak," kata bapak 1 putra ini sambil menunjukkan ikan hasil tangkapannya.

Nah, setelah mengumpulkan ikan tangkapan tersebut, Qomariyah, istri Supriyadi, kebagian tugas menyimpan ikan ke dalam boks yang sudah dipasangi balok es. Beberapa saat lamanya, ikan-ikan tersebut disimpan di dalam rumah. "Kalau ada pemesan, ikan tersebut kami jual seharga Rp 1.000 per ekor," kata Qomariyah.

Meskipun sudah mendapat penghasilan dari menangkap ikan dengan krakat, Supriyadi berharap musibah gelombang pasang tersebut segera berakhir. Dia ingin segera melaut lagi. Sebab, uang hasil penjualan ikan-ikan tersebut dirasa belum cukup guna memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Apalagi, putra semata wayangnya, Wildan, sesaat lagi akan sekolah.

"Bukannya tidak mau mensyukuri nikmat dan karunia Tuhan. Tapi, penghasilan saat ini menurun drastis. Karena itu, kami berharap semoga musibah gelombang pasang ini segera berakhir. Sehingga, kami bisa melaut kembali," harapnya.

Harapan yang sama juga disampaikan nelayan yang lain, Ahmad. Menurut dia, selain akan mempengaruhi penghasilan masyarakat nelayan, peristiwa gelombang pasang tersebut dikhawatirkan bisa menyisakan dampak psikologi bagi warga pesisir. "Sebab, warga di sini trauma dan khawatir gelombang pasang tersebut berubah menjadi tsunami," ujarnya. (TAUFIQ RIZQON)

Sumber: Jawa Pos, 21/05/2007

Thursday, May 24, 2007

Bantah Ada Korupsi

Tudingan adanya korupsi miliaran rupiah yang dilayangkan FAR dibantah Bupati Sumenep KH Moh Ramdlan Siraj SE MM. Melalui Wakil Bupati Drs H Moh Dahlan MM, Rabu (16/5) mengatakan, pihaknya berpegang pada hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Sejauh ini, lanjutnya, dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK, tidak ada temuan dugaan penyelewengan proyek-proyek yang ditudingkan FAR. "LHP BPK tanggal 27 April 2007 lalu tak ada tentang dugaan korupsi tersebut," ujar Dahlan.

Menurutnya, terjadi kesalahpahaman sehingga muncul tudingan korupsi oleh FAR. Ia mencontohkan, seperti proyek penyulingan air laut di Pulau Gili Raja. Pembangunan penyulingan air laut tersebut direncanakan untuk memenuhi air minum di empat desa di Pulau Gili Raja. Bukan untuk 8.000 penduduk dengan kapasitas 15.000 liter per hari. "Memang belum terpenuhi semuanya, karena untuk sementara ini masih berupa stimulan," katanya.

Demikian juga dengan proyek pembangkit listrik di Pulau Masalembu Rp 1,6 miliar. Belum berfungsinya PLTD itu masih menunggu pemasangan panel dan knalpot oleh tim ahli.

Begitu pula, tudingan penyelewengan proyek pemagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM). Pemagangan, bukan dilakukan satu kali, tetapi delapan kali. Diantaranya, ke Pekalongan, Jawa Tengah, selama dua hari dengan 15 peserta yang menghabiskan dana sebesar Rp 22.325.500.

Sedang untuk proyek pembuatan tempat mandi, wudu dan kakus, diakui Dahlan, ada pengerjaan yang tak sesuai bestek. "Namun, rekanan sudah kita tegur agar segera diperbaiki," katanya. (st2)

Sumber: Surya, 23/05/2007

Bongkar Korupsi 17 Proyek

Fraksi Amanat Rakyat (FAR) DPRD Sumenep membeberkan tengara korupsi 17 proyek pembangunan di Kabupaten Sumenep tahun 2006. Tudingan korupsi senilai Rp 9,8 miliar itu, membuat banyak kalangan terhentak. Bupati pun angkat bicara, menolak tudingan tersebut.

RATUSAN mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Sumenep (AMPS) melakukan aksi unjuk rasa di Polres Sumenep dan Kejaksaan Negeri Sumenep, Senin (21/5).

Mereka meminta, agar aparat penegak hukum tersebut turun tangan merespons tudingan Fraksi Amanat Reformasi (FAR) terhadap kasus-kasus korupsi di Sumenep.

"Polisi dan Kejaksaan jangan duduk manis. Mereka harus menindaklanjuti temuan FAR itu," ujar koordinator aksi Lutfi Hasyim.

Aksi mahasiswa dan pemuda ini, sebagai buntut dari tudingan FAR terkait tengara ketidakberesan di 17 proyek pembangunan Pemkab Sumenep senilai Rp 9.829.000.000.

Apalagi, temuan FAR yang diawaki enam anggota dewan tersebut, diungkapkan secara terbuka dalam rapat pemandangan umum fraksi-fraksi atas nota perhitungan APBD Sumenep tahun 2006 di gedung DPRD setempat, Senin (14/5).

Sejumlah proyek bermasalah itu, diantaranya proyek penyulingan air bersih Rp 1,4 miliar dan proyek pembangunan listrik di Pulau Masalembu Rp 1,6 miliar yang dikelola Badan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumenep.

FAR menilai, tidak dilakukan tender terhadap proyek penyulingan air laut menjadi air tawar itu. Demikian pula dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD). Sampai saat ini belum ada realisasi, padahal sudah dianggarkan sejak tahun 2004.

Tengara ketidakberesan juga terjadi pada proyek pengadaan peralatan puskesmas yang dikelola Dinas Kesehatan. Proyek yang diambil dari Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 2 miliar ini disinyalir berupa retacking. Artinya, peralatan itu tak baru, tetapi barang lama yang dibungkus ulang.

Sinyalir ketidakberesan juga terjadi pada pengadaan obat-obatan sebesar Rp 1,9 miliar dan proyek pendampingan pembinaan manajemen puskesmas senilai Rp 416 juta.

Bukan itu saja, FAR juga menemukan tengara penyelewengan proyek pengadaan balai desa pada Bagian Pemerintahan Desa (Pemdes). "Sebagian besar dinyatakan sudah selesai, tetapi kenyataannya masih banyak yang mangkrak," ujar Ketua FAR Malik Effendi SH MH, Selasa (22/5).

Pemblejetan FAR juga menimpa Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Dana pemagangan kelompok pengrajin asal Desa Karduluk dan Pekandangan, Kecamatan Bluto ke Jawa Tengah pada tahun 2006, diduga ada rekayasa. Anggaran Rp 159 juta yang semestinya untuk kegiatan selama dua kali, ternyata kegiatan hanya dilakukan satu kali.

Proyek pembangunan kamar mandi, tempat wudu dan kakus atau yang dikenal dengan istilah MWK (mandi, wudu, kakus) untuk masjid dan musala dengan nilai masing-masing Rp 30 juta, juga tak luput dari penilaian FAR.

Dari 120 proyek MWK ini, lebih dari 30 persen ditengara dijual ke satu rekanan. Naifnya, hasil proyek jauh lebih jelek dari tahun sebelumnya.

Terakhir, FAR menyebut adanya pungutan tak sah sebesar Rp 15 persen dari proyek pembangunan taman dan lampu kota sebesar Rp 570 juta. "Tak ada kata lain, polisi dan kejaksaan harus segera bertindak. Kami siap membeberkan bukti-bukti," ujar Malik Effendi.

Secara terpisah, Kapolres Sumenep AKBP Drs Darmawan mengatakan, sudah memerintahkan Kasat Reskrim AKP Mualimin SH untuk menelusuri data-data dugaan penyimpangan yang dilontarkan FAR.

Menurutnya, apa yang disampaikan FAR tersebut, menjadi laporan awal untuk dimulainya
penyelidikan. "Itu baru informasi yang tentu akan ditindaklanjuti. Jika terbukti bukan tidak mungkin akan kita lanjutkan sesuai dengan jalur hukum," katanya. (*)

Sumber: Surya, 23/05/2007

Tak Bisa Melarang, Perlu Antisipasi Dini

Kekhawatirn terjadinya kelebihan produksi memang hal yang wajar. Sebab, pada tahun ini, proyeksi kebutuhan pabrikan yang dirilis Dinas Perkebunan Provinsi Jatim untuk Sumenep ternyata hanya 7.050 ton tembakau. Padahal, tahun lalu saja, proyeksi kebutuhan tembakau 8.250 ton.

Menariknya, proyeksi lahan tanam tembakau di Sumanep pada tahun ini ternyata lebih luas (11.750 hektare) dibandingkan tahun lalu (11.000 hektare). "Informasinya, pabrikan memang mau ambil tembakau lebih sedikit dibandingkan tahun lalu," terang Kepala Dishutbun Sumenep Moh. Dail melalui Kabid Perkebunan Bambang Heriyanto.

Menurut Bambang, naiknya proyeksi ideal luas lahan tanam seharusnya diimbangi dengan kebutuhan pabrikan. Tak hanya itu. Tahun ini, semakin luasnya lahan tanam justru diiringi turunnya produktifitas tembakau per hektare. "Proyeksi luas lahan 11.750 hektare dengan kebutuhan 7.050 ton menunjukkan produktifitas per hektare hanya 600 kg," terangnya.

Kondisi tersebut beda dengan tahun lalu. Proyeksi ideal lahan seluas 11 ribu hektare dengan kebutuhan 8.250 ton yang terjadi pada tahun lalu berarti 1 hektare bisa memproduksi 750 kg tembakau. "Untuk tahun ini, ada prediksi cuaca sangat labil dibandingkan tahun lalu. Sehingga, masyarakat harus hati-hati dan bisa mengendalikan diri," ingatnya.

Bambang juga mengaku, untuk kali kesekian, pihaknya berharap agar masyarakat bisa mengendalikan diri untuk menanam tembakau. Alasannya, potensi kelebihan produksi tembakau semakin tinggi bila terjadi kelebihan luas lahan tanam. "Kita memang tidak mungkin melarang orang untuk menanam tembakau," tuntasnya.

Komisi B DPRD Sumenep juga mendukung upaya pemkab untuk melakukan pengurangan areal tanaman tembakau pada musim tanam tahun ini. Itu sebagai langkah antisipatif terjadinya over produksi hasil panen tembakau tahun ini, yang akhirnya akan menurunkan harga tembakau itu sendiri.

Ketua Komisi B Unais Ali Hisyam mengatakan, langkah pemkab tersebut dinilai cukup efektif untuk mengantisipasi turunnya harga tembakau tahun ini. Sebab, jika produksi tembakau tidak meluber, dia yakin harga tembakau akan baik.

Selain kualitas tembakau yang kadang bercampur dengan tembakau Jawa, menurutnya, yang menurunkan harga tembakau di pasaran karena stok tembakau melebihi kebutuhan pihak gudang. "Mungkin dengan adanya pengurangan areal tanam tembakau, ini akan mempengaruhi daya jual tembakau rakyat," ujarnya.

Dia mengharapkan petani bisa menahan diri untuk tidak menanam areal persawahan dengan tembakau. Meski proyeksi areal tanam tembakau mengalami kenaikan 6,82 persen dibandingkan dengan tahun lalu (tahun ini proyeksi areal seluas 11.750 hektare), namun pasokan tembakau ke gudang mengalami penurunan. Pihak gudang menjatah tembakau yang akan dibeli dari masyarakat tahun ini hanya sebesar 7 ribu ton.

"Dari luas areal tanam memang ada kenaikan, tapi pasokan ke gudang mengalami penurunan. Ini perlu diwaspadai oleh petani, sehingga petani tidak mengalami kerugian karena over produksi," ujar Unais kepada koran ini, kemarin.

Pada tahun 2006 lalu, kata dia, harga tembakau di pasaran cukup bagus. Namun, jika pada tahun ini tidak diantisipasi terjadinya over produksi, bisa saja harga tembakau akan kembali "rusak". "Jadi petani harus membatasi diri menanam tembakau," ingatnya.

Untuk menghindari over produksi, Bupati Sumenep Moh. Ramdlan Siraj menerbitkan surat edaran kepada para camat se Sumenep menghadapi musim tembakau mendatang. Dalam surat No 525.23/181/435.112/2007, bupati meminta para petani memperhatikan prakiraan cuaca dari badan meteorologi dan geofisika (BMG). Sehingga, petani tembakau terhindar dari kerugian akibat kesalahan masa musim tanam.

Bagi daerah-daerah, baik tegal maupun gunung yang mengandalkan air hujan, bupati menyarankan, sebaiknya masa penanaman tembakau dilakukan lebih awal. Sedangkan daerah tembakau yang biasa menggunakan sumber-sumber air, bisa dilakukan mulai bulan Mei.

Bupati juga meminta kepada camat untuk menyosialisasikan kepada petani bahwa bagi lahan yang kurang potensial, agar petani tidak terlalu memaksa menanam tembakau. Sebaiknya petani mencari tanaman alternatif, seperti jagung, kedelai, semangka, dan kacang tanah.

Dalam SE itu bupati juga meminta agar dalam penggunaan pupuk sesuai dengan dosis dan menunggu waktu yang tepat. Jika kurang mengerti, sebaiknya berkonsultasi dengan petugas pertanian di kecamatan.

Kepada para camat, selain mengintruksikan agar mendata pengusaha gudang-gudang tembakau dan pengepul tembakau rakyat, bupati juga memerintahkan agar camat mengimbau pengusaha yang belum memiliki izin untuk mengurus izin usahanya.

Sementara proyeksi areal lahan tembakau pada tahun ini seluas 11.750 hektare dengan hasil produksi sebesar 7 ribu ton tembakau dan kebutuhan bibit sebanyak 411 juta 257 ribu batang tembakau. Sedangkan kebutuhan pupuk terdiri dari pupuk ZA 2.350 ton, pupuk SP 36.763 ton, dan pupuk ZK sebanyak 1.175 ton.(ahmad zahrir ridlo)

Sumber: Jawa Pos, 21/05/2007

Wednesday, May 23, 2007

Batik Tanjung Bumi Berumur 200 Tahun

Batik Tanjung Bumi ternyata sudah dibuat sejak ratusan tahun lalu. Buktinya, seorang kolektor batik di Bangkalan mempunyai batik Tanjung Bumi yang sudah berumur 200 tahun. RR Siti Maimuna, sang kolektor batik tersebut, memiliki 5 koleksi batik kuno. Semuanya dibuat 200 tahun lalu. Menurut Mei-sapaan Siti Maimuna, 5 koleksi batik khas Tanjung Bumi-nya tersebut telah diuji oleh museum tekstil di Jakarta.

Desainer sekaligus kolektor batik kuno berumur 37 tahun ini banyak dikenal kalangan pejabat dan pengelola museum, baik di Indonesia maupun luar negeri, seperti di Jepang. Banyak koleksi batik kunonya yang dipinjam untuk dipamerkan di hadapan khalayak. Batik kuno yang dipamerkan hingga ke luar negeri tersebut merupakan peninggalan buyutnya. "Saya punya 5 batik yang usianya 200 tahun. Penetapan umur batik itu bukan saya yang menentukan, tapi sudah diteliti oleh museum tekstil di Jakarta," kata Mei ketika dikonfirmasi koran ini.

Dijelaskan, penetapan umur batik didasarkan pada bahan kain serta pewarna yang dijadikan bahan untuk membatik. "Untuk pewarnanya alamiah semua. Bahan dari nila. Ada yang menyebutnya tom atau dâun tarom (Madura, Red)," jelasnya.

Kelima koleksi batik yang dimilikinya adalah jenis mano’ juduh tarpotè kellengan, tarpotè bangan, burubur", rawan mèra, dan tana pasèr mèra. Semuanya berusia 200 tahun. Dari koleksi itu, jenis mano’ juduh tarpotè kellengan yang banyak diminati para kolektor dan pemilik museum. "Ada yang menawar Rp 60 juta. Tapi tidak saya jual, karena itu warisan dari buyut saya," ujarnya. (tra)

Sumber: Jawa Pos, 22/05/2007

Labels: , ,

Didominasi Tembakau Tegalan

Areal Sawah Lebih Banyak dari Gunung

Jika dibandingkan dengan komoditi tembakau sawah atau pun gunung, areal untuk tembakau tegalan jauh lebih tinggi. Secara otomatis, produksi tembakau tegalan juga akan lebih tinggi dibandingkan dengan kedua sawah dan gunung.

Berdasarkan data proyeksi tembakau 2007, untuk wilayah Kabupaten Pamekasan, areal tembakau tegalan mencapai 15.036 hektare. Itu tersebar di 13 kecamatan di Pamekasan. Areal tegalan terbanyak berada di Kecamatan Waru, mencapai 2.201 hektare.

Sedangkan areal tembakau gunung, totalnya tidak lebih dari 6.658 hektare. Untuk tembakau gunung, arealnya hanya ada di 7 kecamatan yang kebanyakan memiliki pegunungan. Terbanyak di Kecamatan Pegantenan, mencapai 1.196 hektare.

Sementara untuk areal tembakau sawah, hampir dipastikan berada di seluruh wilayah di Kabupaten Pamekasan. Jumlahnya mencapai 9.673 hektare. Dan, terbanyak berada di Kecamatan Pademawu yang mencapai 2.069 hektare.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Pamekasan, Ir H M. Zainal Arifin, kepada koran ini menjelaskan, tingginya areal tembakau di tegalan cukup wajar. Sebab, kondisi geografisnya memang lebih banyak areal tegalan.

Menurut dia, luasnya areal tembakau di daerah tegal akan berpengaruh pada produksi. "Secara otomatis, nantinya di Kabupaten Pamekasan akan lebih banyak tembakau tegalan. Setiap tahunnya memang relatif sama," katanya saat dihubungi koran ini, kemarin siang.

Mantan kepala DKLH (dinas kebersihan dan lingkungan hidup) ini meminta masyarakat untuk senantiasa memperhatikan teknik budidaya yang baik dan benar. "Tidak melihat apa tembakau sawah, tegal atau gunung, semuanya harus mengikuti anjuran dari penyuluh," imbaunya. "Kami yakin, jika petani memperhatikan anjuran dan saran dari penyuluh dengan baik, maka hasilnya akan berkualitas baik pula. Saat ini, yang terpenting bagaimana petani memperhatikan teknik budidayanya dulu dari pada harga," sambungnya panjang lebar.
Disinggung mengenai kemungkinan over produksi tembakau pada tahun 2007, Zainal meminta petani tidak perlu risau. Sebab, diyakini pasti ada jalan yang bisa menguntungkan bagi petani. "Sepertinya, jarang tembakau tidak terbeli. Buktinya, setiap tahun pasti habis terjual. Makanya, lagi-lagi kuncinya pada kualitas," ujarnya.

Seperti diberitakan, berdasarkan proyeksi tembakau tahun 2007, luas arealnya diperkirakan mencapai 31.367 hektare atau meningkat 549 hektare dibanding tahun 2006 yang mencapai 30.818 hektare. Sedangkan produksinya, tahun 2007 diperkirakan mencapai 18.802, 2 ton, naik dari tahun 2006 yang mencapai 17.947 ton.

Sementara rencana pembelian tembakau tahun 2007 oleh pabrikan justru cenderung mengalami penurunan. Mengutip Data Dinas Kehutanan Dan Perkebunan (Dishutbun) Pamekasan, rencana pembelian tembakau tahun 2007 hanya 15.925 ton. Padahal, produksi tembakau diperkirakan mencapai 18.802,2 ton. (zid)

Sumber: Jawa Pos, 20/05/2007

Areal Tembakau Gunung Paling Sedikit

Jika dibandingkan dengan komoditi tembakau sawah atau pun gunung, areal untuk tembakau tegalan jauh lebih tinggi. Secara otomatis, produksi tembakau tegalan juga akan lebih tinggi dibandingkan dengan kedua sawah dan gunung.

Berdasarkan data proyeksi tembakau 2007, untuk wilayah Kabupaten Pamekasan, areal tembakau tegalan mencapai 15.036 hektare. Itu tersebar di 13 kecamatan di Pamekasan. Areal tegalan terbanyak berada di Kecamatan Waru, mencapai 2.201 hektare.

Sedangkan areal tembakau gunung, totalnya tidak lebih dari 6.658 hektare. Untuk tembakau gunung, arealnya hanya ada di 7 kecamatan yang kebanyakan memiliki pegunungan. Terbanyak di Kecamatan Pegantenan, mencapai 1.196 hektare.

Sementara untuk areal tembakau sawah, hampir dipastikan berada di seluruh wilayah di Kabupaten Pamekasan. Jumlahnya mencapai 9.673 hektare. Dan, terbanyak berada di Kecamatan Pademawu yang mencapai 2.069 hektare.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Pamekasan Ir H M. Zainal Arifin kepada koran ini menjelaskan, tingginya areal tembakau di tegalan cukup wajar. Sebab, kondisi geografisnya memang lebih banyak areal tegalan.

Menurut dia, luasnya areal tembakau di daerah tegal akan berpengaruh pada produksi. "Secara otomatis, nantinya di Kabupaten Pamekasan akan lebih banyak tembakau tegalan. Setiap tahunnya memang relatif sama," katanya.

Mantan kepala DKLH (dinas kebersihan dan lingkungan hidup) ini meminta masyarakat untuk senantiasa memperhatikan teknik budidaya yang baik dan benar. "Tidak melihat apa tembakau sawah, tegal atau gunung, semuanya harus mengikuti anjuran dari penyuluh," imbaunya.

"Kami yakin, jika petani memperhatikan anjuran dan saran dari penyuluh dengan baik, maka hasilnya akan berkualitas baik pula. Saat ini, yang terpenting bagaimana petani memperhatikan teknik budidayanya dulu dari pada harga," sambungnya panjang lebar.

Disinggung mengenai kemungkinan over produksi tembakau pada tahun 2007, Zainal meminta petani tidak perlu risau. Sebab, diyakini pasti ada jalan yang bisa menguntungkan bagi petani. "Sepertinya, jarang tembakau tidak terbeli. Buktinya, setiap tahun pasti habis terjual. Makanya, lagi-lagi kuncinya pada kualitas," ujarnya.

Untuk diketahui, berdasarkan proyeksi tembakau tahun 2007, luas arealnya diperkirakan mencapai 31.367 hektare atau meningkat 549 hektare dibanding tahun 2006 yang mencapai 30.818 hektare. Sedangkan produksinya, tahun 2007 diperkirakan mencapai 18.802, 2 ton, naik dari tahun 2006 yang mencapai 17.947 ton.

Sementara rencana pembelian tembakau tahun 2007 oleh pabrikan justru cenderung mengalami penurunan. Mengutip Data Dinas Kehutanan Dan Perkebunan (Dishutbun) Pamekasan, rencana pembelian tembakau tahun 2007 hanya 15.925 ton. Padahal, produksi tembakau diperkirakan mencapai 18.802,2 ton. (akhmadi yasid)

Sumber: Jawa Pos, 21/05/2007

Tuesday, May 22, 2007

Musim Tembakau di Tengah Ancaman Over Produksi

Petani Tak Peduli, Optimistis seperti Tahun Lalu

Masa tanam "daun emas" kembali datang. Petani pun kembali berkeringat turun ke sawah. Mereka antusias memulai masa tanam tahun 2007 dengan penuh harapan. Seakan tak peduli terhadap iklim yang kadang tak menentu, petani tetap saja nekad memulai masa tanam.

Sebenarnya, petani nekad memulai masa tanam meski iklim tak menentu, sudah maklum. Bagi petani, jika sudah sampai pada masa tanam, alasan musim merupakan persoalan yang kesekian. Yang terpenting, memulai masa tanam, persoalan belakangan.

Sikap yang demikian ini sudah menjadi stereotipe di kalangan petani. Bagi petani, menanam tembakau terlanjur menjadi wajib hukumnya. Tanpa menanam tembakau, seperti ada yang kurang dalam kehidupan mereka. Maklum, dengan tembakau mereka mendapatkan keuntungan lumayan besar. Meski kadang mereka harus menelan kerugian yang besar pula.

Masa tanam tahun 2007 telah berlangsung sejak beberapa hari terakhir. Seperti yang telah dijelaskan, petani seperti tak peduli terhadap persoalan apapun. Termasuk, mengenai kabar kemungkinan adanya over produksi tembakau tahun ini.

"Istilah over produksi itu sudah biasa didengar. Bagi petani, tidak masalah. Sebab, setiap tahun istilah seperti itu sudah sering disampaikan. Tapi, kenyataannya tembakau petani tidak ada yang tidak terjual," ujar Mat Soleh, petani asal Desa Mortajih, Kecamatan Pademawu, Pamekasan. Menurut dia, petani secara langsung atau tidak langsung kurang memperdulikan mengenai persoalan yang akan timbul di kemudian hari. Khususnya, saat menjelang masa panen. "Yang penting, saat ini menanam dulu. Masalah harga itu kan nanti," tuturnya.

Dia hanya satu dari sekian petani yang telah memulai masa tanam tembakau. Saat ini, ribuan petani telah mulai menanam tembakau. Mereka tersebar di 13 kecamatan. Areal tembakau paling banyak berada di Kecamatan Batumarmar.

Jika mengacu kepada proyeksi areal tembakau 2007, kuat kemungkinan akan adanya over produksi tembakau. Pasalnya, kenaikan areal tembakau tidak diikuti dengan naiknya rencana pembelian pihak pabrikan. Akibatnya, produksi tembakau tahun 2007 terancam over produksi. Karenanya, perlu ada upaya strategis dari pihak terkait untuk mencegah adanya over produksi tersebut.
Seperti di Pamekasan, imbauan pemkab agar petani tidak seluruhnya menanam lahannya dengan tembakau pada tahun ini, tampaknya, sulit diindahkan. Itu karena harga tembakau pada tahun lalu yang cukup mengembirakan dengan kisaran Rp 20 ribu-Rp 32 ribu per kg, menjadi alasan petani untuk kembali berlomba-lomba menanam tembakau.

Buktinya, Joko Supriyadi, warga Desa Bangkal, Kecamatan Kota Sumenep, berencana menanam 600 ribu bibit tembakau di areal seluas 15 hektare pada musim tanam. Tahun lalu, dia hanya menanam 250 ribu bibit di lahan 6 hektare.
Semangat untuk menanam tembakau dalam jumlah yang lebih besar pada tahun ini karena tahun lalu Joko meraih untung cukup besar. Nah, gara-gara bagusnya harga tembakau tahun lalu itu, gairah petani untuk menanam tembakau pada musim tanam tahun ini diduga sangat tinggi.

Jika hal ini tidak segera diatasi lebih dini, dikekhawatiran kasus tahun 2005 bakal terulang kembali. Pada tahun lalu, terjadinya over produksi tembakau. Akibatnya, harga tembakau di pasaran anjlok.

Pemkab diminta segera melakukan antisipasi dini untuk mengatasi kecenderungan terjadinya kelebihan produksi tembakau pada musim tanam tahun ini. Pasalnya, masyarakat tampaknya sedang "berlomba-lomba" untuk menanam tembakau pada tahun ini gara-gara bagusnya harga tembakau pada tahun lalu. (tim)

Sumber: Jawa Pos, 21/05/2007

Lahan Meningkat, Pembelian Cenderung Turun

Semangat yang tinggi dari petani untuk menanam tembakau, justru dikhawatirkan bertolak belakang dengan kebutuhan pihak pabrikan. Sebab, berdasarkan proyeksi tembakau tahun 2007, luas areal lahan di Pamekasan diperkirakan mencapai 31.367 hektare atau meningkat 549 hektare dibanding tahun 2006 yang mencapai 30.818 hektare. Sedangkan produksinya, tahun 2007 diperkirakan mencapai 18.802, 2 ton, naik dari tahun 2006 yang mencapai 17.947 ton.

Sementara rencana pembelian tembakau tahun 2007 oleh pabrikan justru cenderung mengalami penurunan. Mengutip Data Dinas Kehutanan Dan Perkebunan (Dishutbun) Pamekasan, rencana pembelian tembakau tahun 2007 hanya 15.925 ton. Padahal, produksi tembakau diperkirakan mencapai 18.802,2 ton.

Hal itu didasarkan pada hasil kunjungan kerja di sejumlah pabrikan besar pada tanggal 11 sampai dengan 15 Maret 2007 lalu. Berdasarkan hasil kunjungan itu, tercatat rencana pembelian tembakau 2007 hanya 15.925 ton. Rinciannya, PT Djarum 1.750 ton, PT Gudang Garam (GG) 5.000 ton, PT Sampoerna 4.000 ton, PT Bentoel 1.500 ton dan lain-lain 3.675 ton.

Kepala Dishutbun Pamekasan, Ir M. Zainal Arifin, membenarkan, berdasarkan hasil kunjungan kerja pabrikan ada kecenderungan penurunan rencana pembelian tembakau. "Kalau realisasi pembelian tahun 2007 dari pabrik-pabrik besar tidak ada perubahan, dikuatirkan ada over produksi tembakau pada musim panen 2007 mendatang," ujarnya.

Atas dasar itulah, dishutbun mengimbau agar warga benar-benar memperhatikan seluruh teknik budidaya yang baik dan benar. Termasuk, imbauan penting lainnya. Misalnya, warga diminta menunda waktu tanam jika masih turun hujan, tidak menanam di lahan non potensial, tidak memperluas areal tanaman, menanam varietas yang dianjurkan, pemupukan sesuai anjuran, penyiraman tidak berlebihan, dan sebagainya. "Termasuk, nanti jangan panen muda, tidak mencampur tembakau dan sebagainya. Intinya, warga agar tetap menjaga kualitas tembakaunya," imbau Zainal.

Mengenai proyeksi mutu tembakau, jelas Zainal, pihaknya tetap optimistis akan sangat bagus. Sebab, tembakau dari Madura, khususnya dari Pamekasan, memiliki corak yang khas dan sangat diperlukan pabrikan. (akhmadi yasid)

Sumber: Jawa Pos, 21/05/2007

SMKN 1 Sampang Hadapi Informasi Global

Dirikan ICT dan TV Edukasi, Gandeng Poltek Unibraw Malang

Pesatnya kemajuan teknologi informasi komunikasi atau information and communication technology (ICT) di segala sektor, berimbas pada perubahan dunia kerja bisnis, industri, perdagangan, dan pemerintah. Lalu, apa saja persiapan SMKN sebagai sekolah kejuruan berbasis ilmu pengetahuan dan industri?

Untuk merealisasikan penyebaran jaringan pendidikan nasional (jardiknas) melalui program teknologi informasi komunikasi, SMKN 1 Sampang mencanangkan program ICT. Termasuk, mendirikan antena relay siaran televisi pendidikan atau TV-Edukasi.

Gelaran pendidikan dan pelatihan (diklat) ICT tersebut dilakukan kemarin dan dibuka Kadis P dan K Sampang Drs H Moh. Syahid. Tampak hadir Sekretaris Komisi D DPRD Sampang Khairul Anam LC.

Kepala SMKN 1 Sampang, Drs Mohamad Ghazali, melalui Steering Commite, Mukhlish Taufiqurrahman, S.Pd, mengatakan, ICT Center merupakan program Depdiknas RI yang menjadi ujung tombak penyebaran informasi jardiknas di kabupaten/kota yang menggunakan sistem wide area network (WAN). "Khusus di Madura, sekolah yang direkomendasi pemerintah mengelola program ini adalah SMKN 1 Sampang," ujarnya.

Untuk mendukung program ITC tersebut, manajeman SMKN 1 Sampang menggelar diklat teknisi ICT mulai kemarin hingga besok. Peserta diklat berjumlah 20 orang dan berasal dari 9 sekolah yang terpilih sebagai client ICT Sampang. Sedangkan instrukturnya berasal dari ICT Sidoarjo. "Dalam diklat ini, kami juga melibatkan 10 orang mahasiswa D3 Poltek Komputer Jaringan Universitas Negeri Brawijaya (Unibraw) Malang," jelasnya.

Selain meningkatkan kualitas SDM masing-masing klien ICT, tujuan dari diklat tersebut adalah untuk mengoneksikan 9 operator atau klien yang didelegasikan 9 sekolah dengan ICT Center yang ada di SMKN 1 Sampang. Sehingga, nantinya, beragam bentuk informasi pendidikan pemerintah bisa langsung diakses masing-masing sekolah anggota ICT Sampang.

Selama ini, terang Mukhlish, layanan informasi terbaru tentang masalah pendidikan kurang maksimal dan tidak sepenuhnya diterima oleh sekolah dan masyarakat. "Akibatnya, perkembangan dan kemajuan sekolah di Sampang menjadi terhambat," ungkapnya.

Sedangkan pendirian stasiun relay TV Edukasi juga diharapkan bisa menjadi pusat layanan informasi pendidikan bagi sekolah, masyarakat, dan industri di Sampang. Termasuk, sebagai sarana pembelajaran guna meningkatkan kualitas sekolah kejuruan, serta menjadi pusat interkoneksi intranet dan internet di setiap sekolah atau kantor.

"TV Edukasi ini juga bertujuan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang kompetensinya berskala nasional dan internasional. Tapi, pengetahuan yang mereka miliki juga tetap berbasis pada keunggulan pengetahuan local," imbuh guru Bahasa Inggris yang sedang melanjutkan jenjang pendidikannya ke program pasca sarjana Unibraw Malang ini mantap.

Selain program ICT dan TV Edukasi, SMKN 1 Sampang juga memiliki progam school mapping. Progam pemetaan data pendidikan dalam bentuk website tersebut, bertujuan untuk menciptakan efisiensi dan mobilitas penyediaan data sekolah, profil sekolah, data guru dan siswa yang ada di Kabupaten Sampang. Termasuk, mengetahui jumlah guru yang pensiun.

Sementara Kadis P dan K Sampang Drs H Moh. Syahid berharap, diklat ICT tersebut nantinya bisa meningkatkan SDM teknisi operasional yang handal di masing-masing klien ICT Sampang. Sehingga, pemanfaatan sarana informasi pendidikan tersebut bisa mempercepat pengembangan dan kemajuan sekolah di Kabupaten Sampang.

Sementara untuk membantu suksesnya program ICT yang dikelola SMKN 1 Sampang, dinas P dan K berjanji akan membantu 40 unit komputer. "Karena keberadaan komputer merupakan salah satu piranti yang paling dibutuhkan, tahun anggaran 2008 mendatang kami akan mengajukan bantuan 40 unit komputer," ujarnya.

Sebelum meresmikan ICT dan TV Edukasi, Syahid yang didampingi Khairul Anam berharap, ke depan SMKN 1 Sampang bisa mengubah penampilan dan performannya di mata publik. "Sehingga, seiring perubahan positif yang sedang dilakukan, bisa diikuti pula dengan kemajuan prestasi," tandasnya. (TAUFIQ RIZQON)

Sumber: Jawa Pos, 21/04/2007

Saturday, May 19, 2007

Diminta Kembali ke Alam

Para petani di lingkungan Pamekasan, diminta kembali ke alam dalam menggunakan pupuk. Pasalnya, menggunakan pupuk yang diolah lewat proses kimia menjadi pupuk non organik, lambat laun bisa merusak konservasi tanah pada beberapa tahun kemudian. Apalagi, kesuburan tanah berkurang sampai akhirnya tanah tidak produktif lagi.

Komentar tersebut disampaikan Ketua Kelompok Tani Gunung Lanceng Saiful Wahdi di Desa Duko Temor, Kecamatan Larangan kemarin. Dikatakan, kesuksesan pupuk organik dinilai nyata hasilnya yang tercermin dalam dalam panen raya kemarin. Di hadapan rombongan pemkab dan masyarakat Larangan, Wahdi menilai ada eskalasi antara menggunakan pupuk organik dengan non organik. "Hamparan padi yang tak lama lagi akan dipanen ini, menggunakan pupuk organik," katanya sambil mempersilakan undangan melihat-lihat hamparan padi di sekitar lokasi acara panen raya kemarin.

Dia menambahkan, dalam hal menggunakan pupuk organik dan gerakan kembali ke alam, masyarakat Duko Temor, Larangan menggandeng pihak ketiga dari Solo Jateng. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, katanya, padi yang berada dalam binaannya dipantau langsung oleh tenaga ahli dari luar negeri.

Itu, katanya, setelah beberapa petani asal Larangan dilatih secara khusus agar tanaman padi tumbuh subur dan tidak memiliki efek samping bagi konsnervasi tanah. "Bisa disaksikan, padi dengan organik lebih padat dan berisi," pungkasnya.

Sementara Bupati Pamekasan Ach. Syafii saat sambutan mengatakan, gerakan sadar lingkungan dan kembali ke alam tanpa merusak ekosistem, diakui cukup gencar. Itu, katanya, tak hanya terjadi di sebagian kelompok tani di Pamekasan. Tetapi di daerah lain, hal sama terjadi sebagai sikap ramah penduduk kepada alam sekitarnya.

Menurut bupati, ramah kepada lingkungan tidak saja menggunakan pupuk norganik. Tetapi, melestarikan alam diakuinya cukup penting. Terutama, menanam kembali tanah lapang atau hutan gundul dengan pohon yang bermanfaat. Baik bermanfaat untuk diambil buahnya maupun berguna untuk kelestarian lingkungan dan menjadi resapan air untuk menahan banjir. "Saatnya melestarikan alam dan lingkungan agar lebih bermanfaat," paparnya.

Hadir dalam panen raya ini antara lain Wabup Kadarisman Sastrodiwirjo, Sekkab Djamaludin Karim, dan pihak terkait di lingkungan Pemkab Pamekasan. Hadir juga rombongan dari Kecamatan Larangan yang dipimpin Camat Fathorrasyid dan para petani di Desa Duko Temor. Selain itu, panen raya ini dimeriahkan oleh tari-tarian adat yang menggambarkan digelarnya panen untuk tanaman yang sudah siap dipetik hasilnya. (abe)

Sumber: Jawa Pos, 18 Apr 2007

Pengrajin Odeng Yang Masih Tersisa

Kualitas Bagus Bikinnya Sulit, Harganya Bisa Rp 2,5 Juta

Tak banyak pengrajin odeng yang masih menekuni pekerjaannya. Salah satunya adalah Saluki, warga Kota Bangkalan, yang masih bertahan. Lalu, siapa saja yang beli?

Sepintas, dilihat dari bahan dan pengerjaannya, sebuah odeng atau ikat kepala khas Madura adalah sebuah barang murah. Tapi, meski hanya dibuat dari selembar kain batik kecil, harga sebuah odeng bisa mencapai Rp 2,5 juta.

Apalagi, saat ini sangat jarang tenaga yang bisa membuat odeng dengan kualitas tinggi. Dengan tetap mempertahankan nilai estetika dan bentuk asli, sesuai dengan bentuk kepala pemakai dan bentuknya tahan lama.

Menurut Saluki, dahulu, memakai odeng bagi orang Madura adalah sebuah kebanggaan. Dan, odeng juga menujukkan strata sosial si pemakai. Selain itu, odeng juga menjadi ciri khas atau tanda pengenal dari si pemakai.

Karena itulah, kemudian odeng dikenal dengan beberapa bentuk. Antara lain, odeng santabân, tomgkosan, maupun tongkosan klèbun. Odeng yang biasa dipakai kaum bangsawan adalah yang bagian taasnya tertutup. "Sedangkan yang terbuka dan lebih mirip ikat kepala, biasa dipakai oleh masyarakat kebanyakan," terang Saluki.

Sekarang, odeng hanya dipakai dalam upacara-upacara adat. Padahal, kata Saluki, odeng ada yang berharga sangat mahal dan menambah gengsi pemakainya. "Kalau yang biasa, harganya hanya Rp 80 ribu. Tapi, yang berkualitas bagus dengan pesanan khusus, harganya bisa mencapai Rp 2,5 juta," kata Saluki.

Bagi beberapa kalangan, odeng tak hanya menjadi penghias kepala. Tetapi juga bisa menjadi senjata dan dipercaya dijadikan jimat.

Dikatakan, odeng dengan kualitas bagus, tidak mudah didapat karena memang tidak dijual di sembarang toko kerajinan. Kebanyakan, odeng tersebut dipesan dan ukurannya disesuaikan dengan ukuran kepala si pemesan. "Kalau warnanya, hampir semua odeng batiknya berwarna merah. Karea itu memang warna khas odeng. Kalau warna lain, kebanyakan hanya untuk tongkosan," terangnya. Tapi, sambungnya, odeng biasa dan bagus, mudah dibedakan bagi orang yang memahami odeng.

Proses pembuatan odeng memang sedikit sulit dan memakan waktu. Untuk membuat sebuah odeng yang bagus, dibutuhkan waktu hingga 2 hari. Mulai dari pencucian kain batik khusus odeng, pengeringan, pengkanjian, pembentukan, hingga proses akhir. Selintas, gampang sekali menyulap selembar kain jadi odeng Tapi, ternyata dibutuhkan ketelitian dan keahlian khusus yang tak semua orang bisa. "Paling cepat, sehari satu odeng. Kalau cuma odeng biasa, sehari bisa banyak, karena tidak perlu terlalu teliti," ujar Saluki.
Dia banyak mendapat pesanan odeng dari pejabat dan Pemerintah Kabupaaten Bangkalan, untuk diberikan pada tamu-tamu kehormatan atau pejabat negara. "Di sini, Tresna Art (nama galeri seni, Red), kalau ada tamu penting datang sering dapat pesanan odeng. Sebab, sangat pantas jika tamu dihadiahi odeng yang bagus. Selain memang khas Madura, sekarang sudah jarang orang yang bisa membuat odeng kualitas nomor satu. Jadi, cinderamata odeng menjadi istimewa dan tidak akan ada di daerah lain, selain di Madura," pungkasnya.( RISANG BIMA WIJAYA)

Sumber: Jawa Pos, Jumat, 20 Apr 2007

Tanggul Jebol Pesisir Lajing Makin Parah

Areal Persawahan dan Tambak Warga Terancam

Kerusakan lahan pertanian dan tambak di Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan makin parah saja. Tanggul dan tangkis yang dibuat seadanya oleh warga setempat, jebol dihantam ombak saat cuaca buruk pertengahan tahun lalu.

Bencana terus mengancam mata pencaharian warga Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya dan sekitarnya. Pasalnya, ancaman abrasi pantai setiap saat menghantuinya. Bagaimana tidak, tanggul dan tangkis pantai yang dibuat swadaya oleh warga setempat kini sudah tak berbekas. Hantaman ombak membuat benteng terakhir dari areal persawahan dan tambak warga itu lambat laun tercerabut.

Kalau beberapa bulan lalu itu kerusakan lahan pertanian dan tambak warga Desa lajing dan seitarnya mencapai ratusan hektare, saat ini kerusakan sudah boleh dibilang tak terukur. Sejak sepekan terakhir, laut di pesisir barat Pulau Madura ini kembali menggelora. Bahkan, ombak mencapai ketinggian tiga meter.

Menurut kaca mata warga Lajing, tangkis laut yang kokoh akan menyelamatkan mata pencaharian ratusan keluarga di Lajing yang menggantungkan hidup dari bertani dan menggarap tambak. Padahal, kini sudah ratusan hektare sawah dan tambak rusak parah. Tentu saja, itu semua akibat jebolnya tangkis dan abrasi laut. Tangkis laut dan tanggul-tanggul penahan ombak yang ada sudah jebol, mengakibatkan air laut masuk menggenangi sawah dan tambak penduduk.

Karena itu, angin sorga yang sempat dihembiskan anggota DPRD Jatim untuk membantu membangun tangkis laut di pesisir Desa Lajing, sangat disambut antusias oleh warga setempat. "Meski pun belum direalisasi, janji itu sudah merupakan harapan besar bagi kami," kata Juhari.
Kepala Desa Lajing ini mengatakan bahwa pihaknya sempat patah arang. Itu, karena usulannya ke Pemkab Bangkalan ataupun yang disampaikan lewat DPRD Bangkalan, tak pernah ada tanggapan "Kalau yang namanya proposal sudah tumpukan. Sejak tanggul belum jebol, kita sudah meminta pada pemerintah dan dewan di Bangkalan, untuk dibangun tangkis laut di Lajing. Tapi, nihil," tukas Juhari.

Padahal, sambungnya, kerusakan lahan pertanian dan tambak di Desa Lajing sudah sangat parah dan terus meluas. "Dua minggu lalu, Lajing dijanjikan oleh Bu Fatimah Hafidz (anggota DPRD Jatim, Red) akan diperjuangkan agar mendapatkan dana untuk tangkis laut," kata Juhari.

Meskipun dengan bahasa akan diperjuangkan, menurut Juhari, hal itu oleh warga Lajing, untuk sementara sudah cukup. Daripada, usulan warga disikapi cuek. "Apalagi, Bu Fatimah bersedia turun langsung ke Lajing untuk mendengar langsung aspirasi warga. Daripada dewan di Bangkalan yang tidak pernah datang dan memperhatikan aspirasi kami," kata Juhari gondok.

Jika janji tersebut bisa dipenuhi oleh Fatimah, dia dan warga Desa Lajing berjanji untuk memberikan balasan dan dukungan kepada kader PDIP tersebut. "Yang pasti, warga Lanjing tidak akan melupakan bantuan Bu Fatimah," tegas Juhari.
Sementara anggota DPRD Jatim dari daerah pemilihan X, Hj RA Fatmah Hafidz sempat mengatakan, janjinya tersebut akan diperjuangkan untuk ditetapi dengan berbagi upaya. "Saya sebelumnya sudah datang ke Bangkalan, Socah, Arosbaya, Tanah Merah, Labang dan lain-lain. Alhamdulilah, aspirasi masyarakat yang telah memilih dan mendudukkan saya di DPRD Jatim, bisa kami wujudkan," kata Fatimah.
Tidak hanya fisik, sambungnya, bantuan pemerintah untuk sarana pendidikan, kesehatan, dan pengadaan lapangan kerja juga bisa disalurkan dengan tepat, setelah dilakukan jaring aspirasi. "Insya Allah, beberapa aspirasi warga yang disampaikan kepada saya, akan saya perjuangkan. Dan mudah-mudahan bisa diwujudkan," tutur Fatimah. (RISANG BIMA WIJAYA)

Sumber: Jawa Pos, 12 Mei 2007